Showing posts with label Sketsa Jiwa. Show all posts
Showing posts with label Sketsa Jiwa. Show all posts

Kisah Sebuah Lampion

Ketika aku lewat di daerah sekitar Giwangan, banyak lapak menjual lampion tradisional. Lampion itu bermacam-macam bentuknya. Rangkanya terbuat dari bilah-bilah bambu. Tangkainya terbuat dari batang bambu yang ujungnya dibuat berlubang untuk tempat lilin.

Jessie senang sekali aku belikan lampion itu. Aku memilih bentuk bintang, karena itu yang paling netral. Yang lain berbentuk bulan sabit, mesjid, kubah mesjid dan bentuk-bentuk keagamaan lainnya. Memang sejatinya lampion itu dipakai dalam arak-arakan malam takbiran. Hanya, aku suka bentuknya dan dengan membeli ini, aku mulai mengajarkan anakku menghargai keberbedaan.

Lampion itu masih ada sampai sekarang, dua tahun setelah aku membelikannya. Setiap dia lihat lampion itu, dia akan teringat jalan-jalan malam sekeliling Jl. K. H. Ahmad Dahlan melihat orang berbaris mengumandangkan kebesaran Sang Pencipta.

Harapanku sih anak kami ini tak akan gamang hidup di dunia yang penuh warna.

Penghayatan

Kalo dari asal katanya, hayat itu sama dengan hidup. Dulu aku masih mengenal buku dengan judul ilmu hayat, nggak laen nggak bukan sama dengan biologi sama dengan sains pada generasi Jessie sekarang. Kalau ditambah awalan peng dan akhiran an = penghayatan= berarti penghidupan. Menurutku bisa dikonotasikan dengan mencoba menghidupkan atau menjadikan hidup.

Hari-hari ini tanpa aku bisa kendalikan, banyak ingatanku yang tau-tau lagi membayangkan sengsara Tuhan Yesus menuju penyaliban. Mungkin karena tahun lalu tiba-tiba aku mengalami kematian seorang sahabat, lalu bayang-bayang kematian menjadi sesuatu yang akrab denganku. Tahun-tahun lalu, paling banter aku menghayati kematian-Nya hanya dengan mendengarkan khotbah Jumat Agung. Nggak seperti waktu kecil, saat aku menghayati iman Khatolik, upacara sudah dimulai sejak Kamis, dan aku harus pakai baju warna gelap untuk menandakan kedukaan. Waktu itu di Protestan kayak gitu-gitu nggak ditekankan.

Saat menghayati inilah aku melakukan pencarian ke dalam diri. Betapa banyak kekeliruan, salah dan dosa di dalam hidupku. Nggak usah yang berat-berat, soal melanggar lampu merah aja, sering banget aku melakukannya. Apalagi dosa yang lebih serius, yang hanya diketahui otakku dan nurani yang sengaja aku bungkam, agar tak ada rasa salah dan tak nyaman. Itu baru di tahap dosa. Belum lagi, ndablegnya aku kalo soal mengampuni. Padahal yang dilakukan Tuhan Yesus dengan kematian-Nya adalah menanggung dosa umat manusia agar manusia beroleh pengampunan. Seharusnya kan aku juga mau dan bisa mengampuni, tetapi nyatanya........ hanya Dia lah yang tahu.

Saat-saat penghayatan ini juga menimbulkan gelisah dan tanya dalam diriku. Masak sih aku mau tinggal dan berkubang dengan dosa-dosaku? Aku jelas nggak mau. Berhari-hari mikirin ini sampai aku tiba di ujung pencarian: memahami dengan benar dan mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.

Keliatannya pendek, hanya satu kalimat, tapi mewujudkannya perlu usaha keras, nggak jera kalau suatu saat jatuh dan yang terpenting aku mau bertaut kepada-Nya, supaya aku senantiasa dikuatkan dan diteguhkan. Konkritnya: lebih giat ber-PA dan berdoa, hidup dengan penuh cinta kasih so aku jadi nggak marah-marah melulu sama anak semata wayang, bekerja dan melayani lebih sungguh-sungguh. Aku mau lihat ah resolusi Paskahku ini beberapa bulan ke depan. Aku juga terus mendoakan supaya bukan hanya kematian-Nya yang aku hayati tetapi juga merayakan kebangkitan-Nya, jadi aku selalu disertai-Nya karena Dia selalu berkata, "Jangan takut, hanya kuatkan dan teguhkanlah hatimu..."

Nangis Dua Kali

Kemaren malam, akhirnya jadi juda nonton Laskar Pelangi. Perjuangan untuk nonton ini seminggu lebih karena menyesuaikan dengan jadwal sahabat keluarga yang cukup padat.

Film ini bagus di dalam kesederhanaannya. Sebenernya aku tertarik kepada bukunya setelah kawanku berulang kali ngomong kalo cara penulisan Andrea Hirata itu lain dari yang lain. Halaman-halaman awal aku sempat bosan dan nggak bisa terima dengan istilah-istilah dari keyakinan yang lain. Tapi, begitu mata hatiku terbuka akan misi pendidikan di dalamnya, lanjuuut sampai halaman terakhir.

Film emang nggak akan pernah sebagus bukunya, hanya film ini sekuelnya terputus-putus. Nggak ada alur yang kontinu. Ketolong aja dengan konten yang berbobot.

Pikiran nih film nggak akan deh nguras air mata seperti film Denias, eh… waktu suasana film mulai muram, waktu tokoh sekolah itu meninggal di atas meja kerjanya dan waktu guru satu-satunya di sana tak berdaya mengajar lagi, perlahan namun pasti airmata menitik juga. Lebih-lebih waktu Lintang terpaksa berhenti sekolah karena ayahnya meninggal, sementara di rumah ia hanya sendiri dengan ketiga adiknya yang masih kecil, waa…nangis bombay deh.

Waktu keluar bioskop aku dengar ada penonton yang bilang begini sama temennya, “Wah, aku jadi semangat lagi, aku mau kuliah lagi ah!” Nah begini baru namanya sadar, tinggal ngelakoni aja tekadnya itu.

Pertanyaan kritis yang sempat aku dan misua bahas adalah ke mana sekolah Muhammadiyah yang lain?

Trilogi Donna van Lierre

Nggak tau kenapa, kemarin dulu aku kepengen baca lagi tulisannya Donna van Lierre. Bukunya ada tiga yang aku tahu. Yang pertama Christmas Shoes. Waktu Khun bilang buku ini bagus dan mau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, aku agak pesimis. Tapi aku baca juga aslinya, dan aku nangis Bombay. Rasanya sedih gitu ngebayangin hidup seorang bocah lelaki yang berjuang membelikan ibunya sepatu sebagai hadiah terakhir sebelum ibunya meninggal. Terus, waktu yang tahu penerjemahnya (Pdt. Joas Adiprasetya) juga piawai bahasa Inggrisnya, aku tambah optimis kalo novel ini bakal laku di Indo.

Bukunya yang kedua aku baca waktu liburan sekolah tahun lalu di Jakarta. Untuk mempertahankan ritme bangun pagiku, aku sengaja bawa novel itu. Baca sambil nerjemahin kata-kata yang jarang aku jumpai. Christmas Blessing nggak segitu menyentuh seperti Christmas Shoes, jadi nggak sampe nangis bacanya.

Nah, bukunya yang ketiga, Christmas Hope, agak lain. Prolognya agak panjang dan ceritanya tentang seorang social worker. Kerja model begini agak jarang di Indo, walopun di sana rupanya sudah jadi hal yang biasa. Aku mulai tersentuh waktu masuk bab 3. Social worker ini ternyata pernah ditinggal mati anak tunggalnya, dan hidup perkawinannya sepoh tanpa kehadiran Sean. Hidupnya berubah waktu dia terpaksa nerima kehadiran Emily, gadis 5 taon, yang ditinggal mati ibunya.

Baru sampe situ sih bacanya, hanya aku jadi tau kalo efek kematian itu begitu kuat. Bisa menggoyahkan pernikahan, bisa menutup jalur komunikasi pasutri, bisa merusak hubungan harmonis anak dan ibu, bisa membuat orang menarik diri dari dunia. Hanya cinta tulus yang bisa membalut perasaan kehilangan itu. Novel ini ‘masuk’ karena aku udah ngeliat kematian dari dekat. Kalo belon, mungkin efek novel ini sedikit hambar.

Paling nggak trilogi ini memperluas ranah afeksiku. Ada serpihan kehidupan yang bisa aku rasakan, walopun aku belum pernah mengalaminya.

Memori

Berhubung memori hape penuh, aku terpaksa menyeleksi nama-nama di hape. Begitu sampe di huruf J, langsung tertera di sana nama almarhum sahabatku yang meninggal Desember 07. Wah, aku sampe deg-degan mau menghapus namanya. Rasanya seperti mengkhianati dia, padahal kepergiannya udah aku relakan, artinya memang jalannya kalau dia harus pergi secepat itu.

Heran ya, kehilangan orang yang kita sayangi bisa begitu lama penyembuhannya. Aku nih cuma teman, yang kalo ke penjahitan lihat dia sedang mendisain kaos produksi kami. Kadang-kadang aku berdiskusi sama dia, tapi kebanyakan sih aku lihat dia lagi merenung, atau jalan-jalan di rumahnya yang luas, atau mengetuk-ngetukkan pensil sambil merokok untuk mendapatkan ide.

Apalagi istrinya yang ditinggalkan mendadak ya? Pernah aku mencontoh suaminya ngeguntingin kain kecil-kecil untuk contoh warna, lalu kawanku melihat contoh warna itu. Langsung mukanya meredup dan kami terhanyut kenangan berjuang bersama. Pernah juga dia beberapa kali kepeleset manggil aku Ian, padahal selama ini dia sengaja manggil aku Mar untuk membedakannya dengan nick name alm Mas Janni. Dan….secara naluri aku tau kalo dia kangen dengan suaminya. Cuma kangen begini kan susah? Masak musti manggil cenayang kayak yang di film Ghost, lagian itu forbidden and ngeriii….

Jadi, menghapus nama Mas Janni bener-bener membangkitkan kenangan. Dan ketika jariku memencet tombol delete, serasa seperti ada bagian diriku yang juga ikut pergi. Memori emang bisa bikin perasaan jadi amburadul begini nih.

God will always be with you

Dalam artikelnya di Kompas, J. Kristiadi menuliskan bahwa melupakan peristiwa buruk masa lampau membuat manusia tidak bijak, dan tidak mengingat keindahannya membuat manusia mudah menjadi jahat. Kalimat ini seperti menggambarkan perasaanku setiap tahun menjelang 15 Mei. Rasanya di telingaku masih terdengar raungan sirine di mana-mana dan berbagai wawancara ‘mengerikan’ yang semuanya itu mau memberitakan bahwa telah terjadi tragedy kemanusiaan paling buruk di Indonesia.


Waktu semua itu terjadi aku sudah berada di kaki gunung Merapi yang tenang, aman, damai, dan sejuk. Hanya saja, hatiku sama sekali jauh dari suasana tempat tinggalku. Gimana mau tenteram melihat penderitaan yang tengah terjadi, juga pada para korban yang disembunyikan? Cerita seram berhamburan menghampiri telinga dan batinku. Tak heran aku sangat terkesan dengan pelayanan seorang Romo di Jakarta yang terjun langsung menolong para korban perkosaan.


Hanya saja, pertanyaan yang terus menghantuiku adalah: jika terjadi perkosaan, seberapa banyak yang akhirnya menjadi sebuah kehidupan nyata di dunia? Lalu, ke mana dan di mana anak- anak itu berada? Tentu mereka sudah besar. Kalau sekolah, mungkin sudah duduk di kelas 4 atau 5 SD. Apakah mereka hidup dengan limpahan kasih sayang atau kemana- mana diikuti dengan pandang mata kasihan –bahkan mungkin dengan pandangan jijik— oleh orang-orang di sekelilingnya? Apakah mereka hidup dengan ballutan misteri asal- usulnya atau sudah diberitahu tentang kenyataan pahit tentang dirinya? Apakah mereka kenal ibunya? Apakah mereka hidup dengan ibunya? Bagaimana keadaan psikis ibunya? Depresikah? Banyak tanya lain menggema di relung hatiku, namun tak ada jawab sampai kemarin malam.


Kemarin malam aku melihat siaran ulangan perspektif di AN TV. Rasanya ada sedikit berkas sinar menyeruak di antara berbagai tanya dalam hatiku. Mudah-mudahan pemerintah memakai momen Mei ini untuk membuka kembali sejarah gelap itu dan mendudukkannya di tempat yang benar. Pembukaan ini bukan untuk mengorek kepedihan yang ada, tetapi seperti tulisan J. Kristiadi di atas: supaya manusia menjadi bijak. Bijak dengan dirinya sendiri dan bijak dengan sesama.


Salam untuk anak-anak dan keluarga Mei, di manapun kalian berada. God will always be with you, though you do not want to know HIM.

Kontak Batin

Minggu pagi aku tiba-tiba aja pengen menanyakan kabar kawanku yang sedang hamil tua. Keinginan itu muncul tiba- tiba dan aku nggak bisa mengabaikannya. Jadi aku langsung sms dia. Pikirku waktu itu jangan-jangan bayinya udah lahir. Setelah sms, aku lega. “Ah, mungkin ini hanya karena lama nggak kontak dia, terus tiba- tiba keinget aja,” gitu suara nuraniku.


Setelah itu aku melakukan berbagai aktivitas hari Minggu. Agak siang sedikit, saat aku beribadah, sms temanku itu datang, bunyinya, “Thanks udah mikirin aku. Aku baru aja jatuh, kena perut, muka dan tangan. Udah periksa ke dokter dan katanya bayinya nggak apa- apa.” Wah, perutku langsung mules. Dengan bobot kehamilan 8 bulan, jatuh begitu sih kayaknya bahaya. Jadi aku cemas juga.


Sekitar tahun 1984 aku pernah baca penelitian dalam salah satu kisah di Kompas, kalau hubungan batin itu bisa terjadi pada dua orang yang dekat secara psikis, walaupun terpisahkan oleh jarak. Contoh waktu itu adalah ibu dan anak yang terpaksa berpisah benua. Satu di Asia dan satu di Eropa. Ketika sang anak kecelakaan, si ibu yang amat jauh darinya merasa ada yang nggak beres pada anaknya. Di kemudian hari ternyata saat itu anaknya kecelakaan. Nggak usah jauh- jauh. Waktu dulu aku nakal dan tidak menghiraukan orangtua, berkali- kali mamaku pengen naek travel ke Yogya, tapi dihalangi sama papa. Ajaibnya, aku pernah menabrak temanku yang naik motor di depan mobilku. Waktu itu aku baru belajar naik mobil. Temanku emang masuk rumah sakit dan kemudian sembuh total. Tapi, adeku nomor dua pada saat aku tabrakan itu bermimpi kalo aku nabrak orang!


Kontak batin emang bener- bener nyata dan kalau kemampuan itu diasah akan menjadi alarm buat diri kita. Aku nggak terlalu bisa mengasahnya tapi kemampuan itu sedikit berkembang pada aku. Saat- saat tertentu aku bermimpi dan menjadi kenyataan. Tapi emang nggak enak, karena biasanya mimpiku itu nggak baik. Mula pertama sih aku mati- matian mengabaikannya, tapi karena berkali- kali terbukti nyata, aku memakainya sebagai isyarat awal. Tanda- tanda kedatangan isyarat awal ini adalah aku seperti mengalaminya dengan sangat jelas, melihatnya dengan sangat jelas, dan waktu itu aku sedang rileks, nggak ada beban batin atau stress. Hal pertama yang aku lakukan adalah mendoakannya, apalagi kalo mimpi itu jelek dan menakutkan, misalnya ruangan yang dicat hitam, melihat orang ***, dll. Lalu aku berusaha mengomunikasikannya. Biasanya aku mengajak orang-orang yang kupercaya untuk mendoakannya. Kalo sampe tuh mimpi bener-bener jadi kenyataan yang berakibat buruk sama aku, aku minta hikmat Tuhan supaya dapat mengatasinya. It works because He is alive!


Kembali ke temenku itu, aku nggak punya isyarat awal yang jelek sih, jadi aku tenang-tenang dan memintanya cek ke dokter seminggu sekali.

Pengemis Anak

Malem minggu ini kami keluar makan, soalnya tadi siang nggak ada kesempatan beli lauk untuk makan malam. Biasanya malam Minggu kami di rumah, soalnya ada acara extravaganza yang jadi kegemaran Jessie.


Jadi, ujan-ujan kami makan di emperan Mangkubumi samping toko kertas Champion. Di situ ada tukang ayam goreng yang dilengkapi dengan kol goreng. Hmmm…, yummy, kayak ayam goreng di Gang Semar Bandung. Tapi malam ini sih kami gak makan kol goreng, ganti sama sayur asem.


Lagi makan tiba-tiba ada sesuatu bergerak di samping kursinya Khun. Sampe kaget. Nggak taunya itu seorang anak kecil yang jongkok di samping tiang. Sekali- sekali kepalanya nongol terus ngeliatin kami makan. Tapi, kalo matanya bersirobokan dengan mata kami, langsung deh kepalanya mendelep lagi, ngumpet di balik tiang. Anak ini nggak menadahkan tangan sambil merengek- rengek mengemis. Dia hanya diam, hanya matanya yang berbicara banyak tentang rasa kepengennya untuk makan. Ditanyain udah makan apa belon, malah ngumpet. Ya udah deh, kami makan sambil pura-pura nggak tau kalo ada anak kecil yang diam- diam memerhatikan kami.


Terus terang aku langsung teringat kisah Lazarus di Alkitab. Tiba- tiba misuaku nyeletuk, “Memberi nggak bikin bangkrut dan pelit belon tentu bikin kaya.” Jadi deh otak dan perasaanku langsung konek. Begitu selesai makan, kami langsung merancang menu buat si anak kecil itu. Jadi dia dipesenin nasi sama rempelo ati. Sebenernya aku agak khawatir dia nggak mau terima, karena pernah aku bagi-bagi nasi bungkus dalam suatu aksi social, pemberianku malah ditolak. Jadi, aku minta tolong sama yang jual supaya mereka yang memberikan ke si anak.


Waktu kami pulang, nasi bungkus itu diberikan ke si anak. Lalu dia memerhatikan kami naik mobil sambil memangku nasi bungkusnya. Pelan-pelan dia menyantapnya. Ngenes deh ngeliatnya. Malam ini anak kami mendapat pelajaran nyata dengan melihat kenyataan yang menyedihkan seperti itu. Mudah-mudahan apa yang dilihatnya ini membuatnya lebih menghargai setiap menu yang dimilikinya. Aku sendiri juga belajar banyak tentang penderitaan bangsa ini. Misuaku malah udah duluan terketuk melihat keadaan yang makin lama makin susah ini. Blognya udah kayak perpanjangan beritanya Kompas aja.


“Itulah Indonesia,” seperti yang selalu dinyanyikan temanku kalau melihat kondisi menyedihkan di tanah air.

Jiwa yang Terluka

Kemarin aku sama Mel langsung sedih waktu kami membicarakan disain kaos. Siapa lagi yang kami ingat bersama kalo bukan Mas Janni? Disain ini yang terakhir kami rembug bersama akan dibuat kapan. Tiba-tiba saja Mas Janni berangkat. But, the life must go on, so we decided to keep move on.


Sebelum itu aku dengar Mia tanya sesuatu sama mamanya lalu diakhiri dengan pernyataan, “Tapi kalo Mama nggak boleh ya nggak apa-apa.” Biasanya Mia nggak pernah bilang begitu, mungkin dia tahu sekarang beban mamanya berat setelah kepergian papanya.


Nggak heran kalo tiba-tiba aja aku pengen nangis, apalagi kalo denger ucapan Mia kayak gitu. Hhhh….., jiwa yang terluka memang susah untuk dilihat dan diperbaiki. Cuma kasih yang besar yang mampu membalut luka itu hingga sembuh total. Tapi, siapa yang memiliki kasih yang sedemikian besar? Mungkin hanya Tuhan…


Itu kalo dari pengalaman temanku sendiri. Nah, yang lagi marak sekarang ini kan perselingkuhan, sampe ada buku yang judulnya terang-terangan mencantumkan kata selingkuh. Nah, aku coba-coba membayangkan andaikata orang dikhianati pasangan hidupnya, padahal dia percaya 100% sama pasangan hidupnya itu. Kayak apa ya perasaannya? Apalagi kalo itu dilakukan oleh sahabatnya sendiri? Wah, bisa-bisa itu kayak ditusuk dari belakang terus pisaunya itu diuntir-untir di lubang lukanya. Hih, ngeri!


Jadi, yah jiwa yang terluka itu memang sulit disembuhkan, apalagi kalo orang yang terluka itu nggak mau ngomong sama siapa pun. Mending-mending ada temen curhat, kalo dipendem sendirian? Pelampiasannya itu yang macem-macem, dan itu bikin tambah ngeri akibatnya. Dari berbagai kasus yang aku temui, ada satu harapan yang teteup aku lihat: kuasa pengampunan. Walaupun proses melupakan setelah mengampuni itu juga nggak enteng, tapi bisa ditempuh. Kan udah punya contoh Tuhan Yesus yang mengampuni orang-orang yang telah menyalibkan-Nya? Itu sih lebih sakit dari pisau yang diuntir-untir tadi. Kalo ada teladan, pasti bisa dilakukan. Sekarang tinggal peran orang-orang yang mengasihinya di sekelilingnya, mampu nggak mereka menerjemahkan kasih Ilahi itu dalam hidup mereka sehingga si orang terluka itu sembuh total?