Mommy Mandiri

Ada nih beberapa orang yang ngeliat aku ini terlalu mandiri, nggak ada sedikit pun cewek-ceweknya. Artinya manja apa merluin siapa untuk menolong, atau kodrat laen yang biasanya nempel pada cewek. Mungkin juga ini terjadi karena pola asuh yang aku terima dari ortu. Mereka nggak pengen aku tergantung sama orang, mentang-mentang anak perempuan satu-satunya. Jadilah aku dididik sama seperti ketiga adeku, termasuk dalam mengendarai mobil plus merawatnya.

Manfaatnya sangat terasa kalo suami dinas luar kota. Kadang-kadang sampai lima hari, seperti kali ini. Nah, entah kecapean latihan nari ato memang udara yang nggak enak, dia drop pas bapaknya ke luar kota. Wah, ngenes juga liat dia muntah-muntah waktu mau tidur. Sesudah dibalurin minyak kayu putih dia tidur nyenyak. Tengah malem bangun, langsung muntah. Aku udah mulai deg-degan, apalagi suhu tubuhnya naik. Akhirnya aku mintakan izin supaya hari Jumat dia nggak masuk sekolah. Pikirku, biar istirahat dulu aja. Tapi, panasnya nggak turun-turun. Alhasil aku bawa dia ke dokter sekitar pk 16.00. Singkat cerita dia semakin membaik, dan Sabtu udah bisa sekolah.

Aku ngebayangin kalo nggak bisa nyetir, pas anak sakit, gimana? Ada taksi sih, tapi nggak bebas kan di taksi? Misalnya kalo dia muntah di mobil? Mau pake becak tambah muskil lagi. Itu soal ketrampilan. Soal jiwa mandiri laen lagi. Aku sih jarang tuh ngelokro kalo ngadepin kesulitan begini, anak sakit pas misua ke luar kota. Langsung aja susun plan, ke dokter, terus dokternya yang mana, lalu makan minumnya gimana, dll. Pernah sih kepikir enak juga kalo ada yang ngedampingin, tapi lama-lama malah kerasa ribetnya en ngeribetin orang laen. Kerjain aja sendiri, beres, he…he…he…! Saking mandirinya aku suka lupa sms ke misua kalo anaknya sakit. Selaen memang lupa, aku nggak pengen juga dia bingung pas rapat di sana. Biasanya aku sms kalo keadaan sudah aman dan terkendali, hmm!?!

Pikir-pikir aku kayak istrinya tentara deh, semua musti bisa ditanggulangi pas komandan pergi. Andaikata dulu aku dimanja dan nggak dibiasain mandiri, bisa kayak apa ya? Jangan-jangan orang ketemu aku langsung jinjo karena selalu minta tolong, ha….ha…ha…! Syukurlah aku nggak kayak gitu, walaupun perlu juga sekali-sekali nerima perhatian dan pertolongan orang lain, biar merasakan kalo kita ini perlu orang lain juga.

Kenangan 2 tahun lalu

Kehadirannya dalam keluarga kami tunggu-tunggu. Setelah empat tahun, akhirnya ia datang juga! Anak semata wayang ini betul-betul fast learner. Bayangkan, ia sudah bisa mengucapkan kata-kata sejak usia 8 bulan.

Kemampuannya dalam bidang bahasa sungguh luar biasa, tetapi di bidang olahraga…., butuh kesabaran! Karena gangguan asmanya, kami sepakat untuk memotivasinya agar menyukai renang. Mula-mula dengan membelikannya kolam renang dari plastik, lalu renang di kolam anak-anak, sampai mulai mau renang bersama saya di kolam dewasa.

Semakin besar, tentulah diupayakan untuk renang dengan cara yang benar. Karena itulah Jessie kami ikutkan kelas renang. Mula-mula sih ia senang, merasa kemampuannya bertambah dan bisa membanggakannya kepada kakek neneknya. Masalah muncul waktu ia sampai di tahap mengambil napas dalam renang gaya bebas. Nangis di kolam renang bukan sekali dua kali, sampai-sampai gurunya hanya bisa menggendongnya di samping mengajar teman-temannya. Kalau sampai waktunya les renang, berbagai alasan muncul supaya akhirnya ia tidak perlu les. Lain kali kalau pergi lesnya lancar-lancar, sampai di kolam renang langsung muntah.

Sebagai ibu, tidak tega rasanya melihat anaknya stress seperti itu. Hanya karena inilah satu-satunya cara supaya asmanya sembuh, saya menguatkan hati setiap kali bentuk stresnya muncul. Segala daya saya kerahkan supaya ia mau les setiap minggu, dari memberi semangat sampai janji bermain di tempat kesukaannya setelah selesai renang. Berbulan-bulan kami mengalami up and down dalam les renang. Berkali-kali saya hampir menyerah karena merasa tidak ada gunanya menunggui anak les renang kalau hasilnya hanya tangisan dan muntah. Syukurlah tekad melihat anak ini mandiri, sehat dan punya semangat juang memampukan saya bertahan menjalani masa-masa tak enak itu.

Di tempat lesnya banyak anak baru dan juga mengalami hal yang serupa. Rupanya ini menjadi pemicu baginya untuk menunjukkan kalau dirinya sekarang sudah bisa. Sekarang ia sangat menyukai renang. Sekalipun teman akrabnya tak mau renang, ia tetap pergi les. Sekalipun hujan, asalkan gurunya ada di kolam renang, ia pasti bersikeras ingin renang. Lega rasanya berjalan bersamanya mengatasi rintangan berat dalam hidupnya.

PS: Tulisan di atas pernah aku kirimkan ke salah satu lomba ibu dan anak. Kemarin, waktu antar Jessie les, ada anak laki-laki usia 6 tahun yang baru belajar renang, nangis-nangis juga. Teringat kenangan 2 tahun lalu saat Jessie mulai belajar renang.

Go Blog

Perkembangan teknologi memang luar biasa. Tanpa sadar orang terhanyut olehnya, dan mau tidak mau harus bertahan terhadap gempuran ombak teknologi.

Salah satu yang dampaknya lumayan besar adalah hadirnya blog. Kayaknya kuno banget deh kalo zaman sekarang nggak kenal blog. Aku sendiri tadinya juga nggak tau, sampe tiba-tiba sekitar dua taon lalu misua mulai ngomongin blog melulu di rumah. Kan pengeng juga, akhirnya terdorong untuk ngutak-ngatik media ini.

Perubahan paling mendasar dengan kehadiran blog ini aku rasa adalah pada pemformulasian pikiran. Percaya kan kalo di Indo tuh orang lebih percaya pada kupingnya daripada matanya. Nggak percaya? Coba aja tanya sama bus kota mania. Udah tahu ada papan jalur bis di bagian atas, yang bisa dibaca. Begitu bus nya perlahan-lahan mendekat, ditanya, “Lewat Malioboro?” Kalo kondekturnya berteriak-teriak, “Sik..sik..sik…, ana sing meh melu…!” Nah, naiklah si penumpang ini dengan penuh keyakinan. Padahal jelas-jelas papannya bertuliskan nama Malioboro yang terbaca jelas.

Ngeblog juga gitu, perlahan-lahan orang diajak untuk mencurahkan isi hatinya melalui tulisan. Perlahan-lahan orang digeser dari budaya bicara kepada budaya menulis. Banyak deh sekarang penulis-penulis blog yang karyanya dibukukan. Terbuka deh kemungkinan lahirnya penulis besar zaman revolusi teknologi yang mungkin dapat disejajarkan dengan pujangga-pujangga Indonesia jadul.

Ada teman blogger yang baru mulai ngeblog. Gaya bahasanya nyenengin, seger dan sedikit narsis. Salut juga ama dia, yang di tengah berbagai kesibukannya masih ngeblog. Nah, generasi muda kayak gini kan menimba banyak manfaat dari ngeblog. Pasti lancar nanti pas bikin skripsi karena udah terbiasa nulis. Yang nggak boleh lupa, dib log tuh sah-sah aja mau narsis dikit, wong namanya juga diary online. Tiap blog punya penggemarnya sendiri-sendiri, jadi ada gunanya mencurahkan isi hati tanpa mengabaikan undang-undang IT yang baru keluar. Ngenes deh kalo gara-gara ngeblog kita icip-icip melihat dunia dari balik jeruji. Nggak banget deh.

So, let’s blogging. Go blog, pake spasi lho…, bukan goblog tanpa spasi! Ha…ha…ha…

Genap Seminggu

Seminggu lalu, Jessie memulai hari pertamanya di kelas 3 SD. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini yang baru hanya blus seragam putihnya, secara yang dua taon lalu udah butek bener warnanya. Kalo ada kategori warna putih tua, mungkin itulah warnanya, ha…ha…ha…! Tas, sepatu, peralatan tulis menulis, semuanya masih seperti yang dulu.

Yang aku kagum pada Jessie adalah semangatnya. Berhari-hari sebelum ia bertanya-tanya siapa teman-temannya dan siapa gurunya. Kalau aku sih selalu mengeluarkan metode yang sama yaitu mempersiapkan Jessie seolah-olah di kelas itu tak ada yang dikenalnya, supaya dia nggak kaget kalo memang itu yang terjadi. Lalu aku juga ngajarin supaya nggak milih-milih guru. Semua guru pasti udah dibekali dengan pengajaran standar, hanya gimana si anak mengoptimalkan kelebihan gurunya aja.

Hari pertama sampai ketiga, dia pulang pk 09.00, karena masih tahap perkenalan. Ternyata Jessie diajar lagi oleh guru laki-laki. Aku senang, jadi ada imbangan dengan polaku mengajar di rumah. Kan aku dominan banget ngajarin dia ini itu. Lalu kawan-kawannya juga bervariasi, campur dari kelas-kelas laen. Ada yang udah pernah, ada yang belum pernah.

Langkah penting yang aku tanamkan di dalam diriku adalah mengajarkannya kemandirian. Salah satunya memberdayakan dia supaya mampu menyampul sendiri buku-buku pelajarannya, terutama buku yang tebel-tebel. Biasanya aku nggak sabaran, akhirnya aku yang sampulin semua. Tahun ini aku bertekad supaya lebih membiarkan dia berkarya sendiri.

Aku juga mulai membiasakannya belajar di sore hari, karena materi kelas 3 nggak seenteng materi kelas 2. Banyak hal yang butuh pengendapan, baru bisa dipahami. Mula-mula sih dia nolak abis, karena biasanya dia belajar di pagi hari. Tapi setelah aku jelaskan, Jessie mau ngerti kalo porsi belajarnya musti ditambah. Jadi sore ngulang sebentar pelajaran hari ini, besok pagi nyiapin pelajaran buat hari yang akan dijalani.

Beberapa hari lalu ia kepengen jadi ketua kelas. Aku sih santai aja, aku bilang enakan jadi warga kelas biasa, jadi nggak terbuang waktu belajarnya. Jiwa kompetitornya yang tinggi rupanya agak menyulitkannya melihat hal ini. Emang dasarnya anaknya suka berpartisipasi, jadi kali dia nggak tahan kalo di kelas dia nggak punya peran. Nurun aku apa bapaknya ya? Ha....ha...ha...

Untuk menghindari kejenuhan, aku memperbolehkannya ikut lomba langen carita alias operet Jawa bersama teman-temannya di sanggar tarinya. Lakonnya lucu-lucuan, tapi digarap secara kolosal, jadi memperluas pergaulannya.

Hari ini, aku lihat semangat belajarnya terus tinggi. Tiap pagi dia ngebayangin hal-hal menyenangkan yang akan dijumpainya di sekolah, termasuk acara piket kelas. Semoga aja begitu terus di tahun ini. Yah, belajar itu habit, gampang melencengnya kalo nggak betul- betul dijaga. Apalagi buat anak seperti Jessie yang gampang teralihkan perhatiannya. Musti dicontohin berulang-ulang kalo belajar itu habit.

Naik Dingklik

Setelah atur sana, atur sini, hari ini aku bisa deh nyuci semua underwear. Lega juga tuh Jessie pulangnya siang (pk 12.30), jadi aku bisa menuntaskan pekerjaan rumah atau orderan, sebelum dia pulang sekolah.

Mencuci underwear kujalani dengan ringan sambil mendengarkan siaran radio. Nah, waktu semua udah masuk ke mesin pengering, mulai ada yang aneh. Pertama, ada bau menyengat yang rasa-rasanya kayak bau daun busuk. Aneh banget kan, mesin cuci koq bisa ngeluarin bau kayak gitu. Perasaanku tambah nggak enak, waktu mesin aku jalanin ternyata nggak ada air perasan baju yang keluar. Padahal biasanya banyak tuh, karena aku merasnya nggak kuat-kuat. Biarlah mesin melakukan pekerjaan mesin.

Tiba-tiba ada item-item bergerak yang keluar dari selang. Hiiiii…., langsung aku lari. Pertama sih aku lari menjauhi objek ketakutanku itu. Tapi terus muncul naluri mempertahankan diriku. Aku ambil gagang pel yang dari besi, aku kejar tuh tikus. Anehnya, yang keluar dari selang dua, tapi yang lari kea rah pintu garasi koq cuman satu? Pikirku, paling-paling lari ke tempat laen pas aku ngejer yang satu.

Begitu semua baju udah dijemur, tiba-tiba aku pengen ngegorojok aer seember ke dalam mesin pengering. Alamak! Begitu air masuk, keluarlah semua daun dan kantong plastic hitam. Aku langsung deh kali ini manjat dingklik, yang biasanya aku pake buat duduk saat menyikat baju. Buset dah, banyak bener tuh kotoran di dalam mesin? Akhirnya sampe 3 ember baru bersih.

Aku tetep aja nggak puas. Kebetulan Khun nyimpen brosur tukang servis. Langsung aku telepon. Begitu mesin dibuka, bener aja…..tuh tikus masih ada satu di dalam mesin!!!! Hiiii…., akhirnya sama si bapak tukang servis dijepit pake tang terus dibuang. Nah, bagian ini yang susah, di bawah tabung pengering itulah sarang si tikus! Nggak rugi manggil tukang servis. Dibuka semua sama dia, dibersihin deh mesin cuci itu. Dari bawah tabung banyak banget kotorannya. Pantesan kalo nyuci tuh idungku nggak nyaman banget, kayak bau-bau gimana gitu. Hih, ada-ada aja!

Praktek

Minggu kemarin akhirnya aku punya waktu untuk praktekin buku resep kue yang pernah aku review di sini.

Kenapa aku mau repot-repot praktek? Supaya aku punya lebih banyak pengalaman. Selama ini kan kue mengue bukan bidangku, atau aku lebih sebagai penggemar kue daripada bikin. Abis, dulu aku pernah coba bikin bolu sederhana, di oven bagus ngembangnya, abis dikeluarin mimpes, jadi deh aku kapok. Tapi, alat-alat kue kayak loyang, mixer, dkk nya aku punya, jadi kenapa nggak coba lagi aja?

Dengan semangat 45 aku dan Jessie praktek. Deg-degan juga waktu nyampur bahannya satu demi satu, takutnya rasanya kurang pas ato yang nanti gosong dan seribu kekuatiran laennya. Jessie sih nggak aku kasih tau kekuatiranku ini, nanti dia nggak enjoy lagi. Dia paling demen waktu membuat buletan-buletan kuenya, mungkin pikirnya kayak maen malam kali yak? Kalo megang mixer dia seneng, tapi begitu tepungnya masuk semua terus dia keberatan, ha…ha…ha…
Singkat kata, tuh katetong jadi! Wah, senengnya…., ini kali pertama aku bikin kue dan jadi. Bikinan kali ini bener-bener aku nggak mau beli-beli, termasuk beli timbangan kue, jadi aku pake gelas taker yang ada di rumah. Jadi semua make bahan yang ada di rumah, secara bukunya juga bikin resep dengan bahan yang emang hampir selalu tersedia di rumah. Aku hanya beli vanili bubuk dan kuas mentega. Waktu tadi aku ketemu temen-temen di sekolah aku kasih coba beberapa.

Ada yang komentar suruh aku kasih sedikit campuran maizena, supaya waktu udah kering kuenya nggak keras. Ada juga yang nyaranin supaya vanilinya jangan ½ sdt, dikit aja, jadi keunya nggak pahit waktu tertelan ke kerongkongan. Ada yang bilang manisnya udah pas.

Asyik deh, kalo laper pas kerja ada camilan, sambil minum kopi dan memandang indahnya malam.

Laste

Dua hari terakhir liburan Jessie ini diisi dengan banyak kesibukan. Justru menjelang liburannya abis, baru muncul berbagai ide.


Pertama, dia mau memberi variasi pada baju boneka tangannya. Minta diajarin jahit bis untuk lengan kanannya. Jadilah, abis makan malam aku ngeluarin peralatan jahit sederhana. Mulai dari memasukkan jarum, lalu gimana bikin bis nya, terus gimana nempelinnya ke boneka tangan itu. Susah sekali buat Jessie masukin benang ke jarum. Tapi begitu disemangatin dan diceritain masa kecilku yang pernah menang lomba masukin benang, langsung deh jiwa kompetitornya muncul, he…he…he… . Tiga kali masih minta bantuan. Kali keempat dan seterusnya udah jalan sendiri. Abis masang bis, jarum dan benang nggak mau dilepasin, semua kain perca dijahit-jahit ama dia. Ada yang di’tulisin’ namanya, ada yang dibikin hiasan rumput. Pokoknya meja makan amburadul, penuh kain perca dan proyek jahitan Jessie. Aku sama papinya geli sendiri, ngeliat anak kami mendapat mainan baru. Jari-jarinya itu loh, bikin gemes: ramping-ramping dan lentik. Lebih lucu lagi melihat keseriusannya menjahit.


Kedua, jalan-jalan searian. Abis liat kepastian kelasnya, kami bertiga langsung menuju Amplaz. Wah, kalo ke sini bisa makan 3-5 jam deh, saking nyamannya tuh tempat. Mau nonton Kung Fu Panda, saking tuh fil ngedidik banget. Dapet karcis yang tempat duduknya enak pk 17.30. Jadi kita makan siang dulu sambil nge-net. Asyik banget surfing 2 jam koq gratis, alias makan saing plus. Abis itu maen ke Timezone, ngeliat buku di Gramedia dan beli beberapa kebutuhan kue, aku mau praktek bikin katetong ama Jessie. Mudah-mudahan jadi, he…he…he… Terakhir baru nonton, ketawa ketiwi, sampe di rumah lagi pk 20.00, dari pk 11.30, bayangin!


Ketiga, mencatat renungannya setiap hari. Nah yang ini agak mengejutkan aku. Dia emang ngeliat aku saat teduh, tau kalo aku melakukannya rutin, tapi dia dapet ide sendiri nyatet saat teduhnya. Kalo ditanya kenapa membuat catetan, jawabnya, “Soalnya Jessie cepet lupa, jadi mau dicatet yang udah diajarin.” Aku yah manggut-manggut mendukung, asal nggak cuman keinginan sesaat aja.


Hari-hari terakhir yang sibuk dan mengasyikkan!

Tukang Bubur dkk

Beberapa hari ini aku suka beli bubur ayam yang lewat di depan rumah. Kadang-kadang butuh variasi sarapan.

Iseng-iseng aku mikirin, apa ya yang dipikirkan tukang bubur, tukang roti, tukang sampah atau tukang sayur waktu ketemu ibu-ibu yang belon rapi. Mungkin begini kali ya pikirannya:

  1. Asyik, tuh ibu manggil aku lagi, laris deh nih bubur.
  2. Eh tuh ibu manggil lagi. Koq bajunya sama ama kemaren pagi ya? Apa nggak ganti baju kemaren ini? EGP deh, yang penting bubur laku.
  3. Lhoh, ada pelanggan baru rupanya. Cuma koq yang ini pake tawar-tawar segala ya, apa dia nggak nyadar kalo harga-harga melambung tinggi?
  4. Kayaknya begini nih kalo liburan. Ibu-ibu pada belon rapi, belum mandi, masih dasteran udah beli-beli. Hm! Agak bau kecut nih, buset dah.

Geli juga sih dengan seliweran pikiran ini. Kalo bener-bener mereka mikir kayak begitu, alangkah uniknya pemandangan yang tersuguh di hadapan mereka setiap harinya. Mereka bertemu dengan para ibu yang belon siap ngadepin dunia luar, masih apa adanya. Untung-untung baju rumahnya nggak nerawang, he…he…he….! Mereka bertemu dengan para ibu di lingkungan yang paling alami, jangan-jangan belon pada sikat gigi juga, yang penting sarapan atau sayur udah kebeli. Mereka bertemu dengan para ibu yang sedang mempersiapkan diri menampilkan yang oke kepada dunia luar, kadang-kadang ada rol rambut yang nemplok di mahkotanya.

Ck, ck, ck, kalo dia punya istri, bisa buat bahan gunjingan di rumah. Kalo dia masih bujangan, bisa-bisa mikir nanti istrinya juga bakalan kayak pelanggan-pelanggan yang ditemuinya. Akibatnya, dia bisa lebih memaklumi dunia perempuan yang banyak fasetnya, atawa dia jadi kapok dan bersiap- siap nyemplung ke dunia para jomblo selamanya.

Gramed Basra

Minggu kemarin kami jalan-jalan ke Surabaya, sekalian jemput Khun. Perjalanan Kediri – Surabaya berlangsung lancar. Setengah jam setelah meluncur, Jessie langsung tertidur pulas di senderan emanya. Karena mobil mulus banget jalannya, aku baca novel sepanjang jalan, sesekali ngobrol.

Begitu nyampe Surabaya, kami langsung menuju Gramedia Basuki Rahmat. Janjian ketemu Khun di sana, sekalian mau lihat kayak apa Gramedia Surabaya yang iklannya gede-gede di Kompas.

Begitu nyampe, sopirnya papa kelewatan pintu masuknya, kayaknya deket tikungan deh. Jadi dia markir mobil di gedung Alianz. Wah, jadi deh papa dorong-dorong mama pake kursi roda ke Gramedia. Udah jalan jauh-jauh, eh tuh pintu masuk ketoko susah bener dicarinya. Dari depan toko itu seolah ketutup dinding-dinding miring. Pintu masuknya ada di sebalik dinding-dinding itu. Kalo liat arsitekturnya sih kayaknya tuh dinding buat ngalangin sinar mentari, tapi kesannya jadi sumpek dan menyusahkan pengunjung.

Udah gitu, tokonya di lantai 2! Lantai 1 untuk tempat expo alias pameran. Celakanya, eskalatornya yang ukuran 1 orang. Jadi mama turun dari kursi roda, terus aku pegangin dari belakang. Sambil aku aba-abain, dia menapakkan kakinya di escalator. Wah, bener-bener nyusahin deh eskalatornya. Kayaknya yang bikin belon sampe deh mikirin kalo gedungnya nanti bakal dikunjungin juga ama lansia or handicapped people.

Sampe di atas, Jessie kebelet pu. Cari-cari kamar mandi, ketemu juga. Cuman….. kamar mandinya bau dan flushnya payah. Jadi susah juga. Aku harus 4x flush baru beres.

Kalo fisiknya payah gitu, isinya lumayan. Banyak buku yang nggak ada di Gramed Yogya. Jadi terobati deh kekecewaanku. Model raknya juga oke, terus display buku-buku baru di meja- meja panjang juga lebih menguntungkan buat pengunjung. Tapi, kenap display neja panjang cuman untuk satu judul aja? Bagusan kayak di Gramed Sudirman or Gramed Mal Malioboro, display buku barunya sekaligus beberapa judul buku. Bagian alat tulisnya juga enak, luas dan pepak/ lengkap.

Satu yang bagus tuh, ada kantin di dalam toko buku. Jadi, andaikata pegel nih nungguin anak milih buku, kita bisa nongkrong di kantin setengah kafe itu.

Abis dari Gramedia, kita langsung ke The Duck King di Tunjungan Plaza. Wah, sip. Makan enak nih. Tapi yang lebih penting itu Jessie ketemuan ama sepupu-sepupunya. Kata iparku, begitu denger mau ketemu jie jie Jessie, makannya langsung cepet banget. Akhirnya mereka bermain bertiga di Timezone. Lucunya, sejak pulang dari Yogya liburan kemaren, Wenwen nggak mau lagi manggil mamanya “Mama”, “Kan kayak jie jie Jessie, jadi aku manggil mami aja ke mama.” Nah lho…

Pulangnya mau mampir di Ace, cari headlamp, tapi Ace yang di gedung Srijaya tutup. Ya udah, kita langsung meluncur ke Kediri. Sampe di Mojokerto makan di Depot Anda. Ayam gorengnya mana tahaannnn…, sambelnya mantep banget. Walopun berkeringat kepedesan, tetep aja lahap. Kapok lombok, kata orang.

Abis makan langsung deh meluncur balik ke Kediri.

Ujian Menyetir

Kunjungan ke tiga hari Sabtu, 28 Juni, ke Purwodadi Grobogan. Mestinya rekan pria kami yang lain yang nyetir, karena kabarnya medannya berat. Berhubung tugas pendampingannya di Yogya nggak bisa ditukar, batallah ia bersama kami pembimbingan mahasiswa.

Sebenernya sih gojag-gajeg mau berangkat, abis aku samsek nggak tau medannya. Langsung aku minta ancer-ancer jalannya. Aku telepon bengkel untuk ngecek karimun, karena feelingku koq jalanan kali ini bakalan jauh. Bayangin kalo dua ibu dan dua anak kecil sampe mengalami hambatan di tengah jalan, kan gazwat?

Betul aja, paginya waktu siap-siap ngeluarin karimun, eh dia mogok! Nggak mau distart, bunyinya ngek…ngek…ngek! Ini sih pertanda akinya abis. Akhirnya aku memberanikan diri minjem mobilnya misua. Lha, semua udah pada nunggu di sana. Akhirnya setelah suami-suami olahraga buat ngedorong karimun, kami berangkat pk 06.30. Jalanan sampe ke Klaten lancar sekali. Pk 07.10 kami nyampe di rumah rekan pendeta kami, ambil oleh-oleh langsung tancap ke Purwodadi. Waktu sampe di simpang lima yang ada rel keretanya, sempet bingung mau menempuh jalan yang mana. Abis ditunjukin sama bapak yang punya warung di pengkolan, kami langsung ambil jalan yang langsung menuju Purwodadi.

Mula-mula jalanan mulus, hanya padat dengan bus besar-besar. Lama-lama mulai mengerikan karena perbaikan jalan di mana-mana, nunggunya lama karena harus antri. Tapi, memang rencana Tuhan itu selalu membawa kebaikan. Kalau kami memakai karimun, bisa-bisa goyang dombret orang yang nggak nyetir. Jalanan patah dan lubang di jalanan nggak terlihat jelas. Tau-tau mobil bisa kejeblos begitu aja di lubang jalan, yang ternyata udah ada potongan betonnya. Kedengeran bunyi keras di bawah mobil. Untung nggak kena mesin picanto. Kedatangan kami terlambat satu jam setengah dari jadwal, karena medan jalan yang begitu berat. Dengan kemampuan stirku, pertolongan Tuhan sungguh terasa.

Pulangnya sih mulus. Atas petunjuk tuan rumah, kami lewat jalan di Kedung Ombo dan G. Kemukus. Naik turun juga sih, hanya nggak berlobang-lobang. Mulanya anak-anak kecewa karena nggak lewat jalan berlobang-lobang tadi, karena menurut mereka itu bagaikan naik arung jeram. Akhirnya anak-anak malah seneng karena mobil seolah maen sliding, syuut….syuut…, sip deh pokoknya.

Mahasiswa yang kami kunjungi ternyata punya sikap positif dalam menerima keterbatasannya. Kami mendorongnya agar memberi perhatian lebih pada daerah pedesaan, karena kondisi daerah yang lumayan jauh dan berat, walaupun cabang tetapi seperti megelola tiga gereja.

Kalau sudah begini, walaupun badan lelah bahkan pinggang gempor, tapi hati senang melihat mahasiswa enjoy di lapangan.

Baru deh ngerasain gimana jadi DPL, ‘dosen’ pembimbing lapangan. Kalo orangnya demen jalan-jalan sih ayo aja, tapi kalo orangnya biasa di belakang meja, bisa tekapok-kapok. Untung juga aku punya anak yang juga doyan jalan-jalan dan eksplor daerah baru. Kalo iseng-iseng ditanyain mau nggak ke Purwodadi Grobogan lagi, dengan mantap Jessie mengangguk-angguk sambil berujar, “Kita naek arung jeram lagi apa maen sliding, Mom?”

Sempor.... Semper

Kunjungan berikutnya ke dua kota sekaligus, karena satu jalan. Kamis pagi kami berangkat. Kali ini kami didampingi rekan pria, yang bertugas menyetir ke sana sekaligus pembimbingan akan lebih sip karena rekan kami ini pendeta. Biasanya kalo orang dikunjungi pendeta kan seneng banget, apalagi kalo sampe dikunjungi di tempat praktik lapangan.

Perjalanan ke Purworejo sih oke dan cepat, karena dekat, sekitar 60 km dari Yogya. Di tengah-tengah nyetir, pendetaku nanya gini, “Kalo kamu sampe nyetir sendiri ke sini, emangnya tau jalanan ini?” Aku kaget juga dites mendadak, untung udah ada jawabannya, “Tau Pak, kan dulu KKN di daerah Prembun, 2 bulan.” Pendetaku manggut-manggut. Mana berani kalo belon pernah nyisir daerah langsung nyetir. Kan nggak cuman sendiri, pake buntut dan buntutnya temenku juga lagi. Tapi sempet kepikir juga sih, kalo pendetaku nggak ikut, mestinya dilakoni juga, soalnya udah janji dengan pendeta di jemaat penerima mahasiswa.

Kunjungan kali ini juga melegakan karena mahasiswa kami dinilai selalu on time sehingga dapat menghadiri berbagai kegiatan dengan efektif. Perjalanan Purworejo – Purwareja Klampok yang luar biasa. Naik turun melewati bukit dan lembah. Jalanan memang nggak enak, tapi menghemat waktu satu jam, dibanding jika kami mengambil jalan memutar. Anak-anak tidur sepanjang jalan. Sampai di Purwareja Klampok sekitar pk 12.00. Setelah melakukan pembimbingan, kami bertolak kembali ke Yogyakarta pk 14.00. Anak-anak belum tidur, jadi mereka agak kaget melihat medan perjalanannya. Jessie bahkan sedikit mual. Untung ada pemandangan waduk, jadi agak terhibur sedikit.

Tuh waduk gedhe banget. Namanya Waduk Sempor. Waktu bikinnya dulu kali nenggelemin berapa puluh desa kali ya. Ternyata waduk ini yang selalu dihafalin sama anaknya rekanku, sampe dia berujar begini, “Wah, yang dihafal-hafalin anakku ada di depan mata. Ternyata emang ada ya yang dihafalin itu.” Kita semua jadi tau sekarang kalo begitu banyak hal yang dihafal di buku pelajaran belon pernah diliat sampe setua ini. Nah, tuh waduk letaknya kan terpencil banget. Adanya aja di jalan alternatif Purworejo – Purworeja Klampok. Terus dibatesin dinding tebing yang juga dibuat jalan alternatif itu. Gimana bisa nunjukin ke anak-anak kalo letaknya begitu nylempit? Padahal nih waduk dijadikan PLTA!

Waktu anak-anak mulai tenang, ketika melihat Waduk Sempor aku teringat ucapan yang sering diulang-ulang oleh salah satu pendeta: semper reformanda, yang artinya gereja yang diperbarui. Tiba-tiba aja tuh kata mampir di otak. Biasanya kan yang begituan lewat-lewat aja. Tau iya, tapi inget sih nggak. Kali ini jadi inget, he…he…he…

Kalo nggak lewat jalan alternatif itu, kali nyampe di Yogya bisa jam 10 malem. Berhubung yang nyetir jagoan dan ada jalan alternative itu, kita nyampe lagi di Yogya pk 19.00. Fuih……, jauh banget perjalanan kali ini.

Turun Lapangan

Keputusan untuk turun lapangan diambil mendadak. Boleh dikata insight, karena selama ini hanya berhubungan dengan surat kalau meminta tempat praktik untuk mahasiswa. Di zaman yang serba ngelektronik ini, sentuhan kekerabatan kami rasa tetap perlu. Alasan kedua sebenarnya adalah untuk melihat sejauh mana mahasiswa berinteraksi dengan baik di masyarakat, bukan hanya dengan komunitas gereja tetapi juga dengan masyarakat sekeliling. Yang terakhir itu yang penting adalah sebagai sarana supaya kalau ada kekurangan, mahasiswa bisa memperbaiki dan kalau sudah baik isa terus ditingkatkan sampai masa praktik berakhir. Itu sebabnya kami memilih waktu di tengah-tengah masa praktik, yang kebetulan juga bersamaan dengan liburan sekolah. Biasaa.., ibu-ibu yang turun ke lapangan mau nggak mau musti ajak buntut. Agak merepotkan sih tapi seru rasanya.

Pertama kali kami masuk Kartasura, berangkat pk 15.00 dari Yogya. Perjalanan Yogya – Kartasura lancar, karena itu tengah-tengah hari. Anak-anak yang tadinya masih malu-malu akhirnya bisa lancar dan bercanda ria di perjalanan. Untung saja rekanku punya suami yang kasih tau di mana tepatnya letak GKI Kartasura. Bayanganku sih di dekat terminalnya, nggak taunya di jalan sebelum bunderan Kartasura. Kalo tuh jalan diterus-terusin akhirnya sampe di GKI Kabangan. Oalah, it’s really a small world.

Begitu sampe gerejanya sepi. Hanya mahasiswa kami yang menunggu. Lalu langsung menuju pastori. Ternyata ada kebaktian di sana, sekaligus ultah pdtnya. Jadilah kami disuguhi nasi kuning sambil pembimbingan. Kalo begini caranya, bisa nambah nih berat badanku seminggu ini, ha…ha…ha….

Perjalanan pulang berlangsung lancar juga. Anak-anak tidur di belakang dan si mumun membawa kami kembali ke haribaan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan selamat. Hasil kunjungan juga melegakan karena mahasiswa kami ternyata bisa membawa diri dengan baik di tengah jemaat, sehingga dia bisa diterima oleh segenap anggota jemaat.