Diglot

Ulang tahun kali ini ada hadiah istimewa dari sahabat keluarga kami, sebuah Alkitab diglot. Kado ini seakan mengukuhkan keseriusanku untuk memelajari teologi.

Jangankan orang lain, bapakku aja bingung waktu aku beritahu kalau sekarang aku kuliah teologi. "Emang mau jadi pendeta, kuliah koq teologi?" Nadanya biasa lah, agak-agak bernuansa kolong walau udah purna bakti sekian tahun lalu.

Pertanyaan kenapa itu yang terus mengikutiku setelah aku mendengar khotbah Pdt. Rudy Budiman di GKI Taman Cibunut, hampir seperempat abad silam. Waktu aku cerita ke Papa kalo mau masuk teologi, Papa nggak bisa tidur. Beliau berpendapat teologi itu ilmu abstrak dan nggak bisa buat hidup. Lalu aku disarankan masuk ke fakultas yang agak-agak mirip teologi. Jadilah aku ke psikologi.

Tahun-tahun berlalu, tapi keinginan itu terus bercokol di dalam hati. Sampai, aku berani menuliskan resolusi tahun 2006 untuk sekolah theologia. Tapi, setelah menulis resolusi itu, hambatannya makin menjadi-jadi, mulai dari biaya, waktu, multiple task sampai niat.

Tahun ini, aku dapat cukup banyak dividen usaha, yang cukup untuk biaya kuliah satu matkul satu semester. Cepet-cepet deh aku mendaftarkan diri dan melunasinya. Biasa ibu-ibu, ada uang sedikit larinya ke seprei apa kuali, ha...ha...ha...! Jadilah aku kuliah lagi.

Nah, di ulang tahunku ke 43 ini aku dihadiahkan Alkitab dwi bahasa: Indonesia - Ibrani. Bacanya aja kayak buku Jepang, dari belakang. Lalu bahasa Ibrani dibaca dari kanan ke kiri, seperti bahasa Arab. Cuman aku belum ambil tuh matkul Ibrani, paling aku deketin dulu aja dosennya, supaya dikasih kunci-kunci untuk mengetahui huruf dan tulisannya.

Resolusi 2006 terwujudkan di 2009. Sekarang, aku mau bertekad ah supaya selesai di tahun 2016, pas di ultahku ke-50. Semoga dikabulkan ya?

0 comments: