Hari ini adalah sejarah buat Jessie. Untuk pertama kalinya dia akan berangkat ke Jakarta sendirian, menggunakan fasilitas unaccompanied minor.
Udah dari kelas 3 aku motivasi dia untuk mencoba UM, tapi waktu itu belum muncul keberaniannya. Baru awal-awal tahun ini tiba-tiba muncul keinginan itu. Jadi, waktu kapan itu ke Jakarta bareng-bareng, aku perlihatkan bagaimana harus check in, bagaimana mengukur barang-barang yang akan dimasukkan ke bagasi, bagaimana bayar airport tax dll.
Tadi, aku diminta mengisi beberapa keterangan di counter check ini Garuda, bandara Adi Sucipto. Yang harus aku beritahu itu siapa penjemputnya, nomor telepon penjemputnya. Supaya memudahkan ground staff Garuda di Jakarta nanti, aku buatkan foto adikku yang akan menjemput Jessie dan dikalungkan di lehernya Jessie. Bagus juga dibuatkan begitu, karena boarding pass Garuda sekarang kecil sekali.
Satu langkah lagi dia di dalam kemandiriannya. Aku dan bapaknya langsung mellow begitu Jess berangkat. Pulang ke rumah pun rasanya sepi sekali. Rumah kami semarak kalau ada Jessie yang ceria dan banyak ide. Mungkin ini yang akan kami rasakan kelak, kalau Jess kuliah di lura kota atau menikah. Time is really really flies. Rasanya baru kemarin melihat dia terlahir dengan selamat, hari ini sudah bisa terbang sendiri ke Jakarta.
UM
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 2:19 PM 3 komentar
Label: Jessie
Doa Ulang Tahun
Tadi pagi, anak kami bangun dengan wajah berseri-seri, karena dia ulang tahun hari ini. Selesai beres-beres buku dan alat-alat gambarnya, kami pun berdoa, gini bunyinya:
Tuhan Yesus terima kasih karena hari ini Jessie ulang tahun yang kesembilan,
Jadikanlah dia anak yang mencintai Engkau,
dan mampukan kami orangtuanya untuk membimbingnya menjadi anak yang baik.
Juga karuniakan kerajinan dan ketelitian....nggak kayak sekarang kalo belajar masih suka males dan kamarnya berantakan (Jessie mencubit kakiku, diaduin ke Tuhan).
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.
Kayaknya ini doa yang paling ger-geran deh. Jessie cekikikan melulu didoain begitu, padahal maknanya lumayan berat buat kami, soalnya ini anak unting-unting (dalam budaya Jawa, anak perempuan satu-satunya disebut unting-unting). Apalagi, karena di rumah hanya ada keluarga inti, makin lama makin serupa sama aku jadinya. Bagi yang udah lama kenal aku, udah kebayang kan nanti gedenya dia seperti apa, ha...ha...ha...
Eniwei, kami bersyukur dikaruniai Jessie. Emang sih kalo dia di rumah kami sering keberisikan karena tak pernah habis hal yang dikatakannya, tapi kalo dia lagi sekolah, aku yang sering keilangan. Kayaknya rumah jadi sepi tanpa Jessie. Kalo dia lagi ngeyel juga kadang-kadang kami cape ati, tapi ngeyelnya itu yang bikin kami harus pandai-pandai memutar otak supaya bisa masuk dalam frame of referencenya.
Kami juga berharap supaya doa yang terkandung dalam namanya bisa terwujud dalam hidupnya: "Ya Tuhan yang Maha Pemurah, jadikanlah aku anak yang kuat dan bijaksana" (Jessica Joanne Mahardhika).
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 11:13 AM 0 komentar
Label: Jessie
Penggocohan Mental
Tadi pagi waktu membereskan tas sekolah Jessie, aku menemukan surat-suratan Jessie dengan beberapa temannya. Surat-suratannya sih nggak apa-apa, isinya yang bikin hatiku mencelos.
Jessie: A, kamu masih temen aku?
A: masih, tapi aku disuruh sama si B supaya cuek sama kamu sama C.
Hebat nggak? Rupanya pemalakan mental sudah dimulai. Aku sama misua cuma geleng-geleng. Yang kayak begini ini rentan buat Jessie, yang aku lihat-lihat cilik ati. Pantesan kalo dibawain bekal selalu menolak-nolak dan ludes tandas. Suatu kali aku pernah iseng-iseng nanya, "Jess, udah bawa bekal koq jajannya masih banyak aja?" Jawabannya juga bikin aku geleng-geleng, "Temen-temen pada minta, aku sendiri nggak kebagian. Katanya kalo aku nggak mau bagi, dia nggak mau temen aku." Oalah Nak, sampe segitunya... Anakku ini nggak bisa cuek bebek. Cara teman memandangnya, cara teman menjawab pertanyaannya atau cara teman bersikap ketika dia bicara akan sangat mempengaruhi mentalnya. Kalau udah gitu mulailah dia mengkeret, kayak orang bingung. Jaadi seperti digocoh mentalnya.
Dari dua kasus yang dialami anakku, aku jadi bisa meraba-raba kenapa defensenya kuat sekali kalau aku mau bicara dengan guru kelasnya. Gurunya mana tahu soal-soal begini, cara-cara persaingan tidak sehat dengan saling menggocoh mental. Gurunya cuman tau anak itu baik, pandai, dll...dll...! Aku sih sadar sesadar-sadarnya kalo ini kan baru dari data di tas Jessie, belon nyelidikin sampe ke rivalnya itu. Cuma yang lebih penting buat aku adalah memberitahu makna sahabat yang sebenarnya kepada Jessie. Kayaknya aku juga harus merhatiin her longing of friendshipnya, supaya dia jangan dimanfaatkan teman-temannya gara-gara keliatan banget kalo dia takut nggak punya temen. Heran juga aku, bapak ibunya soliter koq anaknya begini ya, mungkin ini gen resesifnya yang mencuat. Kayaknya musti belajar lagi deh tentang behavior.
Sisi positif yang Jessie dapatkan adalah bahwa di dunia ini banyak tipu muslihat, banyak serigala berbulu domba, dan banyak yang berteman karena ada pamrihnya. Jadi dia tau ganasnya dunia nanti melalui perilaku teman-temannya.
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 7:54 AM 0 komentar
Label: Jessie
Beranjak Besar
Kami cukup terkejut waktu mendengar keluhan si anak semata wayang kalau payudaranya sakit. Soalnya dia abis jatuh, jadi pikiran nih udah yang nggak-nggak. Jangan-jangan waktu jatuh kena ke dada, dan seribu satu macem jangan-jangan. Tetapi setelah aku amat-amati ternyata nipplenya mulai membentuk, mungkin proses itu yang bikin sakit. Barangkali seperti gigi yang mintip-mintip mau tumbuh.
Terus kepikirlah membelikan dia miniset, kayaknya kaos dalem aja udah nggak memadai. Nah ini, ternyata miniset itu ada bermacam-macam step, dari step 1 sampai step 3. Step 1 bentuknya kayak kaos dalem, tapi panjangnya sampai pertengahan dada, lalu plain sama sekali, nggak ada busanya. Step 2 panjangnya miniset berkurang sampai kurang lebih 2 cm di bawah payudara, lalu di bagian belakangnya ada tali menyilang. Step 3 udah seperti bra biasa, tapi busanya tipis sekali. Aku bingungnya tuh miniset nggak boleh dicoba. Akhirnya aku ukur-ukurin aja di badannya Jessie. Dibelilah si step 2, tapi yang nggak pake tali menyilang, yang biasa aja model talinya.
Namanya anak-anak, udah ketemu stepnya, dia bingung milih….gambarnya dan warnanya. Akhirnya dia milih yang ada bunganya gantung-gantung. Aku dan misua mesem-mesem aja, liat anak-anak yang mulai gede.
Terus kemaren malem, waktu antar temen nyari jas di Centro, dia ajak lagi cari miniset. Nah, kalo yang ini simple, nggak ada step-stepan. Bentuknya seperti bra, hanya ukurannya S dan pake karet elastis, jadi nggak pake kait. Begitu coba langsung pas. Jadi, dia beli lagi tuh miniset.
Lucunya, karena gambarnya juga lucu, udah rapi-rapi pake seragam, tiba-tiba Jessie bilang begini, “Nih Mam, liat, lucu
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 7:22 AM 0 komentar
Label: Jessie
Bonyok
Bukan bokap nyokap, tapi bonyok beneran. Nih ada kaitannya sama idungnya Jessie. Dalam perjalanan jemput dia Sabtu lalu, aku ditelepon kepseknya. Dengan suara takut-takut dia memberitahu, “Kak Ian, inii… tadi Jessie terdorong temannya pas pelajaran olahraga. Lalu, dia jatuh.”
“Lalu, kena apanya?”
“Hidungnya. Tapi tadi sudah diperiksa guru olahraganya dan nggak apa-apa, hanya memar dan luka berdarah di lubang hidung.”
“
“Oh nggak, nggak ada yang patah atau goyang. Jessie juga nggak pusing. Saya memberitahu supaya Kak Ian nanti nggak kaget waktu jemput dan lihat ada luka di mukanya Jessie. Kmi minta maaf atas kejadian ini.”
Lega banget waktu liat Jessie tergolong nggak apa-apa karena yang luka cukupan itu persis di bawah lubang hidung. Bagian hidung sebelah kiri bengkak sedikit, batang hidungnya lecet-lecet memanjang, dan dagunya memar biru, Selain itu punggung tangannya lecet dikit. Lutut kiri kanan memar biru dan lecet-lecet.
Menurut cerita Jessie, dia lagi jalan di pinggir lapangan, lagi ngincer bola. Tiba-tiba dari belakang dia ditabrak temennya. Langsung nyungsep ke paving block. Waktu nyungsep itu, tangannya refleks nutupin mata, makanya punggung tangannya luka.
Bapaknya yang kaget, pulang-pulang muka anaknya bonyok. Mau dibawa ke dokter, tapi anaknya sendiri udah nggak ngeluh. Ditanyain pelan-pelan ngerasa pusing, mual atau mata berkunang-kunang nggak waktu jatuh. Teteup aja ngegeleng.
Dengan kondisi muka bonyok, kemana-mana jadi malu. Jadi wiken kemaren di rumah aja, sambil ngomporin Jessie supaya nggak usah malu kalo ketemu orang. Namanya aja kecelakaan, dan orang jatuh itu biasa. Luka juga nggak bisa sembuh instant, walau udah ditaburin hau fung san yang sakti mandraguna… Jadi, kalo orang kiri kanan nanya ya dijawab aja kalo itu karena jatuh. Soalnya, anakku ini kan mentingin banget gimana dia tampil di depan orang, beda 180 derajat sama emaknya, ha…ha…ha…., jadi perlu dikomporin supaya Jessie gak berkurang pedenya.
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 4:31 AM 2 komentar
Label: Jessie
Ujian Kesabaran
Akhir Juli lalu Matahari Dept. Store ngadain diskon gede2an di bagian sepatu anak. Nah, sepatu sekolahnya Jessie udah waktunya diganti sih, cuma masih bisa dipake. Udah kena jahit pak sol sepatu dua kali, abisnya mangap sih setelah dicuci. Terus lapisan lu
arnya udah mulai retak-retak. Ngenes
Selain sepatu butut ini, masih ada sepatu olahraganya yang juga sama-sama butut. Jadi, di diskonan itu, kami mencari sepatu hitam yang syaratnya harus bisa untuk sehari-hari dan untuk olahraga. Jadi, sepatu sekolah itu satu aja, nggak usah gonta-ganti. Kan jadi nggak usah mikir ini hari olahraga apa bukan. Pokoknya ke sekolah ya pakenya seatu itu.
Pusing liat sepatu koq bececeran dimana-mana, emaknya aja cuman puny
a satu sepatu dan satu sandal tinggi untuk ke pesta. Lagian ribet kalo banyak sepatu (mood ngosongin rumah lumayan masih tinggi nih).
Cari punya cari, akhirnya ketemu yang oke. Sekarang tinggal ngelobby waktu memakainya. Sejak awal udah dibilangin kalo sepatu itu hadiah ultahnya, yang dibeli sekarang karena ada diskon mayan gede. Waktu sepatunya belum keliatan, Jessie sih manggut-manggut aja. Begitu sepatunya udah nangkring di depan mata, keinginannya untuk langsung memakai sepatu baru muncul.
Bagiku, ini sarana ujian kesabaran buat Jessie. Nggak banyak momen kayak gini, menunda sekian lama untuk mendapatkan sesuatu. Namanya anak semata wayang, jadi aku juga kadang-kadang suka ngebeli-beliin dia benda yang disukainya. Tapi, kayaknya udah waktunya Jessie belajar bahwa menunda itu buahnya manis. Latihannya dari benda yang nggak urgent kayak sepatu. Besok-besok, harapanku dia bisa belajar untuk benda yang lebih penting, misalnya beli hp, dll.
Buat Jessie, penundaan ini rupanya bikin dia manyun. Tapi lama- lama, saking banyak aktivitasnya, lupa juga. Tau-tau udah tanggal 9, tinggal 9 hari lagi. Selama dia lupa, aku diem-diem aja. Kalo pas inget, jawabanku klasik ibu-ibu, “Sabar…sabar…sabar…”
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 8:06 AM 4 komentar
Label: Jessie
Tidur Nyenyak
Sejak siang tadi, Jessie langsung tidur. Biasanya sehabis makan siang dia masih bikin-bikin prakarya atau baca-baca atau main congklak sama aku. Tapi karena tadi kami mengganyang otak sapid an ayam pop di rumah makan
Kalo udah gitu aku sering memandangi wajahnya. Kayaknya nggak ada kedamaian yang melebihi nuansa damai yang tersirat di wajahnya. Kenapa ya, kalo anak lagi tidur begitu, rasa sayang bisa membuncah deras? Wajahnya, dan mungkin juga wajah anak-anak lain, serasa nggak ada salahnya. Belum lagi napasnya yang teratur jadi kayak musik penenang, he…he…he….! Terus, posisinya itu lho, persis seperti waktu dia bayi tidur. Tangannya dua-duanya naik ke atas. Papinya bilang secara nggak sadar Jessie meniru maminya, sebab kata misua tanganku juga naik ke atas dua-duanya kalo lagi tidur. Mana kutahu…. (nyanyi dong).
Alhasil, sore ini aku lonely, abis dia tidur nyenyak. Udah dari pk 13.30, sampe 17.30, belon ada tanda-tanda dia mau bangun. Padahal, aku bolak-balik melulu dari kamarnya ke depan, dan mbak kami juga ngepel sama beres-beres di
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 7:17 AM 2 komentar
Label: Jessie
Kenangan 2 tahun lalu

Kemampuannya dalam bidang bahasa sungguh luar biasa, tetapi di bidang olahraga…., butuh kesabaran! Karena gangguan asmanya, kami sepakat untuk memotivasinya agar menyukai renang. Mula-mula dengan membelikannya kolam renang dari plastik, lalu renang di kolam anak-anak, sampai mulai mau renang bersama saya di kolam dewasa.
Sebagai ibu, tidak tega rasanya melihat anaknya stress seperti itu. Hanya karena inilah satu-satunya cara supaya asmanya sembuh, saya menguatkan hati setiap kali bentuk stresnya muncul. Segala daya saya kerahkan supaya ia mau les setiap minggu, dari memberi semangat sampai janji bermain di tempat kesukaannya setelah selesai renang. Berbulan-bulan kami mengalami up and down dalam les renang. Berkali-kali saya hampir menyerah karena merasa tidak ada gunanya menunggui anak les renang kalau hasilnya hanya tangisan dan muntah. Syukurlah tekad melihat anak ini mandiri, sehat dan punya semangat juang memampukan saya bertahan menjalani masa-masa tak enak itu.
Di tempat lesnya banyak anak baru dan juga mengalami hal yang serupa. Rupanya ini menjadi pemicu baginya untuk menunjukkan kalau dirinya sekarang sudah bisa. Sekarang ia sangat menyukai renang. Sekalipun teman akrabnya tak mau renang, ia tetap pergi les. Sekalipun hujan, asalkan gurunya ada di kolam renang, ia pasti bersikeras ingin renang. Lega rasanya berjalan bersamanya mengatasi rintangan berat dalam hidupnya.
PS: Tulisan di atas pernah aku kirimkan ke salah satu lomba ibu dan anak. Kemarin, waktu antar Jessie les, ada anak laki-laki usia 6 tahun yang baru belajar renang, nangis-nangis juga. Teringat kenangan 2 tahun lalu saat Jessie mulai belajar renang.
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 4:40 AM 2 komentar
Label: Jessie
Genap Seminggu
Beberapa hari lalu ia kepengen jadi ketua kelas. Aku sih santai aja, aku bilang enakan jadi warga kelas biasa, jadi nggak terbuang waktu belajarnya. Jiwa kompetitornya yang tinggi rupanya agak menyulitkannya melihat hal ini. Emang dasarnya anaknya suka berpartisipasi, jadi kali dia nggak tahan kalo di kelas dia nggak punya peran. Nurun aku apa bapaknya ya? Ha....ha...ha...
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 8:24 PM 0 komentar
Label: Jessie
Laste
Dua hari terakhir liburan Jessie ini diisi dengan banyak kesibukan. Justru menjelang liburannya abis, baru muncul berbagai ide.
Pertama, dia mau memberi variasi pada baju boneka tangannya. Minta diajarin jahit bis untuk lengan kanannya. Jadilah, abis makan malam aku ngeluarin peralatan jahit sederhana. Mulai dari memasukkan jarum, lalu gimana bikin bis nya, terus gimana nempelinnya ke boneka tangan itu.
Kedua, jalan-jalan searian. Abis liat kepastian kelasnya, kami bertiga langsung menuju Amplaz. Wah, kalo ke sini bisa makan 3-5 jam deh, saking nyamannya tuh tempat. Mau nonton Kung Fu Panda, saking tuh fil ngedidik banget. Dapet karcis yang tempat duduknya enak pk 17.30. Jadi kita makan siang dulu sambil nge-net. Asyik banget surfing 2 jam koq gratis, alias makan saing plus. Abis itu maen ke Timezone, ngeliat buku di Gramedia dan beli beberapa kebutuhan kue, aku mau praktek bikin katetong ama Jessie. Mudah-mudahan jadi, he…he…he… Terakhir baru nonton, ketawa ketiwi, sampe di rumah lagi pk 20.00, dari pk 11.30, bayangin!
Ketiga, mencatat renungannya setiap hari. Nah yang ini agak mengejutkan aku. Dia emang ngeliat aku saat teduh, tau kalo aku melakukannya rutin, tapi dia dapet ide sendiri nyatet saat teduhnya. Kalo ditanya kenapa membuat catetan, jawabnya, “Soalnya Jessie cepet lupa, jadi mau dicatet yang udah diajarin.” Aku yah manggut-manggut mendukung, asal nggak cuman keinginan sesaat aja.
Hari-hari terakhir yang sibuk dan mengasyikkan!
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 5:11 AM 4 komentar
Label: Jessie
Ciecie apa Kakak?
Aku mendapat tugas supervisi lapangan ke Kartasura. Ya seneng, ya deg-degan. Seneng karena jalan-jalan adalah kesukaanku. Deg-degannya karena aku belum pernah nyetir sejauh Kartasura. Jam terbang luar kotaku baru sampe Magelang.
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 4:52 AM 0 komentar
Label: Jessie
Eksplorasi Bakat Anak
Pertama kali aku cobain ke nari. Sejak umur 2 tahun dia udah aku ajak ke sanggarnya Didi Nini Thowok. Kira-kira 3x datang tangan dan kaki mungilnya mulai bergoyang-goyang mengikuti irama gamelan. Hanya saying, terputusa karena dia masuk Kelompok Bermain siang hari, jadi abis sekolah udah lelah. Waktu itu rumahku di ujung dunia, jarak ke tempat nari kira-kira 20 km. Untuk ukuran Yogya, segitu tuh jauh banget. Narinya nyambung lagi sejak umur 4 tahun sampai sekarang. Apakah Jessie berbakat nari? Mungkin ya, karena mamaku mudanya penari ballroom, lhoh…jauh banget linknya? Ha…ha…ha…! Mungkin juga nggak. Bakat itu muncul karena dia rajin berlatih di rumah dan di les, lalu sering diajak pentas sama sanggarnya. Memang keliatan sedikit lebih karena kalau denger musik, biasanya Jessie langsung goyang dan merancang gerakan tari.
Selaen itu aku nyobain dia maen piano. Lesnya sih piano, tapi alat di rumah hanya keyboard buatan
Di bidang olahraga aku ‘maksain’ dia renang. Bagus buat asmanya dan renang itu olahraga yang paling kecil risiko kecetit ototnya, karena otot jadi lentur di dalam air.
Pendek panjang, eksplorasi bakat anak butuh kesabaran, kemauan coba-coba dan kejelian melihat golden age nya. Kalo nggak, jadilah dia seperti generasiku yang nggak diapa-apain ortu dan akhirnya hanya menjalani rutinitas. Generasi penerus seyogyanya sih lebih bagus dan lebih adaptif.
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 7:12 AM 1 komentar
Label: Jessie
Diskusi Siang
“Jessie tau darimana kalau dia anak angkat?”
“Ya nggak apa-apa, tapi gimana gitu lho!”
“Yang penting
“Apa Mam, contohnya?”
“Ya anak kandung tapi nggak dirawat. Dibiarinin aja mau ngapain sesuka hatinya. Mau belajar boleh, nggak mau sekolah juga boleh. Mau makan boleh, nggak mau makan juga boleh. Kayak- kayak gitu contohnya.”
“Misalnya kalo mau beli maenan disuruh pake uangnya sendiri, gitu?”
“Bisa juga. Tapi kalo gitu
Sampe di situ diskusi kami berhenti, soalnya makan siangnya udah selesai. Aku bersyukur topic ini muncul, jadi Jessie bisa tau kalo status anak angkat itu nggak apa-apa dan bukan sesuatu yang hina. Banyak
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 2:50 PM 4 komentar
Label: Jessie
Di Balik Layar
Andaikata nih jadwal pertunjukan pk 11.30, dia udah musti standby di sanggar tari sejak pk 06.30. Lama bener? Nah, kalo itu pastinya berhubungan dengan tata rias. Sejak pertama bergabung dan mulai pentas
Kalo pas narinya biasa-biasa, dari rumah udah diminta pakai bedak dasar. Paling nggak foundation dan bedak. Tapi, kalo tarinya membutuhkan riasan khusus, kayak tari kelinci, riasnya semua dikerjakan di sanggar. Biasanya satu anak membutuhkan waktu 30 – 40 menit untuk berhias. Dan, nggak sembarang orang boleh pegang riasan, karena itu menentukan tampilan si penari. Kalo yang lagi ngerias Jessie ini namanya Pak Hendrid, ciamik punya deh riasan dia, halus jadinya.
Karena kekhususan itu, makanya kalo ada enam penari, tinggal dikaliin aja tuh. Kira-kira 2 jam untuk dandannya aja. Belum pake kostumnya dan lama perjalanan menuju tempat pentas. Mending- mending kalo sampe di
Jadi, selaen rias di sanggar, ada kru yang bertugas bawa alat rias ke tempat pentas, untuk perbaikan sebelum akhirnya mentas.
Kalo capek dan lelah kayak gitu, ngapain capek- capek ikut di sanggar tari? Mendingan di rumah nonton tivi apa jalan- jalan. Nah, balik lagi ke panggilan hati. Bicara soal ini, Jessie sangat menikmati saat-saat sebelum pentas.
Sebelum pentas memang penuh dinamika, yang kami harapkan bisa memperkaya nuansa jiwa Jessie. Terus maju ya, Nak!
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 5:17 PM 6 komentar
Label: Jessie
All Round
Pagi ini aku merasakan betul manfaat pelajaran di SMP yang dulu betul-betul nggak aku sukai. Paling sebel pelajaran musik. Abis, nggak cuma teori tapi juga praktik bikin tangga nada dengan bermacam-macam kunci, nyanyi bahasa Latin sampe maenin alat musik. Tapi yah… alat musik anak sekolahan zaman dulu
Pagi ini Jessie kebingungan ngerjain peer les pianonya. Dia diminta bikin nada ¼ dan nada 1/8 sebanyak 5 soal. Bingunglah dia. Di sini nih aku ngerasa manfaat dulu pernah belajar musik beneran di sekolah. Jadi, aku ajak dia lihat lagi apa yang diterangin sama guru lesnya, terus aku ajarin deh gimana ngeletakin tuh toge-toge pake bendera.
Wualah, jadi ibu nih butuh upgrading terus. Kalo nggak abis anggaran belanja buat les ini dan itu. Terus, anaknya juga gak pede, kalo pas nggak ngerti di pelajaran dan nyaknya cuman lola lolo gak ngerti apa-apa. Bukan cuman musik yang aku harus menggali ingatan, tapi juga belajar tulisan mandarin/ hanzi. Nah, yang ini aku sangat terbantu dengan les mandarin untuk ortu murid yang diselenggarakan sekolah anakku. Jadi, aku ngerti basicnya gimana urut-urutan nulis satu karakter/ hanzi nya. Kalo nggak? Babak belur deh si Jessie
Itu bagian pelajaran. Bagian olahraga kayak mukul bola kasti, maen basket ato maen biliar dll.nya, urusan bapaknya deh. Jadi adil pembagiannya, kalo nggak bisa kecetit nih. Ha…ha…ha…
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 7:18 AM 0 komentar
Label: Jessie
Narsis
Narsis ternyata menjangkiti si anak semata wayang. Jessie seneng sekali waktu diwawancara wartawan Kompas. Itu juga kejadiannya tak dinyana. Jadi, seperti kebiasaannya selama 4 tahun ini, setiap Kamis dia les menari. Kalo telat dikit, bisa mcc alias mencucu alias mancung bibirnya.
Sebelon berangkat les, dia masih latihan tari terbarunya, Pak Pung. Begitu nari, lupa deh dia sama sekelilingnya. Heran juga kenapa dia jadi seneng nari. Kata emanya, nurun dari dia. Mamaku emang doyan dansa. Bayangin aja, di tahun 50-an, setiap pesta ulang tahun, mesti ada dansanya, tak peduli betapa kecil rumah yang empunya pesta. “Darah” itu rupanya nyampe ke cucunya ini.
Bedanya, cucunya nari tradisional kreasi baru di sanggarnya Didik Nini Thowok, emanya dulu ballroom dance. Pertama-tama dia les nari, emanya protes melulu. Katanya bagusan ballroom dance, daripada tari tradisional. Cuma
Lagi asyik-asyiknya nari, tiba-tiba ada yang dating dan langsung memotret anak-anak yang lagi nari. Kami, ibu-ibu yang nungguin anaknya nari, Cuma melirik aja. Paling-paling buat dokumentasi sanggar, piker kami, ngobrol jalan terus, he…he…he…! Setelah tarian selesai, tiba-tiba si pemotret ngedatengin aku dan memperkenalkan dirinya sebagai wartawan Kompas. Lalu diajukanlah berbagai macam pertanyaan, seperti: sejak kapan anaknya menari di sini, kenapa diajak ke sanggar ini, selain tarian tradisional ikut tari modern lainnya nggak, apa harapannya dengan mengikut sertakan anaknya menari di sini. Setelah Jessie gabung, dia juga ditanya-tanyain.
“Kak, ini mau dimasukin ke tivi ya?”
“Bukan, Kakak dari Kompas.”
“Ooo…, jadi nanti aku dimuat di Kompas? Kompas Yogya? Berarti, terkenal dong ke seluruh Yogya dan
Belum selesai, sampe di bawah waktu ketemu temen-temen narinya, dia bikin pengumuman, “Eh…eh…, aku mau dimuat di Kompas lhoh?” (aduh…aduh… piye iki?)
Nggak cukup, ternyata. Sampe di rumah sahabatku, sekali lagi Jess pengumuman,
“Tante…, Tante…, langganan Kompas
“Lho memangnya kenapa koq sampe masuk Kompas?”
“Tadi aku diwawancara sama wartawan Kompas abis nari.”
“Ooo…”
Sekali ini aku pasrah deh ngeliat anak semata wayang narsis abizz!
Waktu mau tidur malem Jessie nanya gini, “Mam, emang aku narsis ya? Bagus nggak gitu? Boleh nggak sih? Mami narsis nggak?”
Nah, begini nih punya anak ceriwis. Jadi inget papinya suka komentar gini kalo aku udah ngeluh betapa bawelnya Jessie, “Lhoh! Mami mau punya anak yang cerdas apa yang dongok?”
Skak Mat!!!!!!!!
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 8:26 AM 0 komentar
Label: Jessie
Pertanyaan Pertama Tentang Kematian
Sore kemaren, waktu lagi makan malem bareng, tiba-tiba Jessie nangis sesenggukan. Mami en papinya ampe bingung, karena nggak ada sebab apa-apa tiba-tiba nangis. Lagi mellow kali yak.
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 8:33 AM 2 komentar
Label: Jessie
