Showing posts with label sketsa. Show all posts
Showing posts with label sketsa. Show all posts

Thanks to Tech

Akhir-akhir ini internet di tempatku luar biasa lemot. Jarang-jarang aku bisa download dengan tenang. Bisa tiba-tiba down, lau semua yang aku download berhenti di tengah jalan. Akibatnya aku harus mengulang lagi dari awal.

Kalo soal download masih bisa lah ditunda, tapi kalau email penting atau pertemuan penting, rasanya kondisi internet kayak gitu akan bikin frustrasi.

Satu hal yang akusyukuri adalah aku dibekali dengan handheld yang canggih. Halangan begitu hampir bisa diatasi semua. Yang pertama kali membuatku bersyukur adalah waktu aku harus meneliti hasil pemeriksaa psikologis saat itu juga, padahal internet down. Dengan handheld ini, tugasku itu terlaksana dengan baik.

Begitu juga waktu di kampus, kami diminta mencari seuah istilah penting, dengan adanya handheld ini tugas itu tak perlu tertunda-tunda.

Ajaibnya lagi, waktu aku berinisiatif mencarikan tempat syawalan angkatanku. Kan hanya aku yang ada di lokasi saat itu, jadi dengan handheld ini aku cepret sana cepret sini, alngsung kirim ke grup. Saat itu juga kami sepakat menyewa atau tidak tempat yang aku kunjungi. Tanpa handheld seperti ini agak mustahil melakukan banyak pekerjaan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya.

Itu soal perangkat keras. Dalam hal software, aku banyak tertolong dengan yahoo messenger. Dengan meletusnya Merapi, komunikasi menjadi sulit. Komunikasi tatap muka, maksudku. Tugasku kemarin itu menghubungkan berbagai macam orang di Jakarta, Semarang, Salatiga dan Yogya. Tanpa bantuan ym, sulit semua itu terlaksana.

Zaman teknologi begini, kemungkinan tatap muka di dunia nyata bisa dikurangi dengan amat banyak, walaupun itu juga diperlukan. Tapi dalam keadaan darurat, bantuan teknologi sangat terasa signifikansinya.

Gregetan

Kalau aku perhatikan akhir-akhir ini, banyak sekali komen atau opini soal kasus yang melanda negara tercinta. Sah-sah aja sih orang berkomentar, namanya juga negara merdeka, merdeka dalam berbicara dan merdeka dalam berpendapat.

Karena banyak pendapat yang beredar dari segala penjuru mata angin, mau tak mau kan ikut berpikir, merenungkan lalu menanggapi. Bahkan kalau bisa mengajukan usul pemecahan masalah, kayak yang di sana masih ijo aja soal problem solving. Terus terang, aku pun terpancing untuk punya opini walaupun terbatas untuk hatiku sendiri.

Buntut-buntutnya aku jadi bertanya-tanya, apakah ini euforia berpendapat, sampai lupa dengan tugas utamanya sehari-hari. Atau berpendapat untuk menutupi borok sendiri? Kan gampang tuh berujar ini dan itu, padahal dirinya juga melakukan hal yang sama, cuma dalam skala yang lebih kecil atau skala yang tak terlihat media massa bahkan tak diketahui tetangganya.

Kalo udah gini aku hanya khawatir pepatah gajah di pelupuk mata tak terlihat tetapi kuman di seberang laut nampak jelas semakin marak terjadi. Kiranya Tuhan Yang Mahakuasa memampukan aku untuk tidak terseret dan mengejawantahkan pepatah itu dengan senang hati di dalam hidupku.

Bau Donggala

Suatu kali kami bertiga kelelahan karena berbagai aktivitas. Kalo udah begini, paling enak direfleksi. Cuma, karena belum makan malam, jadi kepikiran makan di bakso Pringgading lalu refleksi di Kakiku di ujung jalan. Sementara Jessie dan papinya makan, aku jalan kaki mendaftar ke tempat refleksi itu.

Lokasi jalannya memang berada di salah satu Pecinan Yogyakarta. Begitu aku jalan, sudah tercium bau hio, semacam dupa untuk sembahyangan orang Tionghoa. Baunya yang khas membuat ingatanku melayang ke rumah mertuaku yang juga pake hio-hio kayak begitu. Lalu di kiri dan kanan jalan ada orang duduk-duduk ngobrol di depan pintu toko yang dicet hijau terang seperti rumah-rumah Tionghoa zadul. Suara orang ngobrol bagaikan musik merdu yang mengiringi perjalananku malam itu.

Tiba-tiba terdengar gelas pecah dan suara ibu-ibu ngomelin anaknya. Tapi masih kalah sama instrumen Mandarin dari rumah di seberangnya. Jadi aku berjalan sambil mencandra pernak-pernik percik kehidupan di Pecinan. Suara-suara itu silih berganti, jadi jalan sunyi senyap itu seolah ditingkah aneka suara dari dalam rumah...

Di jalan itu ada semacam tanh berpasir yang tak berpenghuni. Maksudku, di situ nggak ada tenda jualan makanan atau rumah. Hanya seng yang menutupi sebidang tanah. Penerangannya pun remang-remang. Di situlah aku mencium harum rokok lintingan khas pedesaan di Jawa Tengah, semasa aku KKN dulu.

Kalo nggak jalan kaki gini, semua cita rasa udara tak akan tercium. Ingatanku langsung menuju Donggala, tempat mertuaku. Di sana juga situasinya persis seperti ini. Mungkin karena jarang ada kegiatan malam hari. Jadi sesudah tutup toko, mandi, lalu mulailah acara kongkow-kongkow sampe malam di depan toko. Kadang anak-anak berlari-lari di jalan yang belum teraspal sempurna. Kalau bulan terang benderang, anak-anak bernyanyi-nyanyi di jalan sementara orang dewasa bercengkerama sambil menumpangkan satu kaki di atas kaki lainnya, atau sambil bisik-bisik.

Paling nggak malam itu aku menyicipi suasana Donggal yang telah lama tak kulihat...

Gamang

Di sebuah komunitas yang aku ikuti, ada seorang ibu dengan dua orang anaknya. Pertama kali aku melihatnya, langsung timbul pertanyaan dalam hati tentang pekerjaannya. Aku cuma mau tahu aja, karena jarang ada ibu yang seperti ini. Anak-anaknya pun punya cara yang unik waktu memperhatikan orang lain. Aku belum berhasil mendekatinya, karena ia selalu duduk agak menjauh dari kami setiap kali kami berkumpul.

Suatu kali muncul sas-sus kalau ibu itu pernah dijumpai di perempatan sedang mengamen dengan anak-anaknya. Seperti biasa, aku cuek dengan sas-sus itu, karena bagiku itu bukan urusanku. Kalau mau ya ditolong, kalo nggak ya nggak usah diributin atau digosipin, buang-buang waktu dan nggak ada faedahnya.

Kemarin sore, setelah pulang rapat aku berhenti di perempatan Pingit. Lagi asyik-asyiknya mikir, di sebelah kananku melintas seorang ibu sedang begging dengan anak di gendongannya. Set!! Kayaknya aku koq nggak asing dengan wajah ini, lalu aku perhatikan lagi. Wjah yang sebagian etrtutup topi itu ternyata ibu-ibu yang sering mengundang tanya di hatiku.

Saat itulah muncul kegamangan dalam diriku. Gimana ya kalau dia menghampiri jendela mobilku? Kalau aku memperlihatkan bahwa aku mengenalnya, dia malu apa nggak ya? Padahal jelas-jelas dia menutupi mukanya dengan topi agar tak dikenali. Kalau aku nyuekin dia, dia tersinggung nggak ya? Eee...h bener, dia menghampiri jendelaku. Dengan cepat aku memutuskan untuk menatap ke depan sambil menunjukkan penolakan dengan tanganku. Waktu aku melakukan itu, aku hanya tidak ingin dia malu lalu nggak muncul lagi di komunitas kami.

Sampai lampu hijau dan aku sudah di rumah, aku masih terus memikirkan ibu itu. What should I do actually? Aku jadi pengen mendekatinya di waktu pertemuan kami nanti. Mungkin aku bisa memulai dengan pertanyaan, "Kayaknya saya ketemu ibu Sabtu lalu di Pingit?" Emang kalo gini cara bertanya model Yogya paling cucok, muterlah dulu sampai ke Solo baru balik lagi dengan pertanyaan yang semakin fokus. Intinya aku pengen menjenguk ke jendela hidupnya, kan gimana-gimana juga kami rutin bertemu. Pastilah ada alasan mengapa sampai ia menjadi seperti itu. Hanya, kalau sas-sus itu benar adanya, mungkin sebaiknya ada tindak lanjutnya. kalau-kalau ada sesuatu yang bisa aku bantu untuknya.

Dunia memang sedang bersusah...

Merindukan si Bungsu

Kemarin malam, sekitar pk 23.00, hp ku berbunyi. Seperti biasa, kalau sms masuk pada jam-jam yang nggak biasa, mesti ada berita penting. Ternyata induk semang kost ku meninggal dunia. Memang aku pesan sama cucunya yang sering ketemu supaya kalau ada apa-apa sama omanya, aku diberitahu.

Cukup lama aku nge-kost di tempatnya, hampir 9 tahun. Dengan empat orang yang juga hampir sama lamanya dan beberapa teman yang silih berganti. Banyak hal aku pelajari dari beliau, terutama kerapihan penampilan. Salah seorang adik kelas kaget waktu bertemu aku setahun lalu, "Lho, Mbak? Sekarang koq nggak seperti waktu kuliah? Dulu baju, sepatu sampai anting-anting dan tas senada semua. Sekarang Mbak nyaman dengan jins dan oblong ya?" Nah, sampe segitu pengaruh Tante sama aku, walaupun aku tak menyadarinya. Belum lagi sikap hidupnya. Semakin Tante diam, semakin keras dan nyata apa yang mau diungkapkannya. Pernah nih teman-teman merayakan ultahku dengan masak indomie goreng sekuali gedhe. Begitu aku pulang rapat dan buka pintu kamar, mereka langsung teriak. Padahal udah malem banget waktu itu, sekitar pk 10.00. Sesudah itu dengan sendirinya kami ber sst...sst...sst...ria, khawatir Tante terganggu. Kamarku di sebelah kamarnya Tante. Besokannya waktu sarapan dan Tante lewat, beliau hanya diam tak berkomentar tentang berisik-berisik malam sebelumnya. Tapi dari raut wajahnya kami tahu beliau memaklumi anak-anak kostnya yang kadang-kadang masih kayak bocah padahal sudah mahasiswa.

Induk semangku ini meninggal dalam usia sekitar 90 tahun. Waktu layat aku kembali bertemu dengan anak-anaknya yang dulu aku panggil Mas dan Mbak, serta cucu-cucunya yang sebaya dengan aku. Ada salah satu yang cerita kalau Tante udah hampir 5 tahun nggak bisa mengeluarkan suara. Sebelum meninggal ini sudah tiga kali kritis. Pada kondisi kritis yang ketiga, anak, menantu, cucu, cucu mantu dan cicit sudah meminta maaf, baik langsung hadir di sekitar Beliau atau pun melalui telepon. Ketika anak bungsunya telepon, tiba-tiba Tante mengucapkan namanya dengan suara yang sudah 5 tahun tak pernah terdengar. Anak bungsunya yang waktu telepon berada di Yogya langsung berangkat ke Ciamis. Dia mencuci kaki ibunya dan meyakinkan ibunya bahwa hidupnya oke. Tak lama kemudian Tante berpulang.

Ternyata dia merindukan anak bungsunya di alam bawah sadarnya. Memang menurut penelitian, kalau seseorang sudah tak berdaya apa-apa, koma atau hampir meninggal, salah satu organ yang masih berfungsi dengan baik yaitu telinganya. Ajaib memang, namun itulah kenyataannya. Mungkin itu sebabnya, pada pasien-pasien koma, suara dari orang-orang terdekat dalam hidupnya disinyalir dapat mengembalikannya ke alam realita. Atau pada orang-orang yang hampir meninggal, bisikan bahwa semua merelakan kepergiannya dapat melapangkan jalannya ke alam baka.

Melalui misa requim siang ini aku kembali menghayati bahwa hidup manusia ini seperti bunga ilalang, yang hari ini ada dan esok hilang. Selamat jalan Tante Nardi.

Prit....! Goceng, Bu.

Jarang sekali aku berada di Yogya di saat liburan. Biasanya aku pulng ke Kediri atau bermain ke Surabaya, atau ke Jakarta. Hanya karena orangtuaku sudah hengkang dari Kediri, lalu berita rawannya kemacetan di arus menghilir atau pun memudik, kami sekeluarga berketetapan menikmati libur panjang tahun ini di kota tercinta. Kebetulan juga ada teman yang dulu se-kost waktu mahasiswa datang dan pra-reuni perak psi 85. Jadi, kami mantap betul stay in Yogya.

Kalo orang tinggal di kota tujuan wisata, musti lega lilo a.k.a. berlapang dada melihat kemacetan di mana-mana. Ya iyalah macet. Kota dengan kapasitas 3 juta penduduk ketublekan orang segitu banyaknya, ya pasti mbludag, terutama di pusat-pusat keramaian seperti Jl. Malioboro atau Amplaz (Ambarukmo Plaza).

Suatu kali kami terpaksa mendatangi Jl. Malioboro karena teman ingin makan Chinese Food. Nah, resto Chinese Food yang paling oke buat aku sih ada di Danurejan, dan jalan itu hanya bisa dicapai melalui Malioboro. Bener aja, mendekati hotel Inna Garuda, kemacetan sudah terlihat. Mobil berjalan perlahan di sepanjang Malioboro. Lalu kami parkir di dekat resto itu.

Begitu turun, aku didekati tukang parkir, "Bu, parkirnya sekalian, siapa tahu Ibu mau berjalan-jalan di sinii." Spontan aku mengeluarkan uang Rp 1.000, tetapi dengan cengangas-cengenges tukang parkir berlengan buntung itu berkata, "Goceng, Bu." Dengan mangkel aku menyerahkan uang Rp 5.000 sambil berujar, "Pripun tho Mas, saya kan penduduk sini." Si tukang parkir hanya menjawab, "Ehm...ehm...ehm," sementara teman-temannya di belakang ketawa-ketiwi mengejek temannya yang kena batunya itu.

Aku tak memperpanjang soal goceng ini karena nggak mau selera makanku rusak. Mangkelku bertahan berhari-hari, karena yang mendapatkan uang parkir berlebih ini bukan tukang parkir yang biasanya bertugas di sana, tetapi tukang parkir liar. Ngono ya ngono, ning ojo ngono, wuaahhh!

Sekali lagi aku alami waktu nganter ke Mirbat. Kali ini aku sudah merelakan seandainya harus bayar parkir Rp 5.000, karena di mana-mana parkir penuh dan aku diberi tempat parkir cukup elit, di halaman kantor dekat GPiB. Waktu pulang aku bergurau dengan pak parkir, "Wah, jenengan untung kathah nggih, Pak." Dengan senyum lebar ia menjawab, "Nggih, Bu. Setahun pisan."

Senin lalu, muncul keluhan soal parkir ini di Kompas Jogja. Ternyata bukan hanya aku tho yang mengeluhkan hal ini. Pikirku harusnya aku terima saja diperlakukan sewenang-wenang oleh tukang parkir karena itu event besar di Yogya. Kan nggak setiap waktu penduduk Yogya yang mendadak beralih jadi tukang parkir mendapatkan uang tambahan? Nah, menurut Lembaga Konsumen, harusnya hal itu diadukan. Tapi, aku kembali ke sikap praktisku, gituan koq dilaporin buang-buang waktu aja. Kalo mau ditertibkan, ya sejak awal diberi penyuluhan lalu patroli dijalankan.

Susah emang ngurus negara eh kota, ha...ha...ha...

Target

Semalam, kami berdua disuguhi film The Sitter. Begitu ngeliat lakonnya, aku langsung berasa nggak enak, karena thriller ini mengaduk-aduk rumah tangga orang. Karena nggak nonton dari mula, aku nggak tahu kenapa si lakon menjadikan keluarga baik-baik ini sebagai targetnya.

Karena si istri bekerja, kedatangan baby sitter yang prigel, trampil dan gemati jadi sangat menolong. Pekerjaan maju, rumah beres, mau apa lagi? Sampe tetangganya melihat suatu keanehan pada diri si baby sitter ini. Tapi ketauan kalo dia mau cerita ke si istri, tetangga itu akhirnya mati. Setelah pemakaman tetangga naas itu, si istri pulang bersama temannya, dan suaminya pulang dengan anak-anak dan baby sitternya. Di rumah, baby sitter ini seolah-olah tak tahu kalau di kamar mandi ada orang. Hanya dengan kamisol terbuka dia membuka pintu kamar mandi, yang di dalamnya si suami sedang mandi. Kalau mandi ya nggak pake apa-apa lah. Si suami langsung jengah, tapi si baby sitter menutup pintu sambil matanya mengerling gimanaaa gitu.

Adegan demi adeganyang makin lama makin serem, dan keliatan kalo si baby sitter ini pengen ngerebut sang suami, walaupun untuk itu dia harus membunuh sang istri. Aku nonton sambil ngeri-ngeri sambil teringan Fatal Attraction bertahun-tahun lalu.

Jadi emang bener setan ada di mana-mana, terutama dia menggoda rumah tangga yang baik-baik, aman tentrem dan berbahagia. Rasa aman di keluarga bisa terkoyak karena teledor tak meneliti siapa yang berusaha mendekati keluarga, tak berdaya mengatasi kerepotan berbagai tugas yang harus diselesaikan relatif pada waktu yang bersamaan, kurangnya waktu berkualitas di antara anggota keluarga dan tuntutan ekonomi yang semakin tinggi. Kalo udah mikir sampe ke sini, bisanya cuma berdoa supaya Tuhan melindungi keluargaku dan keluarga-keluarga di dunia. Jangankan sebulan ke depan, semenit berikutnya aku juga tak kuasa mengetahuinya. Selain doa, suami istri ya harus alert dengan situasi zaman. Mengikuti zaman tanpa terhanyut, bukan perkara yang gampang. Makanya suami istri harus bergandeng tangan mengarahkan biduk keluarga ke tempat yang aman.

Jadi inget ucapan selamat dari pendeta kami saat kami menikah, "Khun, Ian, selamat menempuh hidup baru, dan selamat memperjuangkan hidup bersama."

Kuburan Blog

Kemarin aku blog walking. Rasanya udah lama banget nggak blog walking, kayak masuk ke dunia yang jaduuul banget.

Sayang sekali, banyak teman-teman yang dulu blognya rame pengunjung, sekarang menjadi sepi. Tanggal terakhir upload tulisan ada yang enam bulan lalu, empat bulan lalu, hampir setahun, dll. Kali kalo di dunia beneran, rumah ini sudah kosong, di langit-langit rumah bersarang dengan nyaman si spider, jendela ada yang pecah, lantainya retak-retak, menguar bau apek dari dalam kamar mandi dan kulkas yang berisi sisa-sisa makanan. Belum lagi ilalang yang tumbuh di halaman begitu tingginya.

Aku memantau banyak kuburan blog sejak merambahnya situs jejaring fb yang digemari orang. Mungkin karena di sana sudah tersedia lengkap note, video, foto yang bisa digunakan semudah membalik telapak tangan. Lalu respon atas note juga lebih dinamis dibanding blog. Ketambahan note yang di fb itu dibaca oleh orang-orang yang adalah sahabat si pembuat note. Kalau di blog kan susah mendeteksi siapa yang membaca, karena tidak ada keharusan meninggalkan jejak dengan mengisi buku tamu. Hanya, di blog itu punya kelebihan yaitu, blog terbuka luas, siapa aja boleh liat, dibanding dengan jejaring yang hanya untuk teman-teman.

Aku pribadi tetap mempertahankan menulis blog, karena siapa tahu pengalaman hidupku bisa berguna bagi tamu-tamu di blogku. Mungkin mereka baru pertama kali mengenal internet, sehingga tahu pertama yaitu blog, belum kenal dengan fb atau yang lain. Mungkin juga mereka mau baca-baca lembar hidupku di tahun-tahun lalu dengan segala suka dukanya. Mungkin juga blogku ini mendorong tamu-tamuku berani mengungkapkan pikiran dengan bahasa tulisan. Kan banyak manfaat positif dengan menulis.

Kalo sekarang, malah aku memperluas pemakaian blog. Jadi bukan hanya untuk cerita sana cerita sini, tapi juga untuk membuka toko online. Mungkin karena sifatku yang cenderung menjaga kestabilan jadi dua-dua atau tiga tiga bisa jalan. Mungkin juga itu yang sulit dilakukan orang lain.

Ke depannya mungkin pengelola blog yang harus lebih inovatif supaya bikinannya nggak ditinggalin orang kali ya? Memang dunia yang berubah senantiasa menuntut inovasi kreatif.

Jualan

Beberapa hari lalu datang teman yang sudah bertahun-tahun tak ketemu, sepuluh tahun aja sih lebih deh.

Temanku ini membawa dua orang temannya yang mau minta aku menjadi narasumber dalam acara mereka. Ngomong punya ngomong, sampailah ke pertanyaan, "Suami Bu Mariani masih menerbitkan buku?"

"Masih, Pak. "

"Buku jenis apa ya?"

"Buku yang cocok untuk pasar anak muda, manajemen dan permainan." (Aku langsung keluarin deh contoh buku-bukunya, soalnya lebih baik melihat contoh daripada keterangan bla bla bla).

Mulai deh misunderstending terjadi. Bapak yang satu memang benar-benar bapak yang baik, steady di dunia kebapakannya, nggak pernah ngintip dunia lainnya. Keningnya berkerut, lamaaa sekali. Aku udah tau pasti akan muncul pertanyaan, cuma pertanyaannya itu yang nggak aku sangka...

"Lho, ini anak kos jualan apa ya? Sebelumnya pernah jualan? Koq ini judulnya jualan lagi?"

"Jualan???" (sambil terus bertanya-tanya di dalam hati).

Lalu....AHA! Ini kan dunia yang bernuansa jawa, mestilah kata dodol diterjemahkannya sebagai jual, karena dalam bahasa Jawa, dodhol means jual!

"Oh, itu istilah anak sekarang Pak. Dodol itu artinya bloon-bloon gimanaaaa...gitu. Bukan jualan artinya."

"Wah, ketauan deh kalo saya ini jadul banget...! Jadi ini kisah-kisah tentang apa ya?"

"Tentang kehidupan di kost anak-anak mahasiswa itu, Pak."

Singkat cerita, mereka pun pulanglah dengan damai. Aku yang masih terkegut-kegut menemukan masih ada orang yang nggak ngeh artinya dodol. Memang, Yogya buka Jakarta sih. Nggak semua orang di Yogya harus paham dengan istilah-istilah anak muda, yang cepat menyebar layaknya api disiram bensin. Barangkali dunia memang berputar amat cepat, perubahan terjadi di mana-mana, pun di tatanan yang paling kecil dalam keluarga, yakni di dunia remaja. Barangkali juga Indonesia kelak menjadi Jakarta, artinya orang dengan dialek Jakarta yang lebih diajeni. Padahal, Indonesia bukan hanya Jakarta. Ada kekayaan dan keragaman budaya di tanah tercinta ini. Bukan sekali ini aja aku menemukan orang-orang yang murni terkungkung dalam budaya tanah Yogya, tapi bagiku itu bukan kesalahan atau kemunduran atau kejadulan, melainkan sebuah nuansa yang layak dijaga dan dipertahankan.

Apa jadinya kalau Indonesia menyiut jadi sebesar Jakarta saja???

Si Mumun Sakit

Sebenarnya sudah dari beberapa waktu lalu si Mumun dibawa ke 'dokter'nya. Kadang-kadang kedengeran seperti batuk-batuk. Kemarin ini malah minumnya banyak sekali, tapi masih tetap bisa berjalan walau kepayahan.

Sore kemarin mencapai puncaknya. Beberapa kali dia mogok jalan. Dipaksa pelan-pelan, akhirnya berhenti total di depan kantor pos besar. Mau tak mau si Mumun harus opname!

Sedih aku karena Mumunlah yang setia menemani aku bekerja, mengantar jemput anak, melayani, dan bersenang-senang. Waktu mulai terdengar batuk-batuk, harusnya aku berhenti sebentar dan check up. Namun karena kesibukan yang membutuhkan kehadirannya, check up itu tak pernah terlaksana. Beberapa hari ini temperaturnya agak tinggi, melebihi yang biasanya, walaupun tak pernah lupa aku memeriksa apakah Mumun cukup minum atau tidak.

Kemarin sore, saat aku dan Jessie berangkat ke kebaktian Sabtu, Mumun mulai rewel. Hidupnya bergantung pada pasokan gas ke mesin yang temperaturnya tinggi. Tak henti-henti ia berkipas supaya suhu tubuh agak sedikit turun. Kalau pasokan gas berkurang sedikit, langsung ia tak mau jalan. Beberapa kali itu terjadi: di dekat Samsat Jlagran, di lampu merah dekat stasiun Tugu, di putaran dekat Hotel Garuda, di depan Hotel Mutiara dan di perempatan Kantor Pos Besar. Akhirnya aku mengistirahatkan Mumun di parkiran Kantor Pos, sambil menunggu dokternya datang.

Istirahat yang banyak dan cepatlah sembuh. Tak berdaya aku tanpamu...

Tak Sigap

Beberapa hari lalu aku merencanakan suntik vaksin Cervirax. Vaksin ini untuk pencegahan kanker leher rahim. Karena termasuk jenis yang baru dan muahhaaalnya luar biasa, tak semua lab atau ginekolog memilikinya.

Aku telpon ke sebuah lab yang cukup terkenal di Yogya. Penjawab teleponnya laki-laki, langsung perasaanku nggak enak dan pesimis, "Apa dia bisa jawab pertanyaan-pertanyaanku?" Lalu aku menanyaka tentang vaksin itu dan jenis papsmear yang harus aku ambil. Jawabannya, "Ibu tak perlu puasa, karena nanti darahnya dibekukan." Wah, aku kaget banget, orang mau HPV koq ada darah dibekukan segala. Sekali lagi aku menjelaskan ke si petugas itu soal papsmear yang dapat mendeteksi sel-sel ganas sebelum suntik vaksin. Lamaaa aku disuruh nunggu sementara dia tanya ke teman-temannya. Langsung deh aku putuskan hubungan teleponnya.

Di sini pentingnya front liner, di perusahaan atau instansi mana pun. Begitu front linernya payah, gawat deh akibatnya. Bisa salah informasi, salah komunikasi, salah macem-macem lagi. Jarang front liner yang sigap melayani customer. Mungkin pikirnya, "Ah, aku kan nggak harus menguasai semua informasi, kan ada bagiannya sendiri-sendiri." Sikap mental begini ini yang payah: nggak mau belajar, mengandalkan orang lain dan tidak mementingkan citra perusahaan.

Tapi, siapa sih sekarang yang mau susah-susah belajar menguasai pekerjaannya, yang penting kan dapet gaji, tenggo, dan tunjangan full!

State of Mind

Siang-siang panas, hapeku bunyi, pertanda ada sms masuk. Ternyata dari Sr. Anna, PK di Kediri. Bunyi pesannya menggelitikku untuk menuliskan hal ini: Selamat memperingati Hari Bumi, 22 April. Green is not a color, it's a state of mind. Bagus nih pikirku, lalu muncul ide dan membalas sms beliau dengan Green is not a merely slogan, it's a way of life.

Beliau memang terkenal dengan gaya hidupnya yang hijau. Di Kediri, ada kelompok para miskin yang dibinanya untuk membuat tas belanja, tas peralatan mandi dan dompet uang receh dari bekas punch sabun mandi, obat pel, kopi, dll. Lalu hasil karya itu dijual.

Melalui perjumpaan-perjumpaanku dengan beliau, kesadaran untuk menyayangi bumi semakin dalam tertanam. Beberapa kali aku membuat posting tentang menghemat pemakaian kertas, memisahkan sampah kering dari sampah basah, dll. Di tengah-tengah ketak berdayaan melihat pak sampah mencampurkan sampah kering dengan sampah basah, aku mencoba usul ke Darwis (Dasa Wisma) untuk mengangkat topik tentang hal ini. Tapi, usulku kandas di tangan sang jubir. Selain itu aku usul juga ke ketua rapatku supaya notula rapat tak perlu diperbanyak, tapi dikirim via email, jadi nggak perlu buang-buang kertas. Toh, semua peserta rapat punya laptop dan internet bukan lagi barang mewah. Supaya notulanya nggak diubah-ubah, dibuatlah dengan file pdf. Ketua rapat yang sering aku hadiri setuju, cuma realisasinya masih harus dilihat.

Jadi, aku mulai dengan diri sendiri. Memisahkan sampah kering dari sampah basah, sudah biasa. Lalu, aku membantu kawanku mengumpulkan HVS putih yang baru terpakai satu sisi untuk dijadikan 'buku tulis' bagi sebuah sekolah di kawasan Adisucipto. Lalu, aku memisahkan kardus dan kertas warna dari kertas putih. Yang aku tahu pasti semua itu akan didaur ulang ya di tempat pengumpulan kertas anfal. Jangan dikira kalau rumah tangga nggak memproduksi kardus bekas, banyak sekali ternyata. Di rumahku sendiri, sebulan bisa 2 sampai 3 kg! Mengerikan!

Lalu ke mana-mana aku membawa sebuah tas kain kecil. Jadi, kalo aku beli sesuatu, tak perlu tas kresek. Bertepatan dengan itu, salah satu adik ipar mengirimi aku tas sehari-hari yang lumayan besar. Jadi, kalo barang kecil-kecil, aku langsung masukkan ke tas aja, gak perlu kresek. Pernah juga sih aku mengalami hal memalukan sehubungan dengan memasukkan belanjaan ke tas sendiri bukan tas kresek toko. Ceritanya aku beli kaset lagu daerah anak-anak di sebuah pusat kerajinan yang cukup terkenal di kota ini. Tau sendiri deh kota turis, siang itu toko juga kayak ublegan cendol, orang ramai dan berduyun-duyun beli cinderamata di sana. Selesai bayar di kasir, aku bilang ke kasir kalau kasetnya nggak usah dipakein tas kresek, langsung masuk tasku aja. Lalu aku langsung pulang. Begitu lewat di sensormatic depan pintu masuk, bunyi tuh alarm!!! Aku aja yang lewat di situ. Langsung aku digiring ke dekat kasir terus tasnya diperiksa. Ketemulah barang toko itu dan masih tertempel di sana nota pembayarannya, yang untungnya nggak aku buang. Penjaga toko dan satpamnya munduk-munduk minta maaf. Malunya itu rek..., astaga!!!! Mungkin itu yang bikin aku kadang-kadang males bawa tas sendiri...

Pemakaian obat nyamuk semprot udah aku ganti dengan obat nyamuk elektrik yang baunya mild sekali. Semprot-semprot yang masih aku gunakan dengan frekuensi yang mat jarang adalah parfum. Untuk fave ku Channel 05 yang oles, jadi gak perlu semprot-semprot terlalu sering.

Kayaknya, banyak deh yang masih bisa aku lakukan untuk menghijaukan bumiku. Bukan untuk apa-apa, tapi supaya generasi mendatang, yang anakku termasuk di dalamnya, bisa hidup dengan lebih baik.

To commit

Aku jadi tergelitik membaca salah satu posting di blognya temanku soal komitmen perkawinan. Keprihatinannya mencuat karena banyak terjadi perceraian di sana dan di sini.

Bagiku, menikah itu pilihan, bahkan pilihan yang bisa jadi masuk ke dunia penuh kebodohan. Orang yang jomblo nggak pernah dipusingkan dengan tetek bengek toleransi ora menyenangkan pasangan. Hidup mengalir seperti bebasnya udara. Sebaliknya orang yang menikah, selain direpotkan dengan berbagai macam persoalan, tapi juga merasakan nikmatnya surga dunia saat cinta itu terus bertumbuh dari hari ke hari. Apa pun pilihannya, masing-masing punya konsekuensinya.

Kalau memilih menikah, berarti masuk ke sebuah perjanjian, yang diharapkan bersifat kekal adanya: sampai maut memisahkan kita, till death separate us. Bagiku, di sinilah komitmen itu menunjukkan dirinya.

Komitmen itu berasal dari kata to commit, yang secara sederhana artinya menjalankan. Ya, menjalankan atau melaksanakan janji pernikahannya itu. Karena nggak ada keinginan yang 100% menjelma menjadi kenyataan, maka komitmen ini jadi krusial. Kayak aku yang sempet kaget setelah menikah ternyata pasanganku bukan 'orang pagi' tapi 'orang malam'. Padahal, aku sangat menyukai pagi bening dan hening. Begitu ketahuan perbedaan ini, aku dan dia sama-sama berusaha menyesuaikan diri. Banyakan aku gagalnya untuk menemaninya menjelajah malam. Abis, malam bagiku bagaikan selimut yang mengantarku tidur nyenyak. Kadang-kadang aku mengandalkan kopi untuk memelekkan mataku yang bandel ini. Pasanganku paling susah suruh bangun pagi, lha wong tidurnya malam. Makin malam, idenya makin mengalir.

Jadi, begitu deh. Aku dan dia mencoba menjadi pasangan yang tepat. Pernah nggak kesandung di dalam pernikahan? O, berkali-kali. Tapi, karena mengingat komitmen awal, pelanggaran dan kesalahan itu diteliti dan diselesaikan, lalu dilupakan dan dimasukkan ke kotak berkunci gembok ganda, yang kuncinya dibuang entah kemana. Isi peti itu tak bisa dikeluarkan lagi. Susah juga menjalankan kasih yang menutupi banyak segala dosa. Cuma, dari komitmen kayak gini aku melihat ada dinamika menarik gimana orang saling menyesuaikan diri hingga jadi pas satu sama laen. Dinamika itu berjalan terus setiap hari. Mungkin akan terlihat jelas waktu udah jadi aki ninen. So pastilah, nggak bisa instan jadi, ada proses yang perlu dilalui.

Betullah pernyataan yang mengatakan, "setelah menikah, jadilah orang yang tepat untuk pasangannya."

Gereja Masa Kecil

Kalau liburan akhir tahun biasanya kami sekelurga berkumpul di Jakarta. Jadi aku dan keluarga yang di Yogya bergabung dengan adik-adik yang memang berdomisili di Jakarta.

Aku sih seneng-seneng aja liburan kayak gini, cuma ada satu yang sering bikin aku nggak enak hati. Aneh ya, suasana liburan jadi bikin pergi ke gereja itu sesuatu yang janggal. Kalau lagi liburan keluarga begini, pergi ke gereja jadi sesuatu yang rasanya terasa tak pada tempatnya. Cuma, tahun ini aku bersikeras ke gereja saat Natal, walau itu berarti aku harus bangun pagi-pagi, nggak sempet sarapan pagi dan pergi naik taksi di Jakarta.

Akhirnya aku berhasil bangun pk 05.00, lalu siap-siap. Gawatnya Jessie lebih memilih tidak ke gereja karena keluarga mau jalan-jalan di pantai dan segudang aktivitas yang tentunya lebih menarik buat anak kecil tinimbang duduk sejam setengah di gereja. Aku bujukin, aku marahin, tetep nggak mempan. Jadi aku berangkat ke gereja dengan setengah bersedih hati.

Kenapa sih aku bersikeras ke gereja? Kalo mau gampang aku tinggal klik situsnya gerejaku, atau gereja berbahasa Indonesia di Singapura yang memuat suara pendeta sedang berkhotbah. Tapi aku mau hadir di gereja di saat penting ini karena: nggak banyak waktu untuk merenungkan betapa banyak berkat-Nya dalam kehidupan ini, mengingat pertolongan Tuhan Yesus setahun ini (terlebih waktu kami kehilangan Mas Janni), kemurahan-Nya yang senantiasa tercurah setiap kali aku minta order kerjaan, berkat kesehatan dan kepandaian untuk anak semata wayang dan keutuhan keluarga. Masak berkat-Nya melimpah aku nggak bisa nyediain waktu 2 jam aja untuk kebaktian Natal?

Setelah tanya sana sini, akhirnya aku memutuskan ke Gunsa 4. Itu gerejaku waktu masih kecil. Masih jelas di ingatanku kalau aku 'setia' ke sana setiap minggu, walaupun harus naik bajaj sendirian. Kalo diingat-ingat seberapa banyak sih yang bisa diserap anak umur 14 tahun dari khotbah di kebaktian dewasa? Cuman aku inget aja betapa tenangnya aku kalau kebaktian selesai.

Gereja itu masih tetep sama.Pendeta yang berkhotbah adalah pendeta yang dari aku kecil sudah melayani di sana. Pendeta ini sudah tua, keriput-keriput di mukanya juga jelas terlihat, namun suaranya masih setegar dan sejelas dulu sewaktu muda. Kebaktiannya betul-betul menenangkan aku. Tingkah denting piano dan lompatan lincah klarinet mengiringi perpaduan lagu-lagu klasik dan modern dengan cantiknya. Paduan suara sudah dipersiapkan dengan baik, jadi cengkak-cengkok Unto Us a Child is Born atau Hallelujah Chorus mulus terlewati. Kebaktian diakhiri dengan Hallelujah Chorus, dan jemaat menutupnya dengan bersama-sama menyanyikan refrainnya.

Selamat Natal semua. Kiranya kasih dan kemurahan Tuhan membuat kita terus berharap, walau ada kemungkinan kita menjadi tawar hati saat krisis ekonomi menjadi badai besar di tanah air.

Pekerjaan Menunggu

Nunggu tuh kerjaan bukan ya? Soalnya nggak keliatan kerja, diem aja. Tapi dibilang bukan kerjaan koq ya menghabiskan waktu. Yang lucu, menunggu bisa terjadi di mana-mana, berulang kali, dengan sengaja dilakukan, bahkan dimodif.

Sebagian besar kerjaan ibu rumah tangga itu menunggu. Mulai dari menunggu tomat yang dididihkan, menunggu air panas untuk mandi, menunggu nasi yang ditanak, menunggu tukang ini itu dateng, menunggu suami pulang, menunggu anak les, dll seribu satu macam pekerjaan menunggu.

Dan aku terbiasa menunggu, kadang-kadang aku sabar tapi banyakan nggak sabarannya. Daripada ngomel-ngomel, udah sejak lama aku berbekal buku kemana-mana, supaya kalo aku terpaksa dan harus menunggu, aku punya sesuatu untuk dilakukan. Biasanya buku yang selalu aku sediakan itu Reader’s Digest (edisi Indo lah, kalo baca yang Inggris bisa keriting terus malah jadi mencak-mencak). Tapi, kalo lagi banyak membutuhkan referensi, bukunya jadi ‘berat’. Kalo udah begini, baca buku saat menunggu bukan lagi killing time tapi mendingan ngelamun kali…

Jadi, menunggu buat aku itu sebuah kesempatan langka yang ma uterus aku eksplor. So far sih aku menuruti kata hati aja. Kalo lagi pas bosen baca, ya aku ngelamun sambil mencermati apa yang aku tungguin, misalnya ngeliatin gerakan tarinya Jessie. Atau ngeliatin dia renang. Kalo pas harus baca ref aku paksain deh baca, karena pas nunggu ini ada waktunya.

Ada yang bilang begini, nunggu itu salah satu cara melatih kesabaran, supaya kita tambah arif. Buatku itu kayak menunggu Godot!

Air Keruh

Beberapa hari lalu, air di rumahku menyoklat. Bukan menguning lho, tapi benar-benar coklat! Kayak air the kental. Wah, susah hati deh kalo udah gitu. Soalnya, tahun-tahun lalu, kalo air udah rusak warnanya, nggak lama lagi mati. Abis nguras bak sampe nggak berani diisi lagi.

Ternyata betul, keesokan harinya airnya mati dari pk 11.00, baru bisa nyala lagi pk 24.00. Untung aja udah ditampung di beberapa ember besar. Tapi, sebenernya geli juga mandi dengan air berwarna coklat-coklat gimanaaa…, gitu.

Setelah hidup pada pk 24.00, airnya sedikit jernih, tapi pk 07.15, mati lagi. Gawat deh kalo begini. Aku cuman mikir gimana bisa pup dengan air bilasan dan flush yang cukup aja. Kalo mandi sih ada gampang. Kalo sampe kevevet…. Ya pakai tissue basah. Kalo urusan pup kan nggak bisa pake begituan????

Di tengah kebingungan dan kekhawatiran akan ketersediaan air, aku masih bisa mengucap syukur waktu tak sengaja pandanganku terhenti di Aqua gallon. Seengganya ada air bersih yang untuk minum. Cumaaa…., gimana ya dengan mereka yang hanya mengandalkan air pam untuk segala aktivitas hidup? Apa nggak bahaya minum air yang warnanya kecoklatan begitu? Secarasederhana sih air dengan warna begitu artinya kotor dan banyak kandungan logamnya. Hanya, sampai sejauh mana bisa membahayakan hidup, mungkin perlu penelitian longitudinal kali ya?

Sekarang sih airnya mulai menjernih bening. Tetep aja aku tetesin dettol di air mandi, biar kata wanginya agak-agak menyerupai rumah sakit tapi nggak nyebabin gatal-gatal. Setelah harga gas melonjak, listrik padam bergiliran, sekarang air yang mulai problem. Masak kita hanya bisa nyanyi… Itulah Indonesia?????

Linglung

Kemaren aku dan kongsiku sempat ngobrol. Kesempatan begini ini jarang, karena kami harus lari ke sana dan ke mari. Kayak idupnya di mobil aja. Cerita punya cerita aku bilang kalo di jeepnya masih ada baunya Mas Janni, padahal udah ampir setaon dia meninggal. Makanya mobil itu disayang banget sama kongsiku, eman-eman kalo dijual.

Lalu cerita tentang orang yang istrinya baru aja meninggal. Semua blank. Gaji pembantu nggak tau, di mana letak ornamen baju dinasnya juga nggak tau. Mau tidur di kamar, keinget almarhum istrinya terus nggak jadi tidur di sana dan tidur dengan anak laki-lakinya. Serba bingung, karena biasanya yang tau segalanya kan ibu rumah tangga. Kalo kepala keluarga kan biasanya tau beres.

Aku jadi inget, begitu Mas Janni meninggal, aku dan misua beres-beresan. Artinya kami saling memberitahu letak barang-barang, nomor buku tabungan, nomor kunci sdb, arsip-arsip surat penting dan semua yang perlu dia tahu juga. Jadi, buku kas ku berubah jadi buku pintar. Semua informasi penting ada di sana.

Jangankan ditinggal mati, papaku aja kalo mama nggak di rumah jadi linglung. Sekarang sih mendingan, karena udah pensiun. Aku inget sekali waktu kecil, mama yang nyiapin baju seragamnya dan tempelan-tempelan pangkatnya. Mama yang tau hari ini pake baju apa, soalnya baju dines papa banyak macemnya. Sepatunya juga laen-laen, apalagi soal merawat senjatanya, mama tuh yang apal jadwalnya.

Mungkin salah satu konsekuensi idup bersama ya ada interdependensi. Begitu salah satu absen, yang laen jadi kelimpungan. Makanya, begitu ada momen, langsung aku pake sebae-baenya. Biar nggak linglung.

Has Gone

Pagi ini bersama teman-teman di sekolahnya Jessie, kami menjenguk salah satu teman yang kehilangan bayinya. Jujur aja, begitu mau berangkat aku sih udah lemes, soalnya kematian gitu lhoh…

Jadi, janin itu oke-oke saja tetapi di usia kandungan ke enam, tiba-tiba detak jantungnya udah nggak ada. Menurut sas-sus yang aku dengar sih udah lama nggak adanya, tapi baru ketahuan di usia kehamilan enam bulan. Sampe aku nulis ini penyebab kematiannya diduga virus tokso. Kebayang nggak, kalo janin yang kita cintai tiba-tiba udah nggak bernyawa lagi.

Untuk mengeluarkannya diperlukan 3 botol infuse induksi. Dan karena udah nggak berdaya dorong, terpaksa tangan dokternya masuk ke jalan lahir untuk membantu mengeluarkan jazad janin. Kata temenku itu, badannya panjang, bakal kukunya udah mulai keliatan.

Waktu ditengok sih udah bisa ketawa-ketawa, tapi who knows the inside? Kalo udah begini, nyata betul betapa kelahiran janin itu sebuah anugerah. Betapa riskannya kehidupan janin di dalam kandungan. Kesalahan atau ketidak tahuan sedikit aja, bisa berakibat fatal. Apalagi sekarang banyak virus mematikan yang herannya doyan bener menyerang wanita hamil…

Dissappeared

Di Yogya ini banyak usaha kecil-kecil yang entah bagaimana bisa menghidupi dirinya. Mulai dari usaha jasa kayak aku sampe outlet rosok. Yang paling banyak memang usaha makanan. Kata orang, buka usaha makanan itu kayak nambang emas. Pasti banyak pembelinya, pasti laris, pasti menghasilkan. Kalo nggak punya warung permanent, ya getok tular, dari mulut ke mulut.

Namun, kenyataannya nggak selalu begitu. Yang lenyap juga banyak. Kurun waktu setengah tahun ke belakang, ada satu warung yamie ayam yang tutup, padahal lokasinya nggak jauh dari jalan besar.

Yang bikin aku lumayan gelo, sedih, kasihan dan berbagai perasaan tak enak lainnya adalah seorang ibu dengan 2 anaknya yang masih kecil, yang buka warung makan di emperan toko. Lokasinya di Jl. Magelang, dekat sekali dengan gang rumahku. Kadang-kadang aku makan atau beli di dia. Aku juga nggak tau namanya, hanya sebagai ibu yang juga mencari nafkah, aku iba melihat anak-anaknya dibawa ke sana untuk ikut berjualan. Kalo di toko yang mapan sih nggak heran, tapi ini di emperan toko. Kadang-kadang anaknya bawa buku pelajaran. Makanan yang dijualnya sangat spesifik, makanan rumah B2. Ada iga bakar, sayur asin, B2 kecap, dll home cook.

Karena aku sekarang jarang makan di luar, jadi nggak memperhatikan lagi gimana jualan si ibu tadi. Dua hari lalu, tiba-tiba koq aku pengen ngelongok tempat jualannya. Dissapeared!!! Udah nggak berbekas. Emperan itu sekarang sepi dan gelap. Yaah…, hilang deh salah satu langgananku. Dia emang bukan siapa-siapaku, namanya pun aku nggak tau, tapi tutupnya sebuah tempat usaha, cukup mengenaskan bagi aku. Zaman susah sih.

Moga-moga aja dia bertahan dan bisa buka lagi usaha lainnya yang lebih menjanjikan.

Go Blog

Perkembangan teknologi memang luar biasa. Tanpa sadar orang terhanyut olehnya, dan mau tidak mau harus bertahan terhadap gempuran ombak teknologi.

Salah satu yang dampaknya lumayan besar adalah hadirnya blog. Kayaknya kuno banget deh kalo zaman sekarang nggak kenal blog. Aku sendiri tadinya juga nggak tau, sampe tiba-tiba sekitar dua taon lalu misua mulai ngomongin blog melulu di rumah. Kan pengeng juga, akhirnya terdorong untuk ngutak-ngatik media ini.

Perubahan paling mendasar dengan kehadiran blog ini aku rasa adalah pada pemformulasian pikiran. Percaya kan kalo di Indo tuh orang lebih percaya pada kupingnya daripada matanya. Nggak percaya? Coba aja tanya sama bus kota mania. Udah tahu ada papan jalur bis di bagian atas, yang bisa dibaca. Begitu bus nya perlahan-lahan mendekat, ditanya, “Lewat Malioboro?” Kalo kondekturnya berteriak-teriak, “Sik..sik..sik…, ana sing meh melu…!” Nah, naiklah si penumpang ini dengan penuh keyakinan. Padahal jelas-jelas papannya bertuliskan nama Malioboro yang terbaca jelas.

Ngeblog juga gitu, perlahan-lahan orang diajak untuk mencurahkan isi hatinya melalui tulisan. Perlahan-lahan orang digeser dari budaya bicara kepada budaya menulis. Banyak deh sekarang penulis-penulis blog yang karyanya dibukukan. Terbuka deh kemungkinan lahirnya penulis besar zaman revolusi teknologi yang mungkin dapat disejajarkan dengan pujangga-pujangga Indonesia jadul.

Ada teman blogger yang baru mulai ngeblog. Gaya bahasanya nyenengin, seger dan sedikit narsis. Salut juga ama dia, yang di tengah berbagai kesibukannya masih ngeblog. Nah, generasi muda kayak gini kan menimba banyak manfaat dari ngeblog. Pasti lancar nanti pas bikin skripsi karena udah terbiasa nulis. Yang nggak boleh lupa, dib log tuh sah-sah aja mau narsis dikit, wong namanya juga diary online. Tiap blog punya penggemarnya sendiri-sendiri, jadi ada gunanya mencurahkan isi hati tanpa mengabaikan undang-undang IT yang baru keluar. Ngenes deh kalo gara-gara ngeblog kita icip-icip melihat dunia dari balik jeruji. Nggak banget deh.

So, let’s blogging. Go blog, pake spasi lho…, bukan goblog tanpa spasi! Ha…ha…ha…