C.C.K.

Kalo aku yang suruh baca singkatan di atas, langsung aku teringat pelajaran bahasa Jawanya Jessie, isenana cecek-cecek ing ngisor iki…, yang artinya isilah titik-titik di bawah ini.

Tapi bukan itu, ternyata. Itu singkatan sebuah klub yang didirikan oleh kakak angkatannya Jessie, kependekan dari klub Cewek-Cewek Keren. Nggak maen-maen rupanya, ada syaratnya: musti bisa cipta lagu, ada cowok yang naksir kamu diam-diam, dan bisa main alat musik.

Buset dah, ini anak kelas 4 SD. Udah kebayang deh dunia remaja kayak apa. Dan, peminat C.C.K. banyak lhoh. Mereka berebutan menunjukkan lagu hasil ciptaannya, terus kalo istirahat senyam-senyum sama anak laki-laki yang menurutnya naksir dia. Kali kalo zamannya aku dulu, cewek begini nih udah dipandang sebelah mata kali. Zaman sekarang, cewek gini malah disanjung sebagai cewek kreatif dan gaul.

Aku cuma bisa geleng-geleng liat trend anak zaman sekarang. Pengaruh tv gedhe banget. Lhah, anak sekecil itu bikin gang yang syaratnya seperti mau ikut idola cilik aja, ha…ha…ha….! Tapi yang bikin aku prihatin itu karena anak sekarang cenderung mengabaikan yang namanya proses, semua serba instant dan semua menuju kea rah keterkenalan yang jadi dambaan semua orang. Apa jadinya kalau mereka masuk lab, atau mengamati pertumbuhan padi, atau belajar bikin kue??? Bisa-bisa padinya dicabut sedikit akarnya, supaya keesokan harinya padi udah tumbuh besar. Mending-mending hasilnya begitu, kan malah mati, he…he…he…

0 komentar: