Ketika aku lewat di daerah sekitar Giwangan, banyak lapak menjual lampion tradisional. Lampion itu bermacam-macam bentuknya. Rangkanya terbuat dari bilah-bilah bambu. Tangkainya terbuat dari batang bambu yang ujungnya dibuat berlubang untuk tempat lilin.
Jessie senang sekali aku belikan lampion itu. Aku memilih bentuk bintang, karena itu yang paling netral. Yang lain berbentuk bulan sabit, mesjid, kubah mesjid dan bentuk-bentuk keagamaan lainnya. Memang sejatinya lampion itu dipakai dalam arak-arakan malam takbiran. Hanya, aku suka bentuknya dan dengan membeli ini, aku mulai mengajarkan anakku menghargai keberbedaan.
Lampion itu masih ada sampai sekarang, dua tahun setelah aku membelikannya. Setiap dia lihat lampion itu, dia akan teringat jalan-jalan malam sekeliling Jl. K. H. Ahmad Dahlan melihat orang berbaris mengumandangkan kebesaran Sang Pencipta.
Harapanku sih anak kami ini tak akan gamang hidup di dunia yang penuh warna.
Kisah Sebuah Lampion
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 7:47 AM 0 komentar
Label: Sketsa Jiwa
Yogya at Night
Udah lama pengen ngajak Jessie ke alun-alun selatan, baru kesampaian tadi malam. Dari rumah kami menuju Malioboro, sampai di Km 0, ternyata banyak orang berdagang helm, kalau siang hari hal ini sih kayaknya gak ada, secara jarang banget lewat di sini.
Abis itu, masuk ke alun-alun utara tapi sepi, jadi aku belok kanan, mengikuti jalan itu sampai notok di Rotowijayan, melwati Gadri Resto, kami belok kanan, lalu belok kiri. Di sini dulu lokasinya Pasar Burung Ngasem. Karena pasar ini sudah direlokasi, dan lagipula malam hari, daerah ini menjadi sepi. Masih belok kiri, lalu belok kiri lagi di jalan Ngadisuryan. Naah... itu dia alun-alun selatan.
Walau bukan malam Minggu, tapi orang seliweran di sana. Di tengah lapangan ada lomba Masangin, berjalan dengan mata tertutup di antara dua pohon beringin. Penutup matanya bisa disewa dengan harga Rp 3000. Kami liat ada yang mencoba. Titik berangkatnya udah bener, dari tengah di antara kedua pohon beringin itu. Lama-lama dia makin ke kiri dan ke kiri. Pantesan jarang yang berhasil nembus.
Di teng
ah lapangan juga banyak orang bermain parasut warna-warni berkerlap-kerlip. Rasanya kayak di Yogya zaman duluuuu sekali. Lalu kami naik kereta kelinci. Sekali putar Rp 5000/orang, seru banget, ngelilingin alun-alun. Ternyata banyak yang buka lesehan, ada ronde, gudeg, pisang goreng, dll.nya. Selesai naik kereta kelinci, misua dan Jessie naik sepeda tandem, Rp 10000 untuk 4 kali putar alun-alun.
Aku sih ogah deh naek tandem, orang naek sepeda biasa aja oglak-oglek, apalagi tandem. kan susah nge-remnya karena rem nya harus berbarengan. Yang menambah kegembiraan Jessie karena semua sepeda tandemnya diberi lampu warna-warni, meriah sekali. Sebenernya Jessie masih pengen naek sepeda yang dikayuh berdampingan, seperti kalau naik bebek air, tapi udah pk 21.27, jadi kapan-kapan ke sini lagi.
Satu hal yang membuat kagum adalah karcis parkirnya resmi dikeluarkan Keraton Ngayogyakarta dengan harga Rp 3000, padahal tadinya udah pasrah bakal dipalak Rp 5000, ha...ha...ha...
It is a lovely night at Alun-alun S
elatan.
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 8:43 AM 0 komentar
Label: Jalan-jalan
Sate Klathak
Pertama kali aku diperkenalkan dengan sate jenis ini oleh temannya temanku, lebaran tahun lalu. Waktu itu kami pergi siang-siang dan perjalanan terasa amat jauh. Karena yakin akan mappingku, aku tak bertanya-tanya ke arah mana, yang aku ingat adalah ringroad parangtritis belok kiri lalu perempatan belok kanan. Perjalanan pertama ke sana akhirnya pake nyasar-nyasar.
Setelah itu aku menghafalkan landmarknya. Kalau dari arah kota Yogya, ambil rute menuju Parangtritis, yaitu Jl. Parangtritis. Begitu sampai di perempatan ringroad, belok kiri ke arah Imogiri. Perempatan lagi, belok kanan. Nah, ini jalan desa, agak jauh baru ada perempatan lagi. Papan petunjuk nya: ke kanan itu ke Rumah Budaya Tembi, ke kiri itu ke Pleret. Ambil jalan menuju Pleret. Di kiri kanan itu sawah, jalan terus sampai di kanan jalan ada gedung olahraga. Maju lagi, kira-kira 100 meteran, di kiri jalan itulah sate klathak Pak Pong.
Istimewanya, warung sate ini menghadap sawah hijau nan luas membentang. Jadi serasa berada di manaaa gitu. Lalu, karena nir suara televisi atau tape, terdengarlah suara sepeda dikayuh di kejauhan, saat seorang bapak melintas di teritisan sawah dengan sepedanya. Nuansa itu yang membuat kami sekeluarga sering menghabiskan minggu siang di sini.
Sate klathak itu tusuk satenya adalah jeruji sepeda, disajikan apa adanya.
Konon bumbunya hanya bawang merah dan garam, jadi rasa satenya ini gurih dan p
olosan, soalnya tak ada bumbu lainnya dan warnanya gak coklat bakaran. Mungkin karena tusuk satenya itu jeruji sepeda, jadi panas yang masuk ke dagingnya merata. Dagingnya jadi empuk dan sekian persen prengus kambingnya juga hilang. Kalau pesan harus dikatakan bahwa maunya sate klathak. Soalnya, kalau bilang sate kambing aja, ya dibuatkan sate biasa dengan tusuk sate bambu itu. Kami pernah kecele suatu siang waktu bilang sate kambing, yang datang bukan sate klathak. Terpaksa disantap, tapi dagingnya tak seenak kalau diklathak. Seporsi sate klathak itu Rp 10.000.
Ciri khas lainnya itu teh hangatnya.
Mantap, karena disajikan bersama dengan poci teh kaleng zadul, yang loreng-loreng hijau itu. Biasanya nasgitel, disajikan bersama dengan gula batu.
Lalu, kemarin malam, kami berdua mencoba sate klathak malam hari. Dari Pak Pong maju lagi, ada perempatan belok kanan. Persis di gang sebelah pasar ada papan petunjuk kecil: Sate klathak Pak Bari. Dia berjualan di dalam pasar. Bayangan kami dari rumah, pasarnya akan seheboh pasar Biru Maru di Donggala sana. Ternyata pasarnya bersih dan modern, udah dikeramik semua. Jadi, makan lesehan gitu terasa nyaman. Kalau di sini nasi putihnya diberi kuah gule. Tehnya juga sama enaknya. Kami makan 2 porsi sate klathak, 2 nasi putih dan 2 gelas teh habisnya Rp 16.000. Asyik kan?
Jadi, sate klathak siang, sate klathak malam, sama enaknya!
Diposkan oleh Mariani Sutanto di 4:16 PM 0 komentar
Label: Kuliner
