Tadi pagi, anak kami bangun dengan wajah berseri-seri, karena dia ulang tahun hari ini. Selesai beres-beres buku dan alat-alat gambarnya, kami pun berdoa, gini bunyinya:
Tuhan Yesus terima kasih karena hari ini Jessie ulang tahun yang kesembilan,
Jadikanlah dia anak yang mencintai Engkau,
dan mampukan kami orangtuanya untuk membimbingnya menjadi anak yang baik.
Juga karuniakan kerajinan dan ketelitian....nggak kayak sekarang kalo belajar masih suka males dan kamarnya berantakan (Jessie mencubit kakiku, diaduin ke Tuhan).
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.
Kayaknya ini doa yang paling ger-geran deh. Jessie cekikikan melulu didoain begitu, padahal maknanya lumayan berat buat kami, soalnya ini anak unting-unting (dalam budaya Jawa, anak perempuan satu-satunya disebut unting-unting). Apalagi, karena di rumah hanya ada keluarga inti, makin lama makin serupa sama aku jadinya. Bagi yang udah lama kenal aku, udah kebayang kan nanti gedenya dia seperti apa, ha...ha...ha...
Eniwei, kami bersyukur dikaruniai Jessie. Emang sih kalo dia di rumah kami sering keberisikan karena tak pernah habis hal yang dikatakannya, tapi kalo dia lagi sekolah, aku yang sering keilangan. Kayaknya rumah jadi sepi tanpa Jessie. Kalo dia lagi ngeyel juga kadang-kadang kami cape ati, tapi ngeyelnya itu yang bikin kami harus pandai-pandai memutar otak supaya bisa masuk dalam frame of referencenya.
Kami juga berharap supaya doa yang terkandung dalam namanya bisa terwujud dalam hidupnya: "Ya Tuhan yang Maha Pemurah, jadikanlah aku anak yang kuat dan bijaksana" (Jessica Joanne Mahardhika).
Doa Ulang Tahun
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 11:13 AM 0 komentar
Label: Jessie
Pengalaman Baru
Sebulan yang lalu, aku, misua dan adik iparku berbincang-bincang soal pekerjaan sampingan, yang cocok untuk full time mom atau yang nggak mengganggu pekerjaan utama. Selama ketemuan keluarga itu, pembicaraan intensif dilakukan terus, di kolam renang, di lobby hotel, di mobil, di segala tempat deh. Maklum, ketemuan kayak gini bisa diitung pake jari, karena kerjaan misua repot sekali, jarang-jarang ada waktu senggang di Jakarta.
Pulang dari sana, yang termotivasi malah aku, tadinya sih aku cuman ngedengerin aja. Jadi, aku set up semuanya deh. Yang paling susah itu nentuin produk yang akan dipamerin di tokoku. Kalo kelengkapannya relatif mudah walau jalannya panjang.
Adalah suatu ketepatan. Pas ngumpul sama ibu-ibu waktu nungguin Jessie les tari, ada salah satu kawanku yang bercerita tentang usaha sampingannya di Yogya dan di Bondowoso. Barang Yogya dia jual ke Bondowoso dan sebaliknya. Tiba-tiba dia nyeletuk soal craft, bagaimana dia memaketkan berkarung-karung craft bolak-balik ke dua kota tersebut. Akhirnya, aku janjian deh sama dia ke suplier craft di desa pinggiran Yogya.
Selaen itu, aku teringat salah satu temanku yang memang punya sentuhan etnik di karya-karyanya. Aku ke rumahnya, ngomong sana sini, lalu dia mau jadi suplierku untuk home decor.
Aku merasa kedua jenis barang itu cukuplah untuk sementara, kecuali kalau ternyata bisa berkembang lebih jauh lagi, baru dicarikan suplier yang lainnya.
Kalo aku renung-renungkan kenapa mau mencoba hal baru ini, padahal kegiatan udah seabreg-abreg, ya karena curiousity itu. Nothing to loose kan kalo untuk mencoba. Semua kan made by order. Lagian, dari kegiatan ini aku juga bisa menabung untuk biaya kuliah semester depan. Semester ini aku hanya ambil satu mata kuliah karena untuk in reiyen setelah lama nggak masuk kampus. Kalo berhasil, semester depan bisa dua mata kuliah, dan itu berarti aku harus nyiapin sekitar tiga jutaan. Nah, jangan sampai asap dapur nggak ngebul karena ngeberatin biaya kuliah, jadi harus ada usaha lainnya.
Yang penting ada keseimbangan. Mudah-mudahan aku dimampukan Tuhan menyeimbangkan semua: keluarga, pelayanan, pekerjaan dan pengembangan diri.
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 8:01 AM 0 komentar
Label: Me
24Tahun Lalu
Kalo diinget-inget 24 taon lalu, aku menginjakkan kaki di Yogya. Begitu turun langsung nginep di Hotel Merdeka, sekarang Phoenix Hotel.
Soal kota sih aku nggak terlalu kaget, karena biasa pindah kota, soal bahasa bikin aku mabok waktu itu.
Mabok pertama tuh waktu beli makan di warung ijo Jl. C. Simanjuntak. Penjualnya tanya, "Pake ikan nggak, Mbak?" Spontan aku mencari-cari mana ikannya, karena di situ adanya aym goreng dan empal. Aku geleng-geleng, jadilah pagi itu aku makan sayur kacang ijo pedessss banget. Lama-lama, dari percakapan sehari-hari aku baru tau kalo yang dimaksud 'ikan' itu segala macam lauk yang berjenis daging. Mau ayam, may sapi, mau kambing, mau ikan beneran, semua disebut ikan. Hebring euy...
Mabok kedua kalo diterangin jalan pake arah mata angin. Wah, kalo ini aku mabok beneran. Abis orang-orang di Yogya kalo disuruh ulangan mata angin gitu, nilainya A+++ kali. Dengan pengetahuan yang kiri dan kanan, sekarang harus belajar mencerna mana barat, mana utara, mana timur, mana selatan. Kalo aku cari penjelasan kenapa sih nunjukin jalan koq pake barat timur segala, kan jadi pusying. Aku selalu dapet jawaban, "Supaya nggak perlu tanya jalan itu dilihat dari arah mana. Barat ya barat, dst.nya." Aku menikmati petunjuk arah ini setelah tiga tahun berdomisili di sini. Aku juga belajarin tuh barat timur dkk dalam bahasa Jawa. Tapi tau nggak, kalo ditanya mau ke mana sama pak parkir kantor pos di dekat sekolah anakku, amannya aku tunjuk aja arahnya. Jadilah si Bapak tersenyum-senyum maklum sama pengunjung setianya ini.
Mabok ketiga, soal rasa makanan. Wah, kalo ini jasa sambel botol amatlah besar. Aku kan jarang, nggak pernah malah, makan yang manis-manis, terutama sayur. Di sini sayur bayam (nama kerennya sayur bening) itu manis, sayur asem ya juga manis. Terpaksa aku membubuhi sambel botol biar ketelen. Lama-lama bisa menikmati juga sih. Cuman...kenapa kuah soto selalu cair dan bening, itu yang aku belum bisa nikmati sampai sekarang. Aku heran kalo ada yang seneng banget makan soto. Penyuka soto juga heran kali ya liat aku gak suka soto, ha3.
Dua minggu lalu, ada kawanku datang ke Yogya. Dia datang dari Padang. Suatu kali beli jajan ke pasar Kranggan. "Bu, ini apa namanya?"
"Getuk, Mbak."
"Kalau yang ini?" (sambil menunjuk penganan di sebelahnya)
"Podho, Mbak." (maksud ibu penjual ya sama saja getuk, mungkin berbeda warnanya)
"Ya sudah, beli getuknya satu, podhonya satu." (si ibu terbengong-bengong sambil tetap melayani kawanku ini). Di kemudian hari baru kawanku tahu bahwa podo itu artinya sama, bukan jenis atau nama penganan. Malunyaaa....
Ini termasuk culture shock kali ya? Tapi, abis shock itu terus jatuh cinta sama ketenangan Yogya, hingga 24 tahun kemudian, aku masih aja betah di sini.
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 10:22 AM 0 komentar
Label: Me
