2026

Waktu kami sedang bersiap-siap pergi ke sekolah, aku nanya gini ke Jessie,

"Jess, baby taffelnya mau disimpan untuk anak Jessie nanti apa mau dijual?"

"Mom, aku ini punya anak paling cepet taon 2026. Kalo nanti sih langsung perintahin aja,'Popok!', dateng deh popoknya. Terus aku bilang lagi, 'Buka, pakein!' langsung deh popoknya dipakein ke bayiku. Jadi nggak perlu baby taffel-baby taffelan lagi."

"Nah, yang kamu perintah-perintah itu sejenis robot Jess, kalo nggak salah istilahnya droit deh."

"Kalo begitu Mami juga enak dong. Bisa merintahin bikin kopi, nggak perlu ngaduk-ngaduk lagi, tuang-tuang air panas, kayak sekarang."

"Oh, kalo itu sih kerjaannya autochef. Jadi kita nyediain bahan-bahannya, nanti dia bikinin kita makanan ato minuman, sesuai pesanan."

"Emang udah ada yang kayak begituan?"

"Belumlah, kira-kira 2058 baru mulai kali."

"Kirain udah ada, jadi enak, kalo mau nyalain lampu udah tinggal pake suara aja, lampu bisa nyala. Terus, nanti lampunya nyala semua?"

"Pakein kode aja Jess, misalnya, 'Lampu teras!' jadi yang nyala cuman lampu teras aja.

"Ooo..."

Khayalan kami keputus gara-gara jam udah menunjukkan pk 06.25. Jadi kami keluar dari 2026, kembali ke....barkas!

Anak Kecil

Sepanjang aku terjun di pelayanan, jarang sekali, bahkan nggak pernah aku menaruh perhatian pada pelayanan anak kecil. Selain karakter pribadiku dan rupaku yang kata banyak orang galak abizz, pelayanan ini menurutku sangat krusial. Melayani mahasiswa jauh lebih gampang dibanding mengajar anak sekolah Minggu memahami Alkitab. Jiwa mereka masih halus dan sangat rentan dimasuki paham-paham yang menyimpang dari kebenaran Alkitab.

Minggu lalu saat mengantar order kaos, guru sekolah minggu curhat. Katanya di pos itu dia hanya sendirian mengajar, nggak ada yang bantu, padahal yang hadir lebih dari 20 anak. Aku masih inquiry terus ke guru ini tentang sekolah minggu itu. Biasalah, kalau biasa wawancarain orang, bawaannya kan kepengen tau yang sebener-benernya. Dari hasil ngobs itu memang kondisinya menyedihkan.

Entah kenapa, tiba-tiba aja aku bisa nyeletuk untuk mencoba hadir dulu di sana dan melihat kondisi yang ada. Pikirku, nekat juga nih. Pengalaman mengajar anak sama sekali nol, kecuali mengajar Jessie, yang kata misuaku kayak pangkostrad mengajar anak buahnya, ha...ha...ha...!

Akhirnya aku datang mempelajari situasi minggu lalu. Asli, itu dunia yang asing samsek. Aku hanya bisa senyam-senyum melihat kelakuan anak-anak yang beraneka, kayak gado-gado gitu deh. Ada yang nguap, ada yang memandang kosong entah ke mana saat diajak bernyanyi, ada yang ngobrol sendiri, dll. Kesanku sih aku musti kuat-kuatin tekad kalo memang dibutuhkan di sini untuk terjun. Ceritanya aku ngernet dulu, baru bisa jadi sopir.

Hari ini aku datang ke sana. Anaknya cuma 3, berempat sama Jessie. Guru lain belum ada yang datang. Langsung otakku nyari-nyari stok permainan yang masih aku hafal. Syukurlah tak lama kemudian datang guru sepasang suami istri. Lalu berjalanlah sekolah minggu hari ini. Kali ini aku banyak merenung sambil mendengarkan rekanku mengajar, betapa perlunya aku menundukkan diri pada kuasa Ilahi agar bisa mengantarkan anak-anak ini mengenal Tuhan Yesus. Betapa pentingnya juga aku memiliki hubungan yang intim dan mesra dengan Tuhanku, supaya anak-anak ini juga tahu gimana mengalami Tuhan di dalam kehidupannya. Banyaklah yang harus aku perbaiki di dalam spiritualitasku.

Bukannya anak-anak yang belajar dari aku, malah aku yang lebih dulu belajar dari ketulusan mereka, ketaatan mereka dan kesetiaan mereka. New adventure...

Izin Lagi?

Perasaan belum pernah deh hari-hari or bulan-bulan di awal tahun aku serepot ini. Dalam dua bulan ini aku sudah dua kali pelayanan ke luar kota. Aku sih seneng-seneng aja, namanya juga jalan-jalan, ha...ha...ha...

Pertama kali aku ke Magelang, karena ada pertemuan para ketua klasis dengan anak-anak bimbinganku. Mau nggak mau aku harus hadir, kalo nggak siapa yang akan memberi penjelasan? Data semua ada di tempatku secara aku seneng catat mencatat a.k.a. carik eh sekretaris.

Kedua kali aku ke Salatiga. Ini baru dilakukan besok, jadi kemarin aku menuliskan surat lagi ke gurunya Jessie. Begitu lihat Jessie bawa amplop putih panjang, gurunya langsung berujar, "Izin lagi Jess?" Senyam-senyum anakku menjawab, "Iya Pak, hari Kamis."

Memang sejarah anakku ikut rapat bersamaku cukup unik, dan di tempat aku melayani anak juga boleh hadir. Kalo ibu-ibu melayani dan dia punya buntut, buntutnya harus diperhitungkan. Itulah enaknya jadi ibu, he...he...he.... . Kali buat yang melayani sama ibu-ibu bisa senep juga kalau di tengah-tengah rapat sang anak minta ditemenin pup, haks! Dari usia 4 bulan Jessie udah ikut rapat. Aku udah nyiapin tuh semuanya. Perutnya nyaman, jadi gak bakal dia pup di pampersnya, waktu itu. Begitu diletakkan di atas meja, dia bermain-main dengan maenannya yang macem-macem bunyinya, sementara aku mencatat jalannya rapat. Setelah besar dia udah nggak mau disuruh bermain-main atau membaca-baca, tapi maunya bantuin mommynya!! Mulai dari nempelin foto para mahasiswa, nyeklekin file, ngingetin wajah kakak-kakaknya karena mommynya pelupa abis, sampai berbagai pekerjaan asisten kecil. Kadang-kadang sampe bantuin bendahara komisi ngaturin snack dan minum buat tamu-tamu rapat, ha...ha...ha...

Begitu masuk sekolah, izinlah dia nggak sekolah kalo aku rapat. Setiap tahun mesti dia izin beberapa hari. Akibatnya, dia harus mengejar ketinggalannya dengan belajar ekstra. Karena keseringan ikut rapat dia jadi cepat menangkap pembicaraan orang dewasa, moga-moga kau tak dewasa sebelum waktunya, Nak.

Syukurlah, tahun ini uan SD berlangsung pada saat aku harus melakukan psikotes selama 3 hari, jadi izinnya nggak kebanyakan. Aku juga jaga-jaga, kalo nggak terpaksa sekali, tak perlulah aku berangkat ke luar kota. Mendingan nggak tidur seharian nyiapin data buat ketuaku, daripada ke luar kota, ha...ha...ha...