Last Visit

7 Maret lalu menjadi tanggal bersejarah bagiku, soalnya inilah kali pertama aku bertekad nyetir sendiri sampai ke Kediri. Perjalanan terjauh yang pernah aku tempuh sebelumnya waktu nengok mahasiswa pra stage di Purwodadi Grobogan.

Berbekalkan pengalaman ke sana, yang aujudubillah mengagumkannya, kami berani ke Kediri. Cuman aku bilang sama Mama kalo kami bertiga naek kereta, nanti dari Kertosono nyambung pake taksi ke Kediri. Lhah, kalo bilang beneran dari awal, bakal ditelponin saban hari, ujung-ujungnya dilarang pergi. Sori ya Mom, kali ini diboongin, ha...ha...ha...

Yogya-Solo sih biasalah, karena itu perjalanan rutin. Di Solo kami makan di bakso kalilarangan yang ada di jalan menuju timur. Mengingat lalu lintas cukup padat, kami betul-betul berdoa supaya sampai dengan selamat di Kediri. Selesai makan siang, perjalanan diteruskan, dengan tekad berenti lagi kalo nyampe Caruban, di Sederhana.

Solo sampai selepas hutan jati perjalanan aman dan nyaman. Tapi, begitu terus ke daerah Caruban, buset deh tuh jalan! Aspalnya nggak rata, lobang dalem-dalem menyebar di badan jalan. Pernah sekali pas aku lagi lari dengan gigi 5, tiba-tiba ada lubang yang cukup dalam dan aku nggak bisa menghindarinya. Terpaksa deh nyebur ke lubang itu. Abis itu kedengeran bunyi tek..tek...tek..., begitu ada tempat minggir yang cukup luas aku berhenti. Misua yang turun liat bunyi apaan tuh. Nggak taunya bemper depan kiri rada mengsle, mungkin karena guncangan keras itu. Setelah itu aku nggak lagi lari kenceng-kenceng, bisa-bisa tinggal rangkanya aja kali begitu nyampe di Kediri.

Waktu sampe di Caruban, perut masih terasa kenyang, jadi nggak berhenti lagi, tancap terus sampe ke Kediri. Keanehan terjadi waktu mau keluar Nganjuk menuju Kediri. Aku kan biasa lewat jalan itu, bisa nyasar! Nggak tau gimana ceritanya, tau-tau kami ada di jalan desa. Udah diaspal halus sih jalannya, cuman kan serem karena hari mulai gelap. Kayak orang diputer-puter. Akhirnya keluar juga ke jalan utama.

Lega banget waktu liat gerbang "Selamat Datang di Kediri". Yogya-Kediri 7 jam, lama juga. Papaku sampe bingung waktu tau aku bawa si Mumun ke Kediri. Masa tinggal 20 taon di Kediri, sering bolak-balik, nggak pernah sekali pun nyetir sampe sini. Bukan Mariani deh, kalo yang begituan gak dicoba!

Jessie tidur sepanjang jalan setelah dari Solo. Dia baru bangun waktu mau keluar dari Nganjuk. Kali enak karena rasanya sama dengan setiran yang sehari-hari diketahuinya. Sempet ngeper juga aku waktu Jessie takut ke Kediri disetirin maminya. Dia takut terjadi tabrakan. Entah kenapa dua hari menjelang keberangkatan, hatinya jadi gembira lagi dan membayangkan big adventure to Kediri.

Jadilah ini perjalanan terakhir ke timur. Entah kapan lagi bisa ke timur hanya untuk berlibur.

Mendadak Pentas

Tahun ini sungguh spesial buat sanggar tarinya Didik Nini Thowok. Untuk pertama kalinya sanggar akan merayakan hut nya dengan berpawai ria di sepanjang Malioboro, dari parkir taman Abubakar Ali sampai ke benteng Vredeburg. Itu lumayan jauh jalannya, dan pasti rame banget.

Waktu diminta jadi ketua panitia, aku menolak mentah-mentah, soalnya dunia ini kan baru aja aku geluti. Lagian, bakatku itu bukan di kepemimpinan aktif tapi di penyedia data buat sang ketua. Jadilah aku sebagai sekretaris, dengan harapan nggak usah disuruh nari karena harus standby di sekretariat.

Kawan-kawan sekelas ibu-ibu pada protes, "Jangan nggak setia kawan dong. Ayo kita nari sama-sama, kan kita yang mulai dari awal." Aku jadi nggak enak body gitu, akrena memang aku dan Lilik yang semangat ada kelas ibu-ibu. Grogi banget waktu tadi pas latihan kelas ibu-ibu disuruh tampil berempat. Waah..aku yang paling nggak bisa sendiri. Gerakan kakiku masih malang melintang, terutama goyang pinggulnya. Buset deh, keringat dingin dan anehnya...aku jadi tersenyam-senyum untuk menutupi kegugupanku.

Jadi mendadak pentas, padahal tujuanku ikut kelas tari adalah untuk olahraga sehat dan cantik. Bener deh, kelas tari itu jauh lebih melelahklan daripada aerobik. Lhah ini koq malah pentas, duh biyung....

Memori Semur

Sewaktu Jessie susah-susahnya makan, kira-kira umur 11 bulan, aku sempet nanya ke Semu caranya masak semur yang enak. Lalu, dia memebritahuku dengan sangat mendteil, sampai terbyang jelas di benakku kayak apa jadinya semur itu nanti.

Nah, Jumat kemarin aku memasakkan Jessie oseng janggel, wortel dan telur puyuh, minus cabe ijo pastinya. Lalu, hari ini setelah urusan order beres, aku cepet-cepet pulang dan mulai bikin semur. Nih cuman modal ingatan, soalnya waktu dibilangin Semu dulu, aku nggak sempet nyatet saking bingungnya Jessie jadi susah makan.

Jadilah aku mresto daging sapinya. Sambil nunggu prestoan itu, aku mengupas bawang merah yang cukup banyak dan merebus telur puyuh. Setelah itu merebus kentang. Setelah kentang empuk, telur puyuh udah siap masak, aku menggoreng bawang merahnya. Begitu harumnya menguar, langsung aku masukin daging sapi yang udah empuk itu. Kuahnya aku pake kaldu daging sapi tadi. Udah deh, beres. Tambah kecap, hadiah jemaat waktu aku kunjungan ke Purwodadi tahun lalu, tambah garam, sampe rasanya pas. Kali yang bikin nih semur yummy adalah api yang sangat kecil waktu semua bahan sudah tercampur jadi satu. Lumayan lama tuh aku ngegodognya, sampe warna telur puyuh, daging dan kentangnya jadi coklat kecap.

Yang lebih menyenangkan adalah ngeliat Jessie makan siang dengan lahap. Nggak tau karena capek tau karena semurnya enak, mudah-mudahan yang terakhir.