Dissappeared

Di Yogya ini banyak usaha kecil-kecil yang entah bagaimana bisa menghidupi dirinya. Mulai dari usaha jasa kayak aku sampe outlet rosok. Yang paling banyak memang usaha makanan. Kata orang, buka usaha makanan itu kayak nambang emas. Pasti banyak pembelinya, pasti laris, pasti menghasilkan. Kalo nggak punya warung permanent, ya getok tular, dari mulut ke mulut.

Namun, kenyataannya nggak selalu begitu. Yang lenyap juga banyak. Kurun waktu setengah tahun ke belakang, ada satu warung yamie ayam yang tutup, padahal lokasinya nggak jauh dari jalan besar.

Yang bikin aku lumayan gelo, sedih, kasihan dan berbagai perasaan tak enak lainnya adalah seorang ibu dengan 2 anaknya yang masih kecil, yang buka warung makan di emperan toko. Lokasinya di Jl. Magelang, dekat sekali dengan gang rumahku. Kadang-kadang aku makan atau beli di dia. Aku juga nggak tau namanya, hanya sebagai ibu yang juga mencari nafkah, aku iba melihat anak-anaknya dibawa ke sana untuk ikut berjualan. Kalo di toko yang mapan sih nggak heran, tapi ini di emperan toko. Kadang-kadang anaknya bawa buku pelajaran. Makanan yang dijualnya sangat spesifik, makanan rumah B2. Ada iga bakar, sayur asin, B2 kecap, dll home cook.

Karena aku sekarang jarang makan di luar, jadi nggak memperhatikan lagi gimana jualan si ibu tadi. Dua hari lalu, tiba-tiba koq aku pengen ngelongok tempat jualannya. Dissapeared!!! Udah nggak berbekas. Emperan itu sekarang sepi dan gelap. Yaah…, hilang deh salah satu langgananku. Dia emang bukan siapa-siapaku, namanya pun aku nggak tau, tapi tutupnya sebuah tempat usaha, cukup mengenaskan bagi aku. Zaman susah sih.

Moga-moga aja dia bertahan dan bisa buka lagi usaha lainnya yang lebih menjanjikan.

0 komentar: