Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

Sate Klathak

Pertama kali aku diperkenalkan dengan sate jenis ini oleh temannya temanku, lebaran tahun lalu. Waktu itu kami pergi siang-siang dan perjalanan terasa amat jauh. Karena yakin akan mappingku, aku tak bertanya-tanya ke arah mana, yang aku ingat adalah ringroad parangtritis belok kiri lalu perempatan belok kanan. Perjalanan pertama ke sana akhirnya pake nyasar-nyasar.

Setelah itu aku menghafalkan landmarknya. Kalau dari arah kota Yogya, ambil rute menuju Parangtritis, yaitu Jl. Parangtritis. Begitu sampai di perempatan ringroad, belok kiri ke arah Imogiri. Perempatan lagi, belok kanan. Nah, ini jalan desa, agak jauh baru ada perempatan lagi. Papan petunjuk nya: ke kanan itu ke Rumah Budaya Tembi, ke kiri itu ke Pleret. Ambil jalan menuju Pleret. Di kiri kanan itu sawah, jalan terus sampai di kanan jalan ada gedung olahraga. Maju lagi, kira-kira 100 meteran, di kiri jalan itulah sate klathak Pak Pong.

Istimewanya, warung sate ini menghadap sawah hijau nan luas membentang. Jadi serasa berada di manaaa gitu. Lalu, karena nir suara televisi atau tape, terdengarlah suara sepeda dikayuh di kejauhan, saat seorang bapak melintas di teritisan sawah dengan sepedanya. Nuansa itu yang membuat kami sekeluarga sering menghabiskan minggu siang di sini.

Sate klathak itu tusuk satenya adalah jeruji sepeda, disajikan apa adanya.
Konon bumbunya hanya bawang merah dan garam, jadi rasa satenya ini gurih dan polosan, soalnya tak ada bumbu lainnya dan warnanya gak coklat bakaran. Mungkin karena tusuk satenya itu jeruji sepeda, jadi panas yang masuk ke dagingnya merata. Dagingnya jadi empuk dan sekian persen prengus kambingnya juga hilang. Kalau pesan harus dikatakan bahwa maunya sate klathak. Soalnya, kalau bilang sate kambing aja, ya dibuatkan sate biasa dengan tusuk sate bambu itu. Kami pernah kecele suatu siang waktu bilang sate kambing, yang datang bukan sate klathak. Terpaksa disantap, tapi dagingnya tak seenak kalau diklathak. Seporsi sate klathak itu Rp 10.000.

Ciri khas lainnya itu teh hangatnya. Mantap, karena disajikan bersama dengan poci teh kaleng zadul, yang loreng-loreng hijau itu. Biasanya nasgitel, disajikan bersama dengan gula batu.

Lalu, kemarin malam, kami berdua mencoba sate klathak malam hari. Dari Pak Pong maju lagi, ada perempatan belok kanan. Persis di gang sebelah pasar ada papan petunjuk kecil: Sate klathak Pak Bari. Dia berjualan di dalam pasar. Bayangan kami dari rumah, pasarnya akan seheboh pasar Biru Maru di Donggala sana. Ternyata pasarnya bersih dan modern, udah dikeramik semua. Jadi, makan lesehan gitu terasa nyaman. Kalau di sini nasi putihnya diberi kuah gule. Tehnya juga sama enaknya. Kami makan 2 porsi sate klathak, 2 nasi putih dan 2 gelas teh habisnya Rp 16.000. Asyik kan?

Jadi, sate klathak siang, sate klathak malam, sama enaknya!

Icip-icip Masakan Londo

Mungkin Yogya terlihat sebagai target pesir kuliner yang menjanjikan. Nggak heran, banyak resto muncul di sana dan di sini. Bahkan rumah-rumah kuno berubah wajah jadi resto or warung kopi. Tempat kost ku dulu di Sagan juga berubah menjadi seperti itu. Itu hanya salah satu contoh nyata.

Yang kami datangi beberapa hari lalu itu resto di belakang toko meat and grocery. Keliatannya boleh juga, jadilah kami mencobanya. Untung saja Jessie sudah makan sehabis renang, jadi kalau pun tak ada menu yang cocok buatnya, kami akan tenang, karena dia sudah makan.

Begitu disodori menu, yang aku lihat pertama itu harga teh hangat. Ternyata...9.500. Wah, ini kejutan. Jadilah kami mencoba menu-menu ringan, yang harganya terjangkau. Kalo udah begini nih, realistis aja. Daripada mesen menu yang keliatannya enak tapi nggak cocok sama selera lidah, bisa berbuntut-buntut penyesalannya. Akhirnya kami memilih steak sandwich, beef that salad dan soup cream mushroom.

Nah, di depan resto itu, hanya terpisah lemari pembatas, ada tokonya. Sambil nunggu pesenan dateng, aku liat-liat ke sana. Segudang nama asing menyerbu otakku. Dari sekian puluh item, paling yang aku kenal hanya yoghurt dan oatmeal. Nah ini asyiknya bertualang kuliner, jadi tahu ini dan itu. Cuma malam itu aku males bertanya, hanya menyerap aja nama-nama itu. Suatu kali kan bakal ketemu kalo baca majalah atau koran.

Tunggu punya tunggu, keluarlah snack stick keju, free of charge, dan lumayan enak. Agak padat sih, nggak kayak stick keju biasanya. Nggak lama keluar tuh teh hangat yang 9.500. Buset deh, cangkirnya gedhe banget, ditambah biskuit kelapa yang antik rasanya. Jadi, yang penting cara penyajian, maka harga akan mengikutinya, he...he...he...

Steak sandwich datang, waw....lumuran lemak dari striploinnya sungguh menggiurkan. Empuk lagi, jadi ayem yang makan. Yang antik itu beef saladnya. Dagingnya empuk dan rasanya enak. Cuman nih salad, mungkin karena dari Thai, jadi ada sounnya. Bawang merahnya juga lumayan banyak. Sampe sini sih aku masih bisa menikmati dan merasa enak. Suatu kali, tergigit sesuatu, begitu digigit rasanya aneh dan menguar semacam wangi daun atau biji-bijian. Aku sampe nyariin tadi ngegigit apa ya. Karena aku nggak gitu suka, makannya jadi berhati-hati. Beberapa kali masih terjadi, sampe Jessie pikir aku makan daun seledri. Padahal daun seledri kan keliatan dan udah dipinggirin semua. Aku menduga itu semacam biji kecil berwarna hitam, tapi gak tahu namanya.

Bersamaan dengan cream soup disajikan roti panjang dengan daun-daun yang ikut dipanggang. Tuh roti rasanya enak, hanya toppingnya itu yang antik, warnanya hijau kehitaman. Kalo nggak salah sih ada pastillo-pastillonya. Jessie kalo udah liat makanan yang agak-agak gelap begitu langsung nolak (untung rawon sama brongkos masih doyan, itu masakan andalan ibunya je).

Jadi, kesimpulan malam itu, musti berani nyoba. Suatu kali kalau berada di tempat yang asing samsek, nggak lari ke fried chicken mulu. Malam itu lidah dikorbanin sedikit, indra pengecap dibiarinin bertemu rasa yang aneh-aneh, untungnya lambung dan pencernaan nggak berontak.

Termakan Iklan

Suatu kali di surat kabar keluarga kami muncul artikel kuliner tentang gule balung a.k.a. lelung. Seperti biasa, aku langsung tertarik karena kambing itu makanan wajib kalo tekanan darah drop. Nggak ada yang secepat itu membuat mataku kembali terang, kepala nggak pusing dan hati jadi nyaman.

Cuma, tempatnya jauh sekali. Aku yang tadinya menggebu-gebu jadi melorot, karena lelung ini adanya di daerah Bantul. Iu daerah yang cukup asing bagiku. Jadilah lelung hanya tinggal angan-angan. Tapi, kali bawah sadarku masih tetep kepengen. Jadi, waktu aku mengganti tali kipas di bengkel langgananku, aku cerita soal lelung ini. Nah, Pak Geng, sang pemilik bengkel itu paham luar dalam soal Bantul, terlebih lagi soal makanan yang khas Yogya dan tempatnya nylempat-nylempit, Selesai aku cerita, beberapa hari kemudian kami mendatangi tempat itu.

Sialnya, aku tak membawa serta artikel di koran itu. Hanya berdasarkan ingatan bahwa lelung itu adanya di daerah Palbapang atau Srandakan. Perjalanan ke Bantulnya sih lancar-lancar aja, begitu sampe di alun-alun kota kami mulai bingung. Ke arah mana ya tepatnya gule itu. Masuk sampe jauuu...h mendekati tempat batik Bantul, lalu kembali lagi. Akhirnya keliatan di pinggir jalan itu papan namanya yang kecil, Lelung Jodog.

Karena nyarinya udah kelamaan, minatku mulai hilang. Apalagi udara bukan main panasnya. Saat mencari aku malah membayangkan enaknya kalo aku di rumah aja duduk di teras sambil baca, ha..ha...ha...kurang sopan, sudah nyeret-nyeret orang tua nemenin nyari lelung malah kehilangan minat.

Warungnya sederhana, ubinnya pun hanya semen biasa. Warung ini mengingatkanku pada warung-warung di pedesaan sekitar Prembun, tempatku KKN. Tentu dengan segala atribut keramahan khas pedesaan.

Begitu pesanan datang, wuuuih banyaknya!! Nah, trouble muncul waktu aku menikmati lelung itu. Alotnya pol! Akhirnya aku hanya makan satu potong, sisanya aku bungkus deh. Pak Geng senyam-senyum liat orang kota termakan iklan.

Tapi, kekesalanku sirna begitu lihat Jessie makan lelung ini dengan semangat 45, sambil tak henti-hentinya bertanya, "Mom, beli di mana nih gulenya? Koq enak? Hmm...enak...enak nih. Nambah aah...!" Yei, emaknya kepayahan ngabisin satu potong, malah anaknya lahap.

Ya syukurlah, tak sia-sia ke Jodog, asalkan Jessie seneng.

Tahu Takwa

Beberapa hari lalu ada yang mengirim makanan. Begitu dibuka, ternyata itu masakan rumahan waktu misuaku masih kecil. Tergolong masakan orang totok, karena yang peranakan jarang memasak seperti ini.

Dia memasak tahu takwa dengan daging giling sapi. Waktu aku tanya bumbunya, karena misua seneng sekali dengan masakan ini, katanya gampang. Cuman bawang putih, bawang bombay, kecap manis, kecap asin dan saus tiram. Ternyata nggak jauh-jauh dari masakan totok lainnya, asal ada bawang putih, beres semua.

Rupanya tahu takwa atau tahu kuning itu digoreng dulu. Lalu bawang-bawangan itu ditumis semua dengan bumbu lainnya bersama dengan daging. Begitu dagingnya mateng, tahunya dimasukkan. Kecap baik-baik rasanya, jadi deh.

Koq tiba-tiba aku jadi kebayang tahu kuning sama sayur asin, bumbunya juga mirip-mirip itu, hanya ada yang menambahkan irisan cabe merah besar untuk memberi sedikit rasa pedas. Nah, tahu takwa dan sayur asin ini paling enak di warung Mriki, dekat Atma jaya. Tapi, itu sih zaman dulu banget deh. Pernah aku dengar warung itu pindah ke daerah Babarsari mendekati kampus baru Atmajaya. Tapi, dicari-cari gak pernah ketemu.

Kayaknya satu per satu makanan jadul muncul di sekitarku deh, ha...ha...ha...

Wedang Tahu

Kira-kira enam bulan lalu, di Jalan Magelang, main road nya rumahku, ada yang membuka gerai wedang tahu. Bukanya mulai pk. 18.00, karena dia berjualan di emperan toko gantungan kunci karet.

Aku senang sekali ada wedang tahu. Penganan ini aku kenal sejak kecil, waktu aku sering bermain di rumah temanku di Mangga Besar VIa. Mulanya sih nggak doyan, tapi lama-lama doyan beneran. Herannya tukangnya nggak lewat di gang rumahku di Mangga Besar I. Sekiaaaaan tahun nggak makan, nah pas di rumah adikku ada yang lewat. Langsung aku beli deh, hmmm...yummy....!

Wedang tahu ini kayak bubur kembang tahu. Bentuknya seperti bubur sumsum. Diambilnya pelan-pelan dengan menyendoknya. Lalu, diletakkan di mangkuk kecil, dan diberi kuah dengan rasa jahe. Di Jakarta disebutnya kembang tahu. Di Surabaya namanya tao hwa (bacanya thaa hwa). Tao hwa ini bahasa Mandarin. Dari taohu = tofu= tahu. Hwa= kembang. Jadi sebenernya sih sama aja, kembang tahu...ha...ha...ha..., hanya di Surabaya lebih kental nuansa Tionghoanya.

Kemarin malam, sepulang rapat, aku tiba-tiba pengen makan kembang tahu ini. Lalu aku pesan dua untuk dibawa pulang. Sambil menunggu disiapkan, iseng-iseng aku tanya sama penjualnya, dia berasal dari Jakarta atau bukan, karena di Yogya baru dia yang jual kembang tahu. Ternyata dia asalnya dari Surabaya, katanya, "Kalo di Surabaya disebutnya tahwa." Nah, kan...betul, tapi penyebutannya udah beda lafalnya, sesuai dengan dialek si penjual. Lalu, dia punya kesadaran brand/ brand awareness. Di dasar mangkuk plastiknya di tempeli stikernya. Belum lagi di bandana seragamnya ditulisi websitenya: www.tahupongwedangtahu.com. Hebat juga nih Bapak, wedang tahu dimasukin internet. Pastinya bukan buat jualan di sana, tapi untuk membangun brand nya. Yang lebih hebat, dia nggak begitu aja menamakan jualannya dengan kebiasaan di Surabaya, tapi disesuaikan dengan alam pikir orang Jawa Tengah yang terbiasa dengan wedang ronde. jadilah nama jualannya wedang tahu.

Sekarang cabangnya udah dua, daaan...dia punya sepeda yang berkeliling jualan kembang tahu. Sayang belon lewat di gang rumahku. Padahal, yummy banget kalo menyantap itu sore-sore menjelang malam, sambil duduk di teras menatap senja...mak nyus!