Showing posts with label Jessie. Show all posts
Showing posts with label Jessie. Show all posts

UM

Hari ini adalah sejarah buat Jessie. Untuk pertama kalinya dia akan berangkat ke Jakarta sendirian, menggunakan fasilitas unaccompanied minor.

Udah dari kelas 3 aku motivasi dia untuk mencoba UM, tapi waktu itu belum muncul keberaniannya. Baru awal-awal tahun ini tiba-tiba muncul keinginan itu. Jadi, waktu kapan itu ke Jakarta bareng-bareng, aku perlihatkan bagaimana harus check in, bagaimana mengukur barang-barang yang akan dimasukkan ke bagasi, bagaimana bayar airport tax dll.

Tadi, aku diminta mengisi beberapa keterangan di counter check ini Garuda, bandara Adi Sucipto. Yang harus aku beritahu itu siapa penjemputnya, nomor telepon penjemputnya. Supaya memudahkan ground staff Garuda di Jakarta nanti, aku buatkan foto adikku yang akan menjemput Jessie dan dikalungkan di lehernya Jessie. Bagus juga dibuatkan begitu, karena boarding pass Garuda sekarang kecil sekali.

Satu langkah lagi dia di dalam kemandiriannya. Aku dan bapaknya langsung mellow begitu Jess berangkat. Pulang ke rumah pun rasanya sepi sekali. Rumah kami semarak kalau ada Jessie yang ceria dan banyak ide. Mungkin ini yang akan kami rasakan kelak, kalau Jess kuliah di lura kota atau menikah. Time is really really flies. Rasanya baru kemarin melihat dia terlahir dengan selamat, hari ini sudah bisa terbang sendiri ke Jakarta.

Doa Ulang Tahun

Tadi pagi, anak kami bangun dengan wajah berseri-seri, karena dia ulang tahun hari ini. Selesai beres-beres buku dan alat-alat gambarnya, kami pun berdoa, gini bunyinya:

Tuhan Yesus terima kasih karena hari ini Jessie ulang tahun yang kesembilan,
Jadikanlah dia anak yang mencintai Engkau,
dan mampukan kami orangtuanya untuk membimbingnya menjadi anak yang baik.
Juga karuniakan kerajinan dan ketelitian....nggak kayak sekarang kalo belajar masih suka males dan kamarnya berantakan (Jessie mencubit kakiku, diaduin ke Tuhan).
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.

Kayaknya ini doa yang paling ger-geran deh. Jessie cekikikan melulu didoain begitu, padahal maknanya lumayan berat buat kami, soalnya ini anak unting-unting (dalam budaya Jawa, anak perempuan satu-satunya disebut unting-unting). Apalagi, karena di rumah hanya ada keluarga inti, makin lama makin serupa sama aku jadinya. Bagi yang udah lama kenal aku, udah kebayang kan nanti gedenya dia seperti apa, ha...ha...ha...

Eniwei, kami bersyukur dikaruniai Jessie. Emang sih kalo dia di rumah kami sering keberisikan karena tak pernah habis hal yang dikatakannya, tapi kalo dia lagi sekolah, aku yang sering keilangan. Kayaknya rumah jadi sepi tanpa Jessie. Kalo dia lagi ngeyel juga kadang-kadang kami cape ati, tapi ngeyelnya itu yang bikin kami harus pandai-pandai memutar otak supaya bisa masuk dalam frame of referencenya.

Kami juga berharap supaya doa yang terkandung dalam namanya bisa terwujud dalam hidupnya: "Ya Tuhan yang Maha Pemurah, jadikanlah aku anak yang kuat dan bijaksana" (Jessica Joanne Mahardhika).

Penggocohan Mental

Tadi pagi waktu membereskan tas sekolah Jessie, aku menemukan surat-suratan Jessie dengan beberapa temannya. Surat-suratannya sih nggak apa-apa, isinya yang bikin hatiku mencelos.

Jessie: A, kamu masih temen aku?
A: masih, tapi aku disuruh sama si B supaya cuek sama kamu sama C.

Hebat nggak? Rupanya pemalakan mental sudah dimulai. Aku sama misua cuma geleng-geleng. Yang kayak begini ini rentan buat Jessie, yang aku lihat-lihat cilik ati. Pantesan kalo dibawain bekal selalu menolak-nolak dan ludes tandas. Suatu kali aku pernah iseng-iseng nanya, "Jess, udah bawa bekal koq jajannya masih banyak aja?" Jawabannya juga bikin aku geleng-geleng, "Temen-temen pada minta, aku sendiri nggak kebagian. Katanya kalo aku nggak mau bagi, dia nggak mau temen aku." Oalah Nak, sampe segitunya... Anakku ini nggak bisa cuek bebek. Cara teman memandangnya, cara teman menjawab pertanyaannya atau cara teman bersikap ketika dia bicara akan sangat mempengaruhi mentalnya. Kalau udah gitu mulailah dia mengkeret, kayak orang bingung. Jaadi seperti digocoh mentalnya.

Dari dua kasus yang dialami anakku, aku jadi bisa meraba-raba kenapa defensenya kuat sekali kalau aku mau bicara dengan guru kelasnya. Gurunya mana tahu soal-soal begini, cara-cara persaingan tidak sehat dengan saling menggocoh mental. Gurunya cuman tau anak itu baik, pandai, dll...dll...! Aku sih sadar sesadar-sadarnya kalo ini kan baru dari data di tas Jessie, belon nyelidikin sampe ke rivalnya itu. Cuma yang lebih penting buat aku adalah memberitahu makna sahabat yang sebenarnya kepada Jessie. Kayaknya aku juga harus merhatiin her longing of friendshipnya, supaya dia jangan dimanfaatkan teman-temannya gara-gara keliatan banget kalo dia takut nggak punya temen. Heran juga aku, bapak ibunya soliter koq anaknya begini ya, mungkin ini gen resesifnya yang mencuat. Kayaknya musti belajar lagi deh tentang behavior.

Sisi positif yang Jessie dapatkan adalah bahwa di dunia ini banyak tipu muslihat, banyak serigala berbulu domba, dan banyak yang berteman karena ada pamrihnya. Jadi dia tau ganasnya dunia nanti melalui perilaku teman-temannya.

Beranjak Besar

Kami cukup terkejut waktu mendengar keluhan si anak semata wayang kalau payudaranya sakit. Soalnya dia abis jatuh, jadi pikiran nih udah yang nggak-nggak. Jangan-jangan waktu jatuh kena ke dada, dan seribu satu macem jangan-jangan. Tetapi setelah aku amat-amati ternyata nipplenya mulai membentuk, mungkin proses itu yang bikin sakit. Barangkali seperti gigi yang mintip-mintip mau tumbuh.


Terus kepikirlah membelikan dia miniset, kayaknya kaos dalem aja udah nggak memadai. Nah ini, ternyata miniset itu ada bermacam-macam step, dari step 1 sampai step 3. Step 1 bentuknya kayak kaos dalem, tapi panjangnya sampai pertengahan dada, lalu plain sama sekali, nggak ada busanya. Step 2 panjangnya miniset berkurang sampai kurang lebih 2 cm di bawah payudara, lalu di bagian belakangnya ada tali menyilang. Step 3 udah seperti bra biasa, tapi busanya tipis sekali. Aku bingungnya tuh miniset nggak boleh dicoba. Akhirnya aku ukur-ukurin aja di badannya Jessie. Dibelilah si step 2, tapi yang nggak pake tali menyilang, yang biasa aja model talinya.


Namanya anak-anak, udah ketemu stepnya, dia bingung milih….gambarnya dan warnanya. Akhirnya dia milih yang ada bunganya gantung-gantung. Aku dan misua mesem-mesem aja, liat anak-anak yang mulai gede.


Terus kemaren malem, waktu antar temen nyari jas di Centro, dia ajak lagi cari miniset. Nah, kalo yang ini simple, nggak ada step-stepan. Bentuknya seperti bra, hanya ukurannya S dan pake karet elastis, jadi nggak pake kait. Begitu coba langsung pas. Jadi, dia beli lagi tuh miniset.


Lucunya, karena gambarnya juga lucu, udah rapi-rapi pake seragam, tiba-tiba Jessie bilang begini, “Nih Mam, liat, lucu kan gambarnya?” Terus dia sibak sedikit kemeja seragamnya. Dasar anak-anak, polos-polos gimana gitu….

Bonyok

Bukan bokap nyokap, tapi bonyok beneran. Nih ada kaitannya sama idungnya Jessie. Dalam perjalanan jemput dia Sabtu lalu, aku ditelepon kepseknya. Dengan suara takut-takut dia memberitahu, “Kak Ian, inii… tadi Jessie terdorong temannya pas pelajaran olahraga. Lalu, dia jatuh.”


“Lalu, kena apanya?”


“Hidungnya. Tapi tadi sudah diperiksa guru olahraganya dan nggak apa-apa, hanya memar dan luka berdarah di lubang hidung.”


“Ada yang patah atau goyang? Jessienya mengeluh pusing nggak?”


“Oh nggak, nggak ada yang patah atau goyang. Jessie juga nggak pusing. Saya memberitahu supaya Kak Ian nanti nggak kaget waktu jemput dan lihat ada luka di mukanya Jessie. Kmi minta maaf atas kejadian ini.”


“Ya, ok. Saya segera ke sana.”


Lega banget waktu liat Jessie tergolong nggak apa-apa karena yang luka cukupan itu persis di bawah lubang hidung. Bagian hidung sebelah kiri bengkak sedikit, batang hidungnya lecet-lecet memanjang, dan dagunya memar biru, Selain itu punggung tangannya lecet dikit. Lutut kiri kanan memar biru dan lecet-lecet.

Menurut cerita Jessie, dia lagi jalan di pinggir lapangan, lagi ngincer bola. Tiba-tiba dari belakang dia ditabrak temennya. Langsung nyungsep ke paving block. Waktu nyungsep itu, tangannya refleks nutupin mata, makanya punggung tangannya luka.

Bapaknya yang kaget, pulang-pulang muka anaknya bonyok. Mau dibawa ke dokter, tapi anaknya sendiri udah nggak ngeluh. Ditanyain pelan-pelan ngerasa pusing, mual atau mata berkunang-kunang nggak waktu jatuh. Teteup aja ngegeleng.

Dengan kondisi muka bonyok, kemana-mana jadi malu. Jadi wiken kemaren di rumah aja, sambil ngomporin Jessie supaya nggak usah malu kalo ketemu orang. Namanya aja kecelakaan, dan orang jatuh itu biasa. Luka juga nggak bisa sembuh instant, walau udah ditaburin hau fung san yang sakti mandraguna… Jadi, kalo orang kiri kanan nanya ya dijawab aja kalo itu karena jatuh. Soalnya, anakku ini kan mentingin banget gimana dia tampil di depan orang, beda 180 derajat sama emaknya, ha…ha…ha…., jadi perlu dikomporin supaya Jessie gak berkurang pedenya.

Ujian Kesabaran

Akhir Juli lalu Matahari Dept. Store ngadain diskon gede2an di bagian sepatu anak. Nah, sepatu sekolahnya Jessie udah waktunya diganti sih, cuma masih bisa dipake. Udah kena jahit pak sol sepatu dua kali, abisnya mangap sih setelah dicuci. Terus lapisan luarnya udah mulai retak-retak. Ngenes kan ngeliatnya?

Selain sepatu butut ini, masih ada sepatu olahraganya yang juga sama-sama butut. Jadi, di diskonan itu, kami mencari sepatu hitam yang syaratnya harus bisa untuk sehari-hari dan untuk olahraga. Jadi, sepatu sekolah itu satu aja, nggak usah gonta-ganti. Kan jadi nggak usah mikir ini hari olahraga apa bukan. Pokoknya ke sekolah ya pakenya seatu itu.


Pusing liat sepatu koq bececeran dimana-mana, emaknya aja cuman punya satu sepatu dan satu sandal tinggi untuk ke pesta. Lagian ribet kalo banyak sepatu (mood ngosongin rumah lumayan masih tinggi nih).

Cari punya cari, akhirnya ketemu yang oke. Sekarang tinggal ngelobby waktu memakainya. Sejak awal udah dibilangin kalo sepatu itu hadiah ultahnya, yang dibeli sekarang karena ada diskon mayan gede. Waktu sepatunya belum keliatan, Jessie sih manggut-manggut aja. Begitu sepatunya udah nangkring di depan mata, keinginannya untuk langsung memakai sepatu baru muncul.

Susah payah aku menunjukkan realita supaya sepatu bututnya diabisin dulu. Jadi pas ultah yang cuman tinggal 2 minggu lagi, kedua sepatu bututnya bisa dengan lega masuk tong sampah. Tiap hari diitungin tinggal berapa lama lagi bisa pake sepatu baru. Tiap hari nanyain kenapa musti ditunda-tunda make sepatu barunya, orang sepatu barunya udah di depan mata, lagian sepatunya emang udah butut banget.

Bagiku, ini sarana ujian kesabaran buat Jessie. Nggak banyak momen kayak gini, menunda sekian lama untuk mendapatkan sesuatu. Namanya anak semata wayang, jadi aku juga kadang-kadang suka ngebeli-beliin dia benda yang disukainya. Tapi, kayaknya udah waktunya Jessie belajar bahwa menunda itu buahnya manis. Latihannya dari benda yang nggak urgent kayak sepatu. Besok-besok, harapanku dia bisa belajar untuk benda yang lebih penting, misalnya beli hp, dll.

Buat Jessie, penundaan ini rupanya bikin dia manyun. Tapi lama- lama, saking banyak aktivitasnya, lupa juga. Tau-tau udah tanggal 9, tinggal 9 hari lagi. Selama dia lupa, aku diem-diem aja. Kalo pas inget, jawabanku klasik ibu-ibu, “Sabar…sabar…sabar…”

Tidur Nyenyak

Sejak siang tadi, Jessie langsung tidur. Biasanya sehabis makan siang dia masih bikin-bikin prakarya atau baca-baca atau main congklak sama aku. Tapi karena tadi kami mengganyang otak sapid an ayam pop di rumah makan padang, begitu sampe rumah langsung ganti baju. Tau-tau udah nggak ada suara dari kamar Jessie. Aku intip, eh dia udah tidur hanya dengan pakaian dalamnya. Nggak pake bolak-balik sambil baca buku seperti biasanya.

Kalo udah gitu aku sering memandangi wajahnya. Kayaknya nggak ada kedamaian yang melebihi nuansa damai yang tersirat di wajahnya. Kenapa ya, kalo anak lagi tidur begitu, rasa sayang bisa membuncah deras? Wajahnya, dan mungkin juga wajah anak-anak lain, serasa nggak ada salahnya. Belum lagi napasnya yang teratur jadi kayak musik penenang, he…he…he….! Terus, posisinya itu lho, persis seperti waktu dia bayi tidur. Tangannya dua-duanya naik ke atas. Papinya bilang secara nggak sadar Jessie meniru maminya, sebab kata misua tanganku juga naik ke atas dua-duanya kalo lagi tidur. Mana kutahu…. (nyanyi dong).

Itu tuh yang bikin aku suka memandanginya. Kalo pas malem-malem dia udah terlelap, aku suka manggil papinya untuk menikmati wajah damainya. Kadang-kadng kami tersenyum sendiri, karena mulutnya suka mencecap-cecap. Mungkin karena pernah lama mengisap botol ya?

Alhasil, sore ini aku lonely, abis dia tidur nyenyak. Udah dari pk 13.30, sampe 17.30, belon ada tanda-tanda dia mau bangun. Padahal, aku bolak-balik melulu dari kamarnya ke depan, dan mbak kami juga ngepel sama beres-beres di sana juga. Nyenyaknya!

Kenangan 2 tahun lalu

Kehadirannya dalam keluarga kami tunggu-tunggu. Setelah empat tahun, akhirnya ia datang juga! Anak semata wayang ini betul-betul fast learner. Bayangkan, ia sudah bisa mengucapkan kata-kata sejak usia 8 bulan.

Kemampuannya dalam bidang bahasa sungguh luar biasa, tetapi di bidang olahraga…., butuh kesabaran! Karena gangguan asmanya, kami sepakat untuk memotivasinya agar menyukai renang. Mula-mula dengan membelikannya kolam renang dari plastik, lalu renang di kolam anak-anak, sampai mulai mau renang bersama saya di kolam dewasa.

Semakin besar, tentulah diupayakan untuk renang dengan cara yang benar. Karena itulah Jessie kami ikutkan kelas renang. Mula-mula sih ia senang, merasa kemampuannya bertambah dan bisa membanggakannya kepada kakek neneknya. Masalah muncul waktu ia sampai di tahap mengambil napas dalam renang gaya bebas. Nangis di kolam renang bukan sekali dua kali, sampai-sampai gurunya hanya bisa menggendongnya di samping mengajar teman-temannya. Kalau sampai waktunya les renang, berbagai alasan muncul supaya akhirnya ia tidak perlu les. Lain kali kalau pergi lesnya lancar-lancar, sampai di kolam renang langsung muntah.

Sebagai ibu, tidak tega rasanya melihat anaknya stress seperti itu. Hanya karena inilah satu-satunya cara supaya asmanya sembuh, saya menguatkan hati setiap kali bentuk stresnya muncul. Segala daya saya kerahkan supaya ia mau les setiap minggu, dari memberi semangat sampai janji bermain di tempat kesukaannya setelah selesai renang. Berbulan-bulan kami mengalami up and down dalam les renang. Berkali-kali saya hampir menyerah karena merasa tidak ada gunanya menunggui anak les renang kalau hasilnya hanya tangisan dan muntah. Syukurlah tekad melihat anak ini mandiri, sehat dan punya semangat juang memampukan saya bertahan menjalani masa-masa tak enak itu.

Di tempat lesnya banyak anak baru dan juga mengalami hal yang serupa. Rupanya ini menjadi pemicu baginya untuk menunjukkan kalau dirinya sekarang sudah bisa. Sekarang ia sangat menyukai renang. Sekalipun teman akrabnya tak mau renang, ia tetap pergi les. Sekalipun hujan, asalkan gurunya ada di kolam renang, ia pasti bersikeras ingin renang. Lega rasanya berjalan bersamanya mengatasi rintangan berat dalam hidupnya.

PS: Tulisan di atas pernah aku kirimkan ke salah satu lomba ibu dan anak. Kemarin, waktu antar Jessie les, ada anak laki-laki usia 6 tahun yang baru belajar renang, nangis-nangis juga. Teringat kenangan 2 tahun lalu saat Jessie mulai belajar renang.

Genap Seminggu

Seminggu lalu, Jessie memulai hari pertamanya di kelas 3 SD. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini yang baru hanya blus seragam putihnya, secara yang dua taon lalu udah butek bener warnanya. Kalo ada kategori warna putih tua, mungkin itulah warnanya, ha…ha…ha…! Tas, sepatu, peralatan tulis menulis, semuanya masih seperti yang dulu.

Yang aku kagum pada Jessie adalah semangatnya. Berhari-hari sebelum ia bertanya-tanya siapa teman-temannya dan siapa gurunya. Kalau aku sih selalu mengeluarkan metode yang sama yaitu mempersiapkan Jessie seolah-olah di kelas itu tak ada yang dikenalnya, supaya dia nggak kaget kalo memang itu yang terjadi. Lalu aku juga ngajarin supaya nggak milih-milih guru. Semua guru pasti udah dibekali dengan pengajaran standar, hanya gimana si anak mengoptimalkan kelebihan gurunya aja.

Hari pertama sampai ketiga, dia pulang pk 09.00, karena masih tahap perkenalan. Ternyata Jessie diajar lagi oleh guru laki-laki. Aku senang, jadi ada imbangan dengan polaku mengajar di rumah. Kan aku dominan banget ngajarin dia ini itu. Lalu kawan-kawannya juga bervariasi, campur dari kelas-kelas laen. Ada yang udah pernah, ada yang belum pernah.

Langkah penting yang aku tanamkan di dalam diriku adalah mengajarkannya kemandirian. Salah satunya memberdayakan dia supaya mampu menyampul sendiri buku-buku pelajarannya, terutama buku yang tebel-tebel. Biasanya aku nggak sabaran, akhirnya aku yang sampulin semua. Tahun ini aku bertekad supaya lebih membiarkan dia berkarya sendiri.

Aku juga mulai membiasakannya belajar di sore hari, karena materi kelas 3 nggak seenteng materi kelas 2. Banyak hal yang butuh pengendapan, baru bisa dipahami. Mula-mula sih dia nolak abis, karena biasanya dia belajar di pagi hari. Tapi setelah aku jelaskan, Jessie mau ngerti kalo porsi belajarnya musti ditambah. Jadi sore ngulang sebentar pelajaran hari ini, besok pagi nyiapin pelajaran buat hari yang akan dijalani.

Beberapa hari lalu ia kepengen jadi ketua kelas. Aku sih santai aja, aku bilang enakan jadi warga kelas biasa, jadi nggak terbuang waktu belajarnya. Jiwa kompetitornya yang tinggi rupanya agak menyulitkannya melihat hal ini. Emang dasarnya anaknya suka berpartisipasi, jadi kali dia nggak tahan kalo di kelas dia nggak punya peran. Nurun aku apa bapaknya ya? Ha....ha...ha...

Untuk menghindari kejenuhan, aku memperbolehkannya ikut lomba langen carita alias operet Jawa bersama teman-temannya di sanggar tarinya. Lakonnya lucu-lucuan, tapi digarap secara kolosal, jadi memperluas pergaulannya.

Hari ini, aku lihat semangat belajarnya terus tinggi. Tiap pagi dia ngebayangin hal-hal menyenangkan yang akan dijumpainya di sekolah, termasuk acara piket kelas. Semoga aja begitu terus di tahun ini. Yah, belajar itu habit, gampang melencengnya kalo nggak betul- betul dijaga. Apalagi buat anak seperti Jessie yang gampang teralihkan perhatiannya. Musti dicontohin berulang-ulang kalo belajar itu habit.

Laste

Dua hari terakhir liburan Jessie ini diisi dengan banyak kesibukan. Justru menjelang liburannya abis, baru muncul berbagai ide.


Pertama, dia mau memberi variasi pada baju boneka tangannya. Minta diajarin jahit bis untuk lengan kanannya. Jadilah, abis makan malam aku ngeluarin peralatan jahit sederhana. Mulai dari memasukkan jarum, lalu gimana bikin bis nya, terus gimana nempelinnya ke boneka tangan itu. Susah sekali buat Jessie masukin benang ke jarum. Tapi begitu disemangatin dan diceritain masa kecilku yang pernah menang lomba masukin benang, langsung deh jiwa kompetitornya muncul, he…he…he… . Tiga kali masih minta bantuan. Kali keempat dan seterusnya udah jalan sendiri. Abis masang bis, jarum dan benang nggak mau dilepasin, semua kain perca dijahit-jahit ama dia. Ada yang di’tulisin’ namanya, ada yang dibikin hiasan rumput. Pokoknya meja makan amburadul, penuh kain perca dan proyek jahitan Jessie. Aku sama papinya geli sendiri, ngeliat anak kami mendapat mainan baru. Jari-jarinya itu loh, bikin gemes: ramping-ramping dan lentik. Lebih lucu lagi melihat keseriusannya menjahit.


Kedua, jalan-jalan searian. Abis liat kepastian kelasnya, kami bertiga langsung menuju Amplaz. Wah, kalo ke sini bisa makan 3-5 jam deh, saking nyamannya tuh tempat. Mau nonton Kung Fu Panda, saking tuh fil ngedidik banget. Dapet karcis yang tempat duduknya enak pk 17.30. Jadi kita makan siang dulu sambil nge-net. Asyik banget surfing 2 jam koq gratis, alias makan saing plus. Abis itu maen ke Timezone, ngeliat buku di Gramedia dan beli beberapa kebutuhan kue, aku mau praktek bikin katetong ama Jessie. Mudah-mudahan jadi, he…he…he… Terakhir baru nonton, ketawa ketiwi, sampe di rumah lagi pk 20.00, dari pk 11.30, bayangin!


Ketiga, mencatat renungannya setiap hari. Nah yang ini agak mengejutkan aku. Dia emang ngeliat aku saat teduh, tau kalo aku melakukannya rutin, tapi dia dapet ide sendiri nyatet saat teduhnya. Kalo ditanya kenapa membuat catetan, jawabnya, “Soalnya Jessie cepet lupa, jadi mau dicatet yang udah diajarin.” Aku yah manggut-manggut mendukung, asal nggak cuman keinginan sesaat aja.


Hari-hari terakhir yang sibuk dan mengasyikkan!

Ciecie apa Kakak?

Aku mendapat tugas supervisi lapangan ke Kartasura. Ya seneng, ya deg-degan. Seneng karena jalan-jalan adalah kesukaanku. Deg-degannya karena aku belum pernah nyetir sejauh Kartasura. Jam terbang luar kotaku baru sampe Magelang.

Teman seperjalananku yang juga ibu-ibu juga bawa anak perempuannya. Pertama kenalan mereka seperti anak-anak umumnya, malu-malu pengen tau. Seperempat jarak tempuh komunikasi masih sebatas tawar menawarkan makanan dan minuman. Mulai akrab waktu temannya Jessie, Ata, minta boneka buat tidur. Ternyata nggak bawa boneka kesayangan jadi masalah juga, padahal sebelumnya udah ditanya sama mamanya: ok nggak kalo boneka kesayangannya kelupaan. Tiba-tiba aku ingat kalo tadi pagi Jessie belon nurunin boneka berang-berangnya dari mobil. Dibuat bermain sama Kezia waktu nganterin Kezia pulang. Jadilah mereka bermain boneka-bonekaan.

Di tengah serunya bermain peran, Jessie nyebut dirinya Ciecie, terus Ata terdiam dan bingung. Jadi keluar deh pertanyaan begini, “Lhoh, kamu manggil aku apa ya? Ciecie apa kakak?” Spontan aku yang lagi nyetri sambil iauber-uber bus antarkota tertawa terbahak-bahak. Bingung juga akhirnya anakku ini.

Dari kecil aku membiasakan Jessie memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan kakak. Ini untuk mengantisipasi kalo dia akan bertemu dengan orang dari berbagai suku bangsa, kan udah terbiasa dengan panggilan yang dimengerti semua orang. Lalu, dia sekolah yang kebanyakan keturunan Tionghoa. Panggilannya mulai bervariasi. Dia mulai mengenal panggilan Ciecie, yang artinya kakak perempuan. Kadang-kadang muncul dialek Hokiannya dengan menyebut dirinya Cici, yang artinya juga kakak perempuan.

Sekali ini dia bertemu dengan temanku yang punya suami berdarah Jawa. Otomatis panggilan di rumahnya kakak. Tapi aku merasa Jessie belum terbiasa dipanggil sebegitu sering dengan, “Kak, kita pura-puranya maen tarik tambang yuk?” “Kak, nanti kalo aku namain bonekanya si Cimut boleh nggak?” “Kak….” “Kak….” Selama ini kan dia yang manggil kakak ke orang yang lebih tua.

Sekali ini dia jadi kakak. Sebuah pengalaman unik buatnya dan semoga bisa memperkaya nuansa jiwanya.

Eksplorasi Bakat Anak

Beberapa hari lalu, kawanku sms, bunyinya,” Masuk tivi koq nggak ngajak-ngajak? Ha…ha…ha…” Terus terang aku kaget, soalnya nggak berasa menghadiri event tertentu yang cukup signifikan buat dimasukkan ke berita tivi. Siang harinya, waktu aku ke rumahnya baru deh diceritain kalau aku dan Jessie ada di berita pagi Trans7. Katanya aku di shoot lagi duduk-duduk santai, lalu Jessie datang membawakan pizza buatannya. Wah, itu peristiwa setahun lalu, pas liburan kenaikan kelas, sehabis aku dari Jakarta. Itu salah satu ekplorasi bakat Jessie. Siapa tau dia bakat masak, walopun aku nggak. Jadi aku ikutkan children cooking class di Novotel.

Aku memang sedang eksplorasi bakat anakku. Tau sendiri kan, waktu aku kecil ortuku mana sempet mikirin bakat anaknya. Kadang-kadang belajar aja nggak sempet ditungguin, soalnya kami berempat. Jadi, ini semacam perbaikan masa kecil, supaya masa kecil Jessie dijalani dengan pengalaman yang kaya.

Pertama kali aku cobain ke nari. Sejak umur 2 tahun dia udah aku ajak ke sanggarnya Didi Nini Thowok. Kira-kira 3x datang tangan dan kaki mungilnya mulai bergoyang-goyang mengikuti irama gamelan. Hanya saying, terputusa karena dia masuk Kelompok Bermain siang hari, jadi abis sekolah udah lelah. Waktu itu rumahku di ujung dunia, jarak ke tempat nari kira-kira 20 km. Untuk ukuran Yogya, segitu tuh jauh banget. Narinya nyambung lagi sejak umur 4 tahun sampai sekarang. Apakah Jessie berbakat nari? Mungkin ya, karena mamaku mudanya penari ballroom, lhoh…jauh banget linknya? Ha…ha…ha…! Mungkin juga nggak. Bakat itu muncul karena dia rajin berlatih di rumah dan di les, lalu sering diajak pentas sama sanggarnya. Memang keliatan sedikit lebih karena kalau denger musik, biasanya Jessie langsung goyang dan merancang gerakan tari.

Selaen itu aku nyobain dia maen piano. Lesnya sih piano, tapi alat di rumah hanya keyboard buatan China yang 200 ribu. Aku kembalikan ke prinsip, yang penting kemampuan, bukan alat. Kalo Tuhan kasih rejeki lebih dan dia memang seneng musik, barulah direncanakan beli alat musik yang standard. Sekarang ini latihan musik di rumah masih harus didorong-dorong. Tapi aku sadar kalo itu invest jangka panjang. Lhah iya lah, mana bisa jadi seperti Purwa Caraka dalam waktu 4 tahun? Jadi, masih tanda tanya juga, namanya juga eksplorasi. Hanya aku pikir bermain alat musik itu penyaluran yang bagus buat Jessie, yang typically sanguine.

Di bidang olahraga aku ‘maksain’ dia renang. Bagus buat asmanya dan renang itu olahraga yang paling kecil risiko kecetit ototnya, karena otot jadi lentur di dalam air. Susah payah juga sebelum dia mencintai renang. Kami turuti kalau dia harus beli peralatan renang yang nggak murah. Supaya gerakannya bisa oke.

Pendek panjang, eksplorasi bakat anak butuh kesabaran, kemauan coba-coba dan kejelian melihat golden age nya. Kalo nggak, jadilah dia seperti generasiku yang nggak diapa-apain ortu dan akhirnya hanya menjalani rutinitas. Generasi penerus seyogyanya sih lebih bagus dan lebih adaptif.

Diskusi Siang

Suatu kali waku aku dan Jessie makan siang, tiba-tiba muncul sebuah topic diskusi yang aku pikir penting buat dia. Di rumah itu, kalo lagi cerita-cerita ada satu nama yang selalu muncul. Hampir tiap ari Jessie nyebut nama dia. Nah, pas makan siang itu dengan setengah berbisik (padahal di rumah ya cuma ada kami berdua) dia berkata begini, “Mam, katanya Y itu anak angkat lho!”

“Jessie tau darimana kalau dia anak angkat?”

“Soalnya papanya kan lagi operasi mata, jadi yang jemput Y itu mamanya.”

“Terus, kenapa? Kan itu memang mamanya?”

“Iya, tapi laen banget sama Y. Lagipula, temen-temen bilang koq kalo dia diambil dari panti asuhan…”

Aku pengen kejelasan apakah dia melihat keberbedaan Y dari orangtuanya sebagai faktor yang membuatnya mengambil kesimpulan kalau Y itu anak angkat, tapi nggak tega. Rasanya seperti membongkar sendiri fondasi yang aku tata dengan susah payah. Fondasi itu antara lain jangan memandang orang dari warna kulit, agama atau budayanya. Maksudku, janganlah bersikap diskriminasi kepada siapa pun dan terhadap apa pun. Temennya Jessie ini memang berbeda sekali dari orangtuanya, yang otomatis melahirkan pertanyaan kalau melihat mereka berjalan bersama.

Lalu aku melanjutkan diskusi kami, “Emang kalo dia bener anak angkat, kenapa Jess?”

“Ya nggak apa-apa, tapi gimana gitu lho!”

“Yang penting kan dia disayang? Ada koq yang anak kandung tapi nggak disayang?”

“Apa Mam, contohnya?”

“Ya anak kandung tapi nggak dirawat. Dibiarinin aja mau ngapain sesuka hatinya. Mau belajar boleh, nggak mau sekolah juga boleh. Mau makan boleh, nggak mau makan juga boleh. Kayak- kayak gitu contohnya.”

“Misalnya kalo mau beli maenan disuruh pake uangnya sendiri, gitu?”

“Bisa juga. Tapi kalo gitu kan untuk mendidik anaknya supaya nggak boros, bukan tanda nggak disayang. Nggak disayang itu lebih kepada disia-siakan, ditolak, nggak diinginkan keberadaannya, dibenci.”

Sampe di situ diskusi kami berhenti, soalnya makan siangnya udah selesai. Aku bersyukur topic ini muncul, jadi Jessie bisa tau kalo status anak angkat itu nggak apa-apa dan bukan sesuatu yang hina. Banyak kan orang yang mengangkat anak karena sebab-sebab mulia, bukan hanya karena pengen keturunan. Hanya saja, di Indonesia kebanyakan orangtua angkat menyembunyikan status anaknya yang bukan anak kandungnya. Lain sekali di Amerika, mereka dengan terbuka menjelaskan kalau mereka adalah orangtua angkat. Aku oernah baca kisah seperti ini di Femina, tentang orang Amerika yang mengangkat anak dari China. Itu sih jelas banget deh bedanya. Yang satu pirang, yang anaknya sipit. Tapi karena keterbukaan dan kasih saying yang sangat besar dan dalam, kenyataan itu tidak menyakitkan. Kalau ditutup-tutupi memang akan melahirkan prasangka buat si anak angkat.

Di Balik Layar

Kata pentas jadi akrab nih sama aku. Kalo aku sendoro sih pentasnya bisa diitung nggak lebih deh dari lima. Ini berkaitan dengan si Nona.

Andaikata nih jadwal pertunjukan pk 11.30, dia udah musti standby di sanggar tari sejak pk 06.30. Lama bener? Nah, kalo itu pastinya berhubungan dengan tata rias. Sejak pertama bergabung dan mulai pentas sana pentas sini, soal gerak tari sih nggak ada review ulang sebelum pentas. Lamanya persiapan itu semata- mata karena berdandan.

Kalo pas narinya biasa-biasa, dari rumah udah diminta pakai bedak dasar. Paling nggak foundation dan bedak. Tapi, kalo tarinya membutuhkan riasan khusus, kayak tari kelinci, riasnya semua dikerjakan di sanggar. Biasanya satu anak membutuhkan waktu 30 – 40 menit untuk berhias. Dan, nggak sembarang orang boleh pegang riasan, karena itu menentukan tampilan si penari. Kalo yang lagi ngerias Jessie ini namanya Pak Hendrid, ciamik punya deh riasan dia, halus jadinya.


Karena kekhususan itu, makanya kalo ada enam penari, tinggal dikaliin aja tuh. Kira-kira 2 jam untuk dandannya aja. Belum pake kostumnya dan lama perjalanan menuju tempat pentas. Mending- mending kalo sampe di sana langsung naek panggung. Pernah kejadian Jessie harus menunggu 3 – 4 jam sebelum akhirnya naik panggung.

Jadi, selaen rias di sanggar, ada kru yang bertugas bawa alat rias ke tempat pentas, untuk perbaikan sebelum akhirnya mentas.

Kalo capek dan lelah kayak gitu, ngapain capek- capek ikut di sanggar tari? Mendingan di rumah nonton tivi apa jalan- jalan. Nah, balik lagi ke panggilan hati. Bicara soal ini, Jessie sangat menikmati saat-saat sebelum pentas. Ada aja yang diobrolin sama temen-temennya. Walaupun aku tahu, kadang- kadang dia harus tahan kalo udah sampe riasan mata atau riasan rambut. Kalo pas nggak kebeneran ya…. sakit. Sebagai ortu yang negdampingin, aku menjumpai kekerabatan yang erat di antara orangtua sesame penari. Karena sering kumpul bareng makanya jadi kenal. Dan kami menganggap ini latihan kehidupan yang sangat bagus buat Jessie. Dengan begini dia langsung praktik hidup di masyarakat yang heterogen, yang tidak didapatnya di sekolah. Dengan begini juga dia belajar artinya kerja tim, karena dia selalu menari di dalam kelompok. Dia juga bisa belajar sabar waktu menunggu jadwal pentas, mengantri riasan dan antri memakai kostum. Yang terpenting dia belajar bahwa berbeda itu sah- sah aja dan nggak ada yang salah dengan perbedaan. Bahasa ilmiahnya sih memahami individual differences, ha…ha…ha…

Sebelum pentas memang penuh dinamika, yang kami harapkan bisa memperkaya nuansa jiwa Jessie. Terus maju ya, Nak!

All Round

Pagi ini aku merasakan betul manfaat pelajaran di SMP yang dulu betul-betul nggak aku sukai. Paling sebel pelajaran musik. Abis, nggak cuma teori tapi juga praktik bikin tangga nada dengan bermacam-macam kunci, nyanyi bahasa Latin sampe maenin alat musik. Tapi yah… alat musik anak sekolahan zaman dulu kan hanya pianika dan suling plastik. Ya ampun, itu aja aku lupa namanya. Ujian akhirnya pilih lagu kebangsaan terus diubah nada dasarnya. Apa nggak puyeng tujuh keliling. Gak cukup hanya itu, musti dihias dan ditempel di karton tebal. Kalo ini aku gatot, lhah nggak ada yang bisa musik di keluargaku. Babe bisanya megang suntikan, nyak bisanya jahit, ha…ha…ha…


Pagi ini Jessie kebingungan ngerjain peer les pianonya. Dia diminta bikin nada ¼ dan nada 1/8 sebanyak 5 soal. Bingunglah dia. Di sini nih aku ngerasa manfaat dulu pernah belajar musik beneran di sekolah. Jadi, aku ajak dia lihat lagi apa yang diterangin sama guru lesnya, terus aku ajarin deh gimana ngeletakin tuh toge-toge pake bendera.


Wualah, jadi ibu nih butuh upgrading terus. Kalo nggak abis anggaran belanja buat les ini dan itu. Terus, anaknya juga gak pede, kalo pas nggak ngerti di pelajaran dan nyaknya cuman lola lolo gak ngerti apa-apa. Bukan cuman musik yang aku harus menggali ingatan, tapi juga belajar tulisan mandarin/ hanzi. Nah, yang ini aku sangat terbantu dengan les mandarin untuk ortu murid yang diselenggarakan sekolah anakku. Jadi, aku ngerti basicnya gimana urut-urutan nulis satu karakter/ hanzi nya. Kalo nggak? Babak belur deh si Jessie


Itu bagian pelajaran. Bagian olahraga kayak mukul bola kasti, maen basket ato maen biliar dll.nya, urusan bapaknya deh. Jadi adil pembagiannya, kalo nggak bisa kecetit nih. Ha…ha…ha…

Narsis

Narsis ternyata menjangkiti si anak semata wayang. Jessie seneng sekali waktu diwawancara wartawan Kompas. Itu juga kejadiannya tak dinyana. Jadi, seperti kebiasaannya selama 4 tahun ini, setiap Kamis dia les menari. Kalo telat dikit, bisa mcc alias mencucu alias mancung bibirnya.


Sebelon berangkat les, dia masih latihan tari terbarunya, Pak Pung. Begitu nari, lupa deh dia sama sekelilingnya. Heran juga kenapa dia jadi seneng nari. Kata emanya, nurun dari dia. Mamaku emang doyan dansa. Bayangin aja, di tahun 50-an, setiap pesta ulang tahun, mesti ada dansanya, tak peduli betapa kecil rumah yang empunya pesta. “Darah” itu rupanya nyampe ke cucunya ini.


Bedanya, cucunya nari tradisional kreasi baru di sanggarnya Didik Nini Thowok, emanya dulu ballroom dance. Pertama-tama dia les nari, emanya protes melulu. Katanya bagusan ballroom dance, daripada tari tradisional. Cuma kan hil yang mustahal anak umur 4 ikut ballroom dance? Jadi, teruslah dia menari di Natya Lakshita, sampe sekarang.


Lagi asyik-asyiknya nari, tiba-tiba ada yang dating dan langsung memotret anak-anak yang lagi nari. Kami, ibu-ibu yang nungguin anaknya nari, Cuma melirik aja. Paling-paling buat dokumentasi sanggar, piker kami, ngobrol jalan terus, he…he…he…! Setelah tarian selesai, tiba-tiba si pemotret ngedatengin aku dan memperkenalkan dirinya sebagai wartawan Kompas. Lalu diajukanlah berbagai macam pertanyaan, seperti: sejak kapan anaknya menari di sini, kenapa diajak ke sanggar ini, selain tarian tradisional ikut tari modern lainnya nggak, apa harapannya dengan mengikut sertakan anaknya menari di sini. Setelah Jessie gabung, dia juga ditanya-tanyain.

Di sini narsisnya mulai mengejawantah alias kumat.


“Kak, ini mau dimasukin ke tivi ya?”


“Bukan, Kakak dari Kompas.”


“Ooo…, jadi nanti aku dimuat di Kompas? Kompas Yogya? Berarti, terkenal dong ke seluruh Yogya dan Indonesia?” (aku mulai merah ijo mukanya, buset deh!)


Belum selesai, sampe di bawah waktu ketemu temen-temen narinya, dia bikin pengumuman, “Eh…eh…, aku mau dimuat di Kompas lhoh?” (aduh…aduh… piye iki?)


Nggak cukup, ternyata. Sampe di rumah sahabatku, sekali lagi Jess pengumuman,

“Tante…, Tante…, langganan Kompas kan ya? Besok pagi, liat ya , ada aku di sana.”


“Lho memangnya kenapa koq sampe masuk Kompas?”


“Tadi aku diwawancara sama wartawan Kompas abis nari.”


“Ooo…”

Sekali ini aku pasrah deh ngeliat anak semata wayang narsis abizz!

Waktu mau tidur malem Jessie nanya gini, “Mam, emang aku narsis ya? Bagus nggak gitu? Boleh nggak sih? Mami narsis nggak?”

Nah, begini nih punya anak ceriwis. Jadi inget papinya suka komentar gini kalo aku udah ngeluh betapa bawelnya Jessie, “Lhoh! Mami mau punya anak yang cerdas apa yang dongok?”

Skak Mat!!!!!!!!

Pertanyaan Pertama Tentang Kematian

Sore kemaren, waktu lagi makan malem bareng, tiba-tiba Jessie nangis sesenggukan. Mami en papinya ampe bingung, karena nggak ada sebab apa-apa tiba-tiba nangis. Lagi mellow kali yak.

Di antara isak tangisnya ia nanya begini, “Aku takut. Kalo papi mami meninggal, aku idup sama siapa?” Makin lama nangisnya makin keras. Akhirnya aku pangku deh sama sekalian dielus-elus punggungnya. Pertanyaannya diulang-ulang terus. Lalu aku bilang kalo papi maminya punya ade-ade dan temen-temen yang baik, yang bias ngejaga Jessie. Sama nyodorin fakta kalo ema dan engkongnya yang di Kediri juga masih ada walopun anaknya udah pada gede-gede. Juga papinya yang nggak apa-apa, walopun ditinggal mati engkongnya yang di Donggala. Pelan-pelan sesenggukannya mereda. Nangisnya ilang sama sekali waktu nonton kakak Sherina nyanyi di Trans TV.

Pagi tadi kami bedua nganalisa kenapa Jessie sampe begitu. Mungkin karena Sabtu sore itu diojok-ojok sama temenku supaya minta ade kembar, jadi punya temen. Lalu dia ngeliat temen baenya bias berbagi sama adenya. Lengkap deh nuansa kesepiannya. Kadang-kadang merasa bersalah juga kalo Jessie sampe begini, ngebayangin yang nggak-nggak, ditambah dengan kesendiriannya. Cuma memang pertanyaannya gak bias dianggep angin lalu, karena beberapa temenku yang cuma beda 3-7 taon di atasku juga udah pada meninggal. Semoga Tuhan menjagai kami bertiga, selamat sampai tujuan dan memperlengkapi kami bertiga dengan kasih dan kekuatan-Nya.